Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nilai Inti Idul Adha

Nilai Inti Idul Adha

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dawateislami.net)
Ilustrasi. (dawateislami.net)

dakwatuna.com“Dan dia (Ibrahim) berkata, ”Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada tuhanku, dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Ya tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shalih. Maka kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu ! “Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau mendapatiku orang yang sabar.” Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membayangkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan Allah).” (As-Shaffat: 99-103)

Itulah Idul Adha. Itulah Qurban. Itulah kebesaran Allah terhadap makhluknya. Sehingga jika hari besar Idul Adha dapat diperas maknanya secara dalam, akan ditemukan 3 nilai inti sekaligus. Pengorbanan, keikhlasan, dan kesabaran. Itulah 3 keywords mengapa kisah nabi Ibrahim a.s. dan nabi Ismail a.s. diabadikan di dalam Al-Quran.

Pada awalnya sang kekasih Allah (Khalilullah) nabi Ibrahim a.s., sangat mengidamkan seorang anak. Hingga dalam dirinya beliau katakan, Rabbi habli minna shalihin. Ya tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) termasuk orang yang shalih. Dan Allah benar-benar memberikannya. Seorang anak yang shalih, dan selalu menuruti segala sesuatu yang Allah perintahkan.

Dari sisi psikologis pun, nabi Ibrahim memiliki ketahanan mental yang luar biasa. Karena tidak mudah memberikan sesuatu yang sudah lama ditunggu kehadirannya. Tapi ketika datang, sang pemilik memintanya kembali dengan cara yang menyakitkan. Tidak mudah. Pasti ada pergulatan di dalam diri.

Tapi di sinilah arti pengorbanan itu nampak. Bahwa segala sesuatu yang didapati oleh setiap insan pada hari ini, pasti akan dikembalikan kepada Allah. Pada peristiwa ini pula makna ikhlas itu terlihat. Bahwa segala sesuatu yang diniatkan karena Allah, pasti tidak akan pernah sia-sia. Dan pada peristiwa ini pula makna sabar itu berdampak. Bahwa ‘ujian’ ini hanyalah bentuk daya uji akan kesungguhan ibadah nabi Ibrahim a.s. dan nabi Ismail a.s.. Toh pada akhirnya Allah mengganti nabi Ismail a.s. dengan seekor kambing. Allah pula yang mengembalikan nabi Ismail a.s. dalam keadaan seperti semula.

Mari kita bangkitkan memori diri masing-masing akan makna perngorbanan, keikhlasan, dan kesabaran di dalam sejarah kehidupan kita hingga saat ini. Sudah seberapa dalamkah 3 nilai inti Idul Adha sudah terejawantahkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Seberapa dalamkah hakikat qurban itu kita implementasikan. Karena pada akhirnya, segala sesuatu yang diberikan dijalan Allah, tidak akan menghilang begitu saja. Semuanya akan dihitung sebagai amal shalih, bahkan bisa dengan mudah Allah lipat gandakan.

Belajarlah pada ayah Ibrahim, belajar pula pada sang anak Ismail. Sehingga diri ini semakin mendalami hakikat pengorbanan, keikhlasan, dan kesabaran..

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Khutbah Idul Adha 1437 H: Pemuda Pelanjut Reformasi