Home / Narasi Islam / Politik / Politik, Ladang Amal di Antara Pujaan dan Celaan

Politik, Ladang Amal di Antara Pujaan dan Celaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

Tanggapan Atas Kritik dan Celaan Terhadap Dai yang Berpolitik

dakwatuna.com – “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163)

Ayat di atas memiliki makna tauhid yang begitu dalam. Setiap muslim yang memahami dengan yakin ayat ini maka dalam setiap gerak kehidupannya senantiasa memiliki tujuan ilallaah (Allahu ghoyatuna). Islam adalah agama yang syumul (sempurna), mustahil bagi Islam bila tidak kompatibel dengan aspek-aspek kehidupan manusia. Mulai dari tempat tidur hingga ke ruang-ruang kerja, mulai dari urusan buang air kecil hingga urusan ke pelaminan, mulai dari ekonomi, militer, sosial, budaya, pendidikan, dan tentu saja politik, Islam layak dihadirkan sebagai pedoman nilai asasi bagi seorang muslim. Betapa sempurnanya ajaran agama ini hingga sorang imuwan besar barat harus menulis dalam bukunya: “The future religion of educated, cultured and enlightened people will be Islam” (George Bernard Shaw).

Penolakan tegas terhadap sikap yang memisahkan antara kehidupan dunia dan agama (sekularisasi) terkandung nyata dalam ayat tersebut. Kompartementalisasi atau pemisahan bagian yang menjadi ruh pemikiran sekularisme menganggap kompartemen duniawi tidak menyatu dengan kompartemen ukhrowi, padahal kedua kehidupan itu memiliki hubungan yang erat. Apa yang kita lakukan di dunia akan memperoleh ganjarannya di akhirat. Nabi bersabda: “Dunia adalah sawah ladangnya akhirat”, artinya apa yang kita lakukan di dunia, akan kita petik hasilnya di akhirat kelak.

Demikian halnya politik, tak boleh dibiarkan berbenturan dengan nilai-nilai ke-ilahi-an. Politik adalah sarana efektif dalam rangka menegakkan aturan-aturan ketuhanan. Politik sebagai alat dakwah harus menunjang rekonstruksi masyarakat berdasarkan ajaran-ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin. Rekonstruksi masyarakat itu dapat dilakukan dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, ilmu-teknologi dan tentu saja dalam bidang politik itu sendiri. Gerak kehidupan kita di berbagai aspek sangat dipengaruhi oleh kondisi politik. Siapa yang mendominasinya, maka dialah pengendalinya. Berpolitik dalam rangka menjalankan misi dakwah dan bukan berdakwah untuk mengejar kepentingan politik. Itu kewajiban mutlak!

Ladang Amal Itu Adalah Siyasah

Ketika sekumpulan orang dengan cita-cita yang sama hendak mengorganisir langkah perjuangan mereka dengan berbagai ijtihad yang mereka yakini dapat memberi (meski belum seberapa) bagi kembalinya kehormatan agama, maka mereka ibarat bahan baku yang menjadi bagian nyata dari bangunan agamanya. Bila ada bahan baku yang bermasalah, maka harus diperbaiki, dikuatkan atau diganti dengan yang lain. Mereka memahami keterbatasan mereka hingga harus benar-benar secara efektif dapat mengeksplorasi potensi-potensi individu untuk dapat diarahkan dan menggerakkan. Sedangkan kedudukan, kekuasaan, dan materi sebagai efek perjuangan adalah sekadar wasilah atau sarana yang harus terus diberdayakan untuk mengantarkan perjuangan menuju pada tujuan meninggikan kalimat Allah.

Namun jika sebuah cita-cita itu masih terus terjebak dalam pikiran dan kata-kata, maka konsep dan teori sehebat apapun tidak akan berarti sama sekali bagi bangunan agamanya. Ibarat bahan mentah yang terus berada di tempatnya, menjadi sampah, membusuk, dan akhirnya usang bersama jiwa pemiliknya. Konsep al-harakah (pergerakan) memastikan setiap potensi yang dimiliki baik materil dan non materil, waktu, tenaga, pikiran, harta benda dan jiwa terberdayakan secara sinergis bagi tujuan yang dicita-citakan.

Mengapa Politik?

