Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Rasulullah SAW, Teladan di Jalan Meraih Sukses

Rasulullah SAW, Teladan di Jalan Meraih Sukses

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sahabat-sahabatku sekalian, mari mampir sejenak untuk merenungkan; siapakah sebenarnya yang layak kita jadikan teladan di jalan meraih kesuksesan dan mengapa kita memilihnya menjadi teladan. Mudah-mudahan, usaha kita untuk mengejar kesuksesan semakin bertambah dekat dengan pertolongan Allah SWT.

Firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an;

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan (pertemuan) dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Sahabat-sahabat sekalian, keteladanan yang ada pada diri Rasulullah saw itu melekat pada setiap sisi kehidupan kita. Ketika beribadah, kita meneladani Rasulullah. Sebagaimana kata Rasulullah, misalnya, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!” Ketika bermuamalah (berinteraksi dengan orang lain), kita juga meneladani Rasulullah. Ketika berbisnis, kita meneladani Rasulullah. Ketika diangkat menjadi pemimpin, kita pun harus meneladani Rasulullah. Singkatnya, seharusnya kita hidup sebagaimana Rasulullah saw hidup.

Barangkali, ada banyak orang yang menjadikan artis-artis, penulis terkenal, penyanyi populer, dan tokoh-tokoh lainnya sebagai teladan dalam kehidupannya, mereka mengikuti sosok teladan mereka itu sebagai ikutan dalam setiap hal; gaya hidup, model pakaian, dan sebagainya. Mereka pun merasa cukup dengan itu. Sekilas, seakan-akan tidak ada masalah dalam hal ini. Namun, sebagai manusia yang mampu berpikir dengan akal dan bisa menimbang dengan hati, seharusnya kita mencari jalan terbaik.

Kita memang bisa meneladani siapa saja yang kita anggap baik, tapi hendaknya kita merenungkan apakah tidak ada teladan lain yang lebih layak untuk kita ikuti. Sebab, penilaian manusia itu rentan salah dan keliru. Kita harus berhati-hati, salah menilai akan menyebabkan kita melewati jalan yang salah. Kelak, kita pun akan menyesal karena telah terlalu jauh menempuh jalan yang keliru.

Sahabat-sahabat sekalian, mari kembali melihat ayat di atas. Simaklah, kata Allah, “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik.” Ini artinya Allah ta’ala mengetahui kecenderungan kita—sebagai manusia—salah satunya adalah mengangumi dan meneladani. Maka, Allah menyatakan secara tegas, bahwa keteladanan itu bagi kita hanya layak disematkan kepada Rasulullah saw. Tidak hanya itu, Rasulullah saw pun kerap mengulang-ulang hadits, “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku.”

Sahabatku, jika Allah telah memilihkan bagi kita seorang teladan, maka ketahuilah tidak akan pernah ada lagi teladan yang lebih baik dibanding orang yang telah dipilihkan oleh Allah tersebut. Ini kepastian!

Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah melihat pada hamba-hamba-Nya, maka Allah mendapatkan bahwa sebaik-baik hamba adalah Muhammad saw. Allah memilihnya untuk diri-Nya dan membawa risalah-Nya untuk manusia. Lalu Allah melihat pada hamba-hamba-Nya selain Muhammad saw, lalu Allah mendapati bahwa hamba-hamba yang terbaik itu adalah para sahabat, maka Allah menjadikan mereka menjadi pelindung rasul-Nya.”

Maka, sahabat-sahabat sekalian, apabila kita merindukan kesuksesan, haruslah kita sadari bahwa kesuksesan sejati itu adalah kesuksesan yang didapatkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Jalan yang mereka lalui itu adalah jalan yang menghantarkan kepada kesuksesan sejati. Setiap lelah dan payah yang mereka hadapi adalah rintangan-rintangan di jalan meraih kesuksesan sejati.

Mungkin memang masih banyak di antara kita yang salah kaprah mengartikan kesuksesan. Kita menganggap bahwa kesuksesan itu adalah berlimpahnya materi, membumbungnya popularitas, mewahnya kehidupan, dan keindahan duniawi lainnya. Padahal, ini adalah kesuksesan semu. Seandainya semua itu layak untuk dijadikan tujuan, maka pastilah Allah akan memberikan semua itu kepada Rasulullah saw. Allah Maha Bisa untuk melakukan itu. Tetapi, ternyata kenyataannya tidak begitu. Bisalah kita ambil pelajaran; sukses itu bukan diukur dari apa yang kita punya, tapi apa yang kita kontribusikan dalam kehidupan kita.

Rasulullah pun mengatakan, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang banyak.”

Sahabat-sahabat sekalian, siapakah yang mampu melihat bahwa keteladanan sejati itu ada pada Rasulullah—bukan pada yang lainnya?

Mari kita simak penggal terakhir firman Allah di muka, “…(yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan (pertemuan) dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

            Siapakah orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir, serta banyak mengingat Allah? Ketahuilah sahabatku, mereka adalah orang yang telah mengucapkan kalimat “Laa Ilaaha Illallaah”!

            Ketika kita mengucapkan bahwa tidak ada “Ilaah” selain Allah, maka itu artinya kita telah menyatakan secara tegas bahwa tidak ada Tuhan yang kita sembah, tidak ada Tuhan yang kita cintai, tidak ada Tuhan yang kita taati, dan tidak ada Tuhan yang kita rindukan, SELAIN Allah ‘azza wa jalla.

Sahabat-sahabatku sekalian, marilah meneladani Rasulullah saw semampu kita dalam hal apa pun yang kita lakukan. Terutama, ketika kita berlari di jalan meraih kesuksesan untuk menggapai sukses sejati; sukses di dunia, sukses di akhirat. Insya Allah. Allahu Akbar!

Ya Allah, mudahkan langkah kami, berikan kami pertolongan, ikat hati kami untuk terus berusaha menjadi hamba-Mu yang shalih, menjadi hamba-Mu yang mencintai jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, menjadi hamba-Mu yang sukses dalam kehidupannya, dan menjadi hamba-Mu yang kelak bertempat di surga-Mu.

            Amiin.

 

*Tulisan ini terinspirasi dari Buku Motivasi Islami; “Beginilah Sang Pemenang Meraih Sukses [Quanta (Elex Media Komputindo); 2014].”

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Ilustrasi. (christaavampato.com)

Dakwah yang Patut Diteladani