Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berqurban, Antara Kemampuan dan Kemauan

Berqurban, Antara Kemampuan dan Kemauan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Selama beberapa hari ini jutaan manusia di seantero bumi meneriakkan takbir, tahlil dan tahmid merayakan hari besar umat Islam yakni Iedul Adha 1435 H, pekik takbir saling bersahutan antar masjid satu sama lain diikuti penyembeilhan hewan qurban keesokan harinya berupa sapi, kambing dan domba sebagaimana lazimnya bangsa Indonesia. Di tempat tinggal kami Alhamdulillah penyembelihan hewan qurban tahun ini bisa dibilang lebih, satu dusun yang terdiri dari sebelas RT semuanya mendapat jatah daging qurban bahkan sampai diberikan ke dusun sebelah. Ada harapan agar tahun ini penyembelihan hewan qurban bisa terpusat di Masjid tingkat dusun namun sepertinya belum bisa dilaksanakan karena ada satu mushalla yang juga ingin menyembelih sendiri, tapi dengan komunikasi yang baik distribusi daging qurban bisa merata tanpa tumpang tindih, jika tidak terpusat di satu tempat biasanya akan terjadi tumpang tindih terhadap penerima yaitu ada yang mendapat daging qurban lebih namun di sisi lain ada yang tidak merasakan daging qurban.

Lain halnya di desa sebelah, sejak beberapa tahun lalu acapkali penulis bertanya apakah ada penyembelihan hewan qurban di sini jawabannya selalu tidak ada, yang ada hanya korban perasaan, padahal dilihat dari kondisi ekonominya sebenarnya di tempat itu tidak terlalu miskin dan relatif sama dengan desa sekitarnya, masyarakatnya juga bisa dibilang guyup saat ada warganya yang terkena musibah atau acara merti desa, misalnya ketika acara merti desa dengan nanggap wayang setiap KK biasa urunan paling kecil lima puluh ribu rupiah dan jajan anak-anak saat ada tontonan rata-rata lima puluh ribu rupiah, bahkan tontonan seperti itu hampir diadakan setiap bulan baik secara pribadi maupun tingkat desa. Andai saja uang sebesar itu dialihkan untuk membeli hewan qurban tentu akan lebih bermanfaat dan korban perasaan tak lagi terucap dari warganya.

Berqurban tidak selalu identik dengan yang mampu tapi juga perlu ada kemauan, banyak yang mampu beli sepeda motor, laptop dan tablet tapi belum pernah berqurban selama hidupnya, sementara ada yang hanya tinggal di rumah kardus dengan penghasilan pas-pasan tapi mampu berqurban dari menyisihkan hartanya sedikit demi sedikit, inilah makna hidup yang sebenarnya antara kemampuan dan kemauan.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Erfani, A.Md
Lahir di desa Polisiri gunung Garmadu. Sejak usia 6 hingga 26 tahun besar di perantauan kota Jakarta bersama orang tua untuk melakukan perubahan hidup. Pendidikannya ditempuh selama hidup di Jakarta mulai dari SD hingga kuliah, aktif dibeberapa organisasi sekolah, kampus, masjid dan ormas lainnya. Kini kembali ke desa dengan satu tekad Bersama berusaha memajukan desa.

Lihat Juga

Permudah Layanan Qurban, PKPU Jalin Kerjasama dengan Tokopedia