Politik itu ibarat panglima. Para pengendalinya memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Nah, jika mereka yang hanya segelintir saja dapat bekerja pada medan juang strategis ini, mengapa kita sebagai komponen bangsa yang memiliki segmentasi masyarakat terbesar di negeri ini tidak mengambil bagiannya? Politik hanyalah satu di antara sekian banyak wasilah yang dapat meneguhkan tujuan-tujuan dakwah. Namun sedemikan pentingnya urusan ini, politik sangat menentukan corak sosial, ekonomi, budaya, hukum, pendidikan dan berbagai aspek kehidupan lainnya dalam masyarakat modern sehingga harus menjadi bagian dari urusan ummat.

Sebelum meninggalkan medan juang ini suatu saat nanti untuk memenuhi keinginan para pencela, maka kami akan memastikan dulu bahwa siyasah ‘ammah telah berjalan di atas prinsip yang tidak bertentangan dengan aturan Islam dan kepentingan ummat. Siyasah syar’iyyah hadir bukan sekadar memberi warna, tapi juga menjamin kenyamanan kita dalam beribadah. Setiap lini pelaksanaan negara baik eksekutif, legislatif, dan yudikatif bisa dipastikan prakteknya tidak akan memberi kerugian terhadap umat apalagi dijadikan sebagai alat penekan dan penindasan.

Pengertian yang sebenarnya mengenai politik dalam Islam akan membawa pada keteguhan gerak dalam menghadapi segala mihnah yang menghadang. Memahami bahwa siyasah atau politik adalah sebuah wasilah untuk meneguhkan tujuan-tujuan dakwah. Sehingga politik kotor adalah persoalan mental pelaku, dan bukan strategi perjuangan.

Kami tidak sedang memperdagangkan simbol-simbol, karena bagi kami simbol hanyalah tanda untuk membedakan kami dengan mereka. Jika ada pendapat berbeda maka itu adalah tuduhan dan penilaian orang itu sendiri. Sekarangpun kami tidak layak memperjual-belikan citra, karena hal itupun telah dikoyak. Kini kami hanya bisa mengandalkan cinta dan kerja. Agama ini bukan hanya milik satu atau segelintir orang. Kami yakin banyak yang bekerja untuk agama ini. Kami merasa wajib bersama yang lainnya memperjuangkannya walau dengan pilihan metode yang berbeda. Kami ingin mengambil bagian pada wilayah ini.

Dakwah yang dipahami oleh para aktivisnya tidak hanya sebatas retorika di atas mimbar jumat, ceramah sana-sini, kuliah subuh, safari dakwah, seminar dan diskusi di ruang-ruang kuliah serta tulisan ilmiah di kolom-kolom media. Dakwah itu mencakup kepahaman dan keyakinan yang utuh tentang jalan yang ditempuhnya, juga mencakup kesinambungan amal perbuatan (amal mutawassil) yang akan terus meneguhkan kedudukannya di jalan perjuangan.

Betapa beratnya menghadapi pertarungan yang dipenuhi oleh makar. Betapa susahnya mempertahankan prinsip ideologi ini di tengah makin gencarnya arus liberalisme dan sekularisme yang meyelusup ke dalam pikiran saudara-saudara se-iman. Betapa letihnya bertahan pada tradisi yang diyakini ini di tengah kencangnya badai westernisasi yang terus menggilas orang-orang yang dicintai. Mulai dari sahabat karib, tetangga, keluarga dekat, bahkan hingga anak-anakpun menjadi korban perang non-fisik ini.

Entah apalagi yang akan terjadi pada mereka bila tiada lagi yang concern mengawal dan melindungi kepentingan dan kehormatan umat. Walau usaha mereka terlalu kecil di mata para pencela itu, maka setidaknya sebagian kecil dari kepentingan umat ini telah dan sedang diperjuangkan. Inilah yang sedikit itu:

  • Undang – undang Sisdiknas
  • Undang – undang Perbankan Syariah
  • Undang – undang Jaminan Produk Halal
  • Undang – undang Polri (poin tentang Polwan berjilbab)
  • Jumlah pengembalian uang gratifikasi tertinggi ke KPK.
  • Dan usaha-usaha lainnya yang diperjuangkan melalui wasilah berupa jabatan kementerian dan kepemimpinan daerah yang diamanahkan kepada mereka yang tidak perlu lagi disebutkan. Segala usaha itu telah dipastikan insya Allah tidak akan mengganggu umat agama lain. Namun, masih ada saja yang memandang dengan sinisme dan sikap penolakan.

