Home / Narasi Islam / Wanita / Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?

Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Ingatan saya kembali terulang kala menatap piagam-piagam yang pernah diberikan pada saya ketika diundang dalam sebuah acara/event. Sayangnya.. beberapa piagam itu sudah tak terbentuk, ada yang sudah keriting dan banyak juga yang sobek lantaran tak terselamatkan karena musibah banjir beberapa tahun yang lalu. Ada sedih di hati tatkala hanya bisa memandanginya sambil memungut lalu membuangnya ke tempat sampah. Sambil mencoba menghibur diri, saya berkata dalam hati “Tak mengapa, ini hanya lembaran kertas yang tak terlalu berarti, karena yang berarti adalah pengalaman itu sendiri”.

Ya. Saya mulai diundang untuk tampil di depan umum saat berakhir status sebagai pelajar SMA. Ketika itu musim libur sekolah dan pergantian semester. Sementara di tengah aktivitas saya yang masih ngambang saat itu karena menunggu pengumuman PTN, salah seorang teman pengajian menghubungi saya dan meminta saya untuk mengisi kajian di kampus STIE Nusantara yang kini sudah berganti nama menjadi IBN (Institut Bisnis Nusantara). Dalam pikiran saya kala itu, ini merupakan peluang untuk saya mengasah bakat dan potensi diri yang barangkali masih terpendam. Alhasil tibalah waktu di mana saya mengisi kajian muslimah di kampus tersebut. Saya terkaget-kaget karena pesertanya kala itu hampir mencapai 50 orang dan ketika saya diminta KTP sebagai bukti identitas pengisi materi, salah seorang panitia mengernyitkan dahi dan mengatakan “Masya Allah ternyata mbak masih 17 tahun ya. Muda sekali”. Seketika saya menunduk, antara malu karena dibilang muda dengan perasaan tidak enak karena saat saya menyampaikan materi saya tidak bilang bahwa saya lebih muda dari peserta kajiannya yang rata-rata sudah menempuh bangku kuliah tingkat tiga.

Dari pengalaman tersebut… Saya malu! Saya amat malu untuk jujur bahwa sebenarnya saya ini semestinya yang dibimbing oleh mereka untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi. Namun karena gengsi saya saat itu, akhirnya saya sok bersikap dewasa dan memberi kesan bahwa saya lebih tua usianya dari mereka peserta kajian.

Sesampainya di rumah, saya mengadu pada ibu saya dan menceritakan kegelisahan saya di mana saya kapok menjadi pembicara dan tidak mau lagi kalau diundang mengisi kajian. Namun, ternyata Allah berkehendak lain, sampai di suatu hari saya sudah menjadi mahasiswi dan diminta memberi sambutan serta memimpin pembacaan doa ketika ada seminar pendidikan dari jurusan. Saya, yang ketika itu sebenarnya sudah kapok tampil di depan umum ternyata masih ditodong untuk tampil dan mau tidak mau karena perintah dosen, saya pun menurut.

Saya mulai maju ke mimbar sambil memegang microphone dengan tangan sedikit gemetar. Saya memberikan sambutan mewakili ketua pelaksana seminar tersebut. Saya mulai menata kembali bahasa saya, menyampaikan perlahan kalimat demi kalimat hingga akhirnya sambutan pun usai. Dan saya kembali berhasil tampil di depan umum.

Namun nyatanya, tepuk tangan dari peserta seminar tak membuat saya puas. Saya justru kapok, untuk tidak mau tampil lagi karena merasa saat itu saya masih junior di kampus, sementara peserta seminar ada yang sudah senior di tingkat akhir. Lagi-lagi saya tidak pede, bukan karena soal kemampuan saya tampil di depan umum melainkan soal usia. Ya! Saya selalu mempertimbangkan ketika mau isi acara, apakah peserta acara tersebut lebih muda dari saya atau tidak. Kalau lebih tua, saya memilih enggan untuk tampil di depan mereka.

Seiring berjalannya waktu, saya rajin mengikuti acara seminar atau kajian terutama yang berkaitan dengan kemuslimahan. Sampai suatu saat saya menyimak seorang pembicara wanita yang mengatakan “Tidak penting siapa dirimu, seperti apa dirimu. Yang terpenting adalah ilmu yang bisa kamu bagi”. Tiba-tiba pernyataan tersebut membuat saya begitu syok. Saya langsung memohon ampun pada Allah, bahwa selama ini saya salah. Saya selalu memikirkan penilaian peserta terhadap diri saya yang masih muda kala itu ketimbang memikirkan ilmu yang saya bagi itu sudah benar dan bisa diterima oleh peserta atau belum.

Maka, seiring berjalannya waktu.. Kemantapan itu senantiasa hadir dalam diri, ketika saya diminta menjadi pembicara Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa SMA, kemudian menjadi pembicara kajian muslimah di IPB, STT-PLN, KAMMI Uhamka dan undangan mengisi acara lain yang kesemua itu membuat saya harus tampil di depan umum, pada akhirnya membuat saya berpikir untuk bisa berbagi dan tak peduli apa tanggapan atau penilaian orang terhadap diri pribadi saya. Karena yang saya niatkan adalah dalam rangka berdakwah atau berbagi ilmu. Justru yang jadi persoalaan adalah ketika usai mengisi materi saya selalu bertanya pada panitia acara, apakah saya sudah berhasil menjadi pembicara seperti yang dikehendaki mereka?

Dan pada akhirnya, setiap kesempatan untuk berbagi ilmu dengan tampil di depan umum tak pernah saya lewatkan. Saya selalu mempelajari dan melihat langsung bagaimana sosok pembicara yang handal. Mulai dari gerak-geriknya, kata per kata, bahasa tubuhnya sampai kemampuan mengelola ice breaking demi tercapainya misi berbagi ilmu yang diharapkan. Dan hal itu masih saya lakukan ketika sudah berumah tangga saat ini, karena bagi saya… seorang muslimah, perannya tidak hanya sebagai anak, istri maupun ibu saja. Dia dapat sangat efektif menjadi contoh yang baik kepada orang lain dengan menjadi baik hati, ramah berbicara, bisa menawarkan bantuan, keprihatinan berbagi serta sukacita. Dan dia juga dapat menggunakan semua kesempatan yang tepat untuk mendidik, maupun membimbing orang lain salah satunya dengan berbagi ilmu di depan umum (dibaca: pembicara).

Bukan jamannya lagi, seorang muslimah tidak berani tampil di depan umum karena alasan tidak PD atau takut salah. Karena setiap sisi kehidupan banyak menuntut peran wanita untuk bisa tampil di depan umum; berbagi ilmu pengetahuan, menyuarakan ide pemikiran dan mengubah apa yang mesti diubah dari sekitarnya. So, kita pasti bisa!. Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deasy Lyna Tsuraya
Fulltime mother yang sedang asyik mengurus seorang putra, senang menulis dan mengembangkan kemampuan diri menjadi seorang pembicara atau moderator acara kemuslimahan. Mengisi kesehariannya dengan mengelola web islami dan usaha Rumah Koleksi Antaradin yang bergerak di bidang fashion islami.

Lihat Juga

Model Muslimah 3 Dimensi. (Ash Shofwa)

Muslimah 3 Dimensi