Bila para pencela itu dapat meyakinkan kami terlindunginya kepentingan dan kehormatan umat di negeri ini, maka kami siap membubarkan barisan ini, atau bila para pencela itu dapat menunjukkan ikhtiar nyata dan sungguh-sungguh bagi kepentingan ummat ini, maka kami siap membersamai mereka bila seandainya ladang garapan amal tak dapat dipertukarkan.

Ketika medan jihadiyyah hanya menyediakan beberapa ruang amal, maka jalan yang kami tempuh ini adalah pilihan berdasarkan apa yang kami pahami. Pada jalan inilah kami merasakan pahit getir melawan batil, bertahan dari berbagai makar dan permusuhan, berperang melawan fitnah dan opini sesat, mewaspadai konspirasi, menghadapi tekanan, celaan, dan sumpah serapah dari manusia-manusia berkelas hingga rakyat jelata. Itulah tantangan-tantangan yang tidak kami peroleh di tempat-tempat shalat kami dan tidak akan pernah kami alami jika diri ini hanya terus berkutat dan berdiam diri di rumah dan ruang-ruang kerja kami yang sejuk. Rasulullah sendiripun mendistribusikan lebih dari separuh aktivitasnya justeru di luar mesjid karena di sanalah perjuangan nyata dan sesungguhnya.

Jalan ini mengajarkan kami tentang kesabaran dan kerja keras yang tidak hanya sekadar bermodalkan militansi buta, namun karena jalan ini menuntut sikap jiddiyyah (keseriusan) dan mujahadah (kesungguhan) dalam berjuang.

Tabiat Jalan Dakwah yang Harus Dipahami Oleh Pejuangnya

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS al-Ankabut: 2-3).

Setiap jalan perjuangan memiliki ri’ayah yang juga boleh diistilahkan dengan seleksi alam untuk menaikkan kelas atau untuk memisahkan antara yang baik dan tidak baik atau untuk mengeluarkan yang kotor dari sekumpulan yang bersih. Jalan perjuangan dakwahpun memiliki tabiat itu. Inilah di antaranya:

Mihnah atau tribulasi, Itulah cobaan berupa bencana. Penolakan keras manusia, pengejaran, penindasan, penyiksaan bahkan pembunuhan adalah resiko yang dihadapi oleh para pejuang dan pendukungnya di masa silam, kini dan kelak di masa-masa mendatang. Ada yang bertahan dan ada yang terpental. Ada yang selamat dan ada yang berjatuhan di atas jalan ini. Patah tumbuh, hilang berganti. Pembela hari ini, boleh jadi besok adalah penentang paling keras. Begitulah tabiat jalan ini.

Harta, kedudukan, kehormatan, dan kesenangan dunia lainnya adalah ujian godaan terhadap syahwat. Siapa yang mengalaminya maka beresiko untuk tumbang, siapapun dia, meskipun seorang ‘abid yang menghabiskan waktunya untuk berzikir kepada Allah sepanjang malam, karena para pejuang dakwah bukanlah sekumpulan malaikat. Bila mereka tak berdosa lagi dan tak pernah berbuat salah maka pastilah orang-orang akan memberi panilaian yang berlebih-lebihan hingga mengarah pada pengkultusan yang menyesatkan. Ketahui pula bahwa syahwatlah yang menyebabkan seorang pejuang yang tadinya membela kini berpaling menjadi pencela.

Kebencian para pencela, permusuhan, penghinaan, hujatan, ejekan dan sumpah serapah akan menjadi sahabat paling akrab bagi para pejuangnya. Bila ada pejuang dakwah yang membalasnya dengan cara yang sama maka itulah mereka yang tercerabut dari sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim. Sungguh bagi mereka yang berdiri pada barisan para pencela, kami hanya doa kebaikan dan hidayah kepada mereka.

Semua perkara di atas adalah keniscayaan di atas jalan para pejuang. Jalan ini tidak ditaburi bunga-bunga harum, tetapi merupakan jalan sukar dan panjang. Sebab antara hak dan bathil ada pertentangan yang nyata. Begitu pula antara para penggerak kebaikan dan para pencelanya ada perbedaan sikap yang tajam. Jalan perjuangan ini memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul beban berat. Jalan ini memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera. Semuanya diserahkan kepada Allah. Bahkan para pejuang barangkali tidak akan pernah menyaksikan hasilnya sampai ajal menjemput mereka. Sebaliknya bagi para pejuangnya akan bertemu dengan para pemusnahnya, para penghalangnya, dan para pencelanya. Itu adalah persoalan biasa yang selalu terjadi di masa silam, dan akan terus berulang di zaman ini.

Para Pejuang Dakwah yang Menyimpang

Memang benar-benar mengerikan bila dalam barisan para pejuang ini ada yang niatnya menyimpang karena dunia. Tercemarnya niat oleh tarikan dunia adalah sebuah kemusyrikan. Itu merupakan kejahatan aqidah. Ketika para pegiat dakwah telah memilih jalan berjuang dalam satu ‘perkumpulan’, maka jalan juang itu hanyalah wasilah yang menjadi pilihan mereka seperti kita memilih profesi kita sebagai guru, dosen atau profesi lainnya. Kemudian dari profesi itu kita menjalankan ‘uslub’ untuk menerapkan nilai-nilai keyakinan kita, entah karena kita digaji atau semata-mata karena ketulusan. Setiap pejuang bernagkat dengan membawa sebuah niat yang terpateri dalam hati mereka. Niat itu yang akan mejadi urusan pribadinya dengan Tuhan. Tidak siapapun pantas menilai isi hati mereka yang kelihatannya tulus bekerja karena hati-hati mereka tersimpan di balik dada mereka? Bukankah kita sendiripun sebenarnya tidak layak memberi penilaian bahkan terhadap hati kita sendiri ketika melakukan sebuah amal? Karena hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui setiap isi hati hamba-Nya. Karena iman ini, Saya dan barangkali juga Anda selalu memiliki rasa takut terhadap penyakit ria, sum’ah dan ‘ujub ketika kita beramal disaksikan oleh manusia. Tetapi haruskah kita meninggalkan amal itu padahal manusia-manusia yang menyaksikan itu kelak menjadi saksi kita di hadapan pengadilan Allah atas kebaikan yang kita lakukan dan bukankah rasa khawatir itu menjadi tanda hidupnya iman kita? Olehnya itu biarlah perkara hati ini menjadi hak Allah untuk menilainya. Dalam perkara niat dan amal maka mari mengambil pelajaran dari fenomena status facebook, seperti ini: ‘Indahnya bersujud di sepertiga malam-Mu’, ‘take-off kloter 13 memenuhi panggilan-Mu. Labbaik’, atau yang seperti ini, ‘Prepare naskah khutbah. Besok jumat bersama pak Walikota’. Lengkap dengan postingan foto (selfie)-nya lagi seolah ingin memperoleh pengakuan dari yang melihatnya bahwa yang bersangkutan adalah orang yang taat, calon peraih gelar, atau pengakuan sebagai orang hebat. Tidakkah terbersit sedikitpun rasa takut pada pemilik status-status seperti itu bahwa mereka akan dibanjiri ‘like’ dan pujian dan menimbulkan rasa senang di dalam hatinya hingga menjadi kabur baginya siapakah pemilik kemuliaan, apakah Allah atau dia? Bukankah lebih afdhol bila kita khawatir iman kita tak kebal terhadap ria maka setiap amal yang kita peruntukkan pada-Nya kita rahasiakan? Agar hati tidak tercemar oleh keinginan untuk mendapatkan pujian manusia dan pengakuan orang-orang. Karena sikap seperti itulah yang membuat pahala khutbahnya Ali bin Abu Thalib hilang seketika saat dia meminta pendapat seorang kakek terhadap khutbah yang dia sampaikan. Kakek yang sebenarnya adalah malaikat itu mengatakan: “Pahalamu sudah hilang ketika kau menanyakan ini kepadaku”. Ali kemudian tertegun dan menyesali apa yang diperbuatnya. Takutlah kepada Allah ketika di akhirat kelak kita membawa amal-amal tahajud, haji dan dakwah yang kita lakukan justeru Allah menolak kita dan mempersilahkan kita untuk meminta pahala amal tersebut kepada orang-orang yang dulu kita harapkan pujian, pengakuan, atau ‘like‘-nya.

Bila ada pejuang atau pendukung di jalan ini berbalik arah menjadi pencela, maka sesungguhnya itu sangat mengecewakan kami.

Bila ada pejuang atau pendukung jalan ini berubah menjadi penjahat, maka itu di luar kehendak dan kuasa kami.

Tak ada di antara kita yang sempurna. Kami sudah cukup merasa takut bila dosa ini semata-mata karena syahwat, dan berlindung dengan sungguh-sungguh bila dosa ini karena kesombongan kami, na’uudzu billahi min dzaalik!

Dari Sufyan ats-Tsauri RA:

Setiap maksiat yang timbul dari syahwat dapatlah diharapkan ampunannya, tetapi setiap dosa yang timbul dari sikap sombong tidak dapat diharapkan ampunannya; karena kedurhakaan iblis itu berpangkal dari kesombongannya, sedang kesalahan Adam As. berpangkal dari syahwat.

Manhaj atau sistem beserta aturan di jalan perjuangan ini telah ditetapkan. Prosesnya juga telah disusun, mulai dari tahapan ta’rif (pengenalan), takwin (pembentukan), dan tanfidz (pengorganisasian). Jalan ini mengharuskan kami untuk terus berjalan tanpa henti dan memikul beban-beban berupa tugas-tugas yang harus dijalankan. Apapun yang terjadi pada proses dan ikhtiar serta niat-niat kami itu maka sepenuhnya diserahkan kepada Allah dan kami selalu ber-husnuzhan pada setiap takdir-Nya. Man proposes, but God disposes.

Kami pun memahami hikmah yang terkandung dibalik ungkapan peribahasa ‘nila setitik merusak susu sebelanga’. Namun sekotor apapun penilaian orang terhadap kami maka tidak boleh menjadi alasan untuk menyurutkan langkah dan berputus asa. Karena para pejuang yang berbekal iman tidak boleh melanggar larangan Allah:

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS.Ali ‘Imran:139)

Allah juga memberi larangan dalam firman-Nya:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Kami tidak ingin mengajarkan umat menuduh sembarangan, apalagi serampangan. Bila ada sekelompok orang berjenggot dan bergamis menggorok leher musuh-musuh mereka karena menolak bergabung, maka kami akan tetap berprasangka baik terhadap orang-orang berjenggot lainnya. Bila ada seorang bernama ‘Abdullah’ dituduh meledakkan bom, maka kami akan tetap berprasangka baik terhadap setiap muslim. Tindakan yang tidak elegan ketika kita menangkap pelaku zina atau pembunuh yang beragama Islam, kemudian kita menumpahkan kebencian kita kepada semua orang Islam. Sikap meng-generalisir adalah sikap yang keliru dan merupakan sebuah kebodohan emosional.

Bila ada seorang pejuang di jalan ini telah lalai dari tugasnya kemudian tertuduh sebagai koruptor, dan bila kalian meyakininya dengan akal sehat, bukan dengan opini sesat, maka hitunglah berapa jumlah uang yang hilang dari kas negara. Jika sudah menemukan angkanya, sampaikanlah! Kami akan mengganti yang hilang itu 2 kali lipat sebagai bentuk penyesalan, dan kami akan memberi anda 3 kali lebih besar dari itu sebagai ucapan terima kasih khusus kepada Anda. 1 milyar atau 1000 rupiah pun akan kami lipatgandakan dan kami akan tetap mengantarkannya ke rumah anda. Ini serius! Silahkan Anda menghitungnya.

Bagi mereka yang apatis, biarkan saja kami bekerja, saksikan dan nikmati saja.

Bagi saudaraku yang telah berpaling…, kembalilah… kami masih merindukanmu dan terus mendoakanmu.

Bagi yang terus mencela, sesungguhnya kami hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah khilaf.

Maafkan kami…

Inilah jalan kami…

Bila anda merasa cocok dengan pilihan jalan ini, maka dukunglah…

Bila Anda melihat kami tidak bersungguh-sungguh atau bila tindakan kami telah menyimpang maka peringatkanlah dan beri kami motivasi, bukan celaan…

Bila anda bertambah benci dengan kami atau dengan apa yang kami tempuh ini, maka izinkanlah kami untuk tetap menjadi saudara Anda dalam iman dan Islam.

Bila Anda masih tidak puas juga maka ‘diamlah’, jangan ganggu kami dan biarkan kami bekerja dengan kayakinan kami, lanaa a’maalunaa walakum a’maalukum. ‘Diam’ anda, bagi kami adalah kontribusi tertinggi bagi jalan juang kami.

Beginilah jalan perjuangan ini mengajari kami mempersiapkan kematian yang pasti terjadi.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nanang Masaudi, S.Pd
Guru Madrasah

Lihat Juga

Konflik Peradaban dan Kebijakan Politik Barat