Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Taman Itu Bernama Keluarga

Taman Itu Bernama Keluarga

keluargadakwatuna.com Sepuluh menit ini semoga menjadi waktu yang berharga untuk berbagi hikmah. Hikmah tentang kehidupan dan tentang hati yang bahagia dan sedihnya sudah diatur sedemikian rupa dengan indah oleh Allah swt. Ada perasan bahagia yang selalu terpancar dalam hati, saat seorang hamba menyerahkan seluruh urusan hidupnya hanya pada-Nya, sang Khalik yang tak pernah sekejappun meninggalkannya. Banyak hikmah terserak, begitu nikmat dan bahagianya, bahkan akan menjadi lebih nikmat saat mata ini masih bisa menteskan airnya. Pengaturan Allah itu indah. Yakinlah. Semua kehendak-Nya adalah kebaikan untuk hamba-Nya.

Siapapun, tak terkecuali, Allah berkehendak untuk melimpahkan rasa bahagia, di tengah melintangnya onak-onak duri dan rumitnya mengurai tali kehidupan. Kadang kebahagiaan itu datang dari hal hal kecil yang seringkali diremehkan. Bukankah banyak rangkaian bunga menjadi indah tersusun dari kelopak-kelopak kecil yang secara harmoni bersusun dalam tangkainya. Pernahkah kau tatap indahnya melati, atau sakura yang mempesona, mungkin juga rangkaian anggrek jingga dan putih yang menjuntai nan anggun.

Demikianlah, kehidupan menjadi seorang istri, menjadi seorang suami, menjadi ibu, menjadi ayah, dalam biduk rumah tangga, selalu menghadirkan rangkain-rangkaian hikmah indah seperti bunga-bunga. Ada saat bunga bermekaran warna warni, ada saat layu, untuk kemudian bersemi kembali. Dalam kokohnya batang, silih berganti bunga itu bermunculan pada sisi yang berbeda dan berpindah, tapi bunga itu akan selalu hadir sepanjang musim, sepanjang masa, sepanjang usia. Meski tangkai yang menyembulkan kelopak bunga itu tak selalu sama. Kokohkan biduk rumah tangga, agar tidak menjadi bunga semusim, kokohkan batang bunga itu, agar bunga itu terus bermunculan.

Menjadi suami yang selalu bersemangat mencari nafkah, dalam rasa lelahnya akan Allah hadirkan kebahagiaan manakala menatap lembut senyum sang istri mengucap syukur menerima rezeki dengan perantaan keringat suami. Bunga indah di batang tangkai yang satu ,tidak selalu berbarengan dengan tangkai yang lain. Boleh jadi di saat indah menatap senyum mengembang nan indah tadi, pada saat yang sama dihadapkan pada masalah sang buah hati yang mengambek tidak mau sekolah.

Menjadi istri, di tengah rumitnya mengatur anggaran rumah tangga, Allah hadirkan kebahagiaan menatap indah sapaan lembut suami yang selalu mencintainya. Bertambah mekar keindahan itu menatap takjub melihat sang buah hati dengan bersemangat datang ke masjid untuk berjamaah.

Menjadi seorang anak dari orang tua yang sudah beranjak senja, di tengah kesabaran yang ekstra berkhidmat memenuhi kehendaknya, Allah hadirkan keberkahan mustajabnya doa tulus orang tua. Tak terbantahkan. Bersabarlah menapaki setiap detiknya menemani kesunyian yang dirasakan orang tua.

Ya.. selalu ada ruang untuk bahagia, selalu ada ruang untuk bersyukur… selalu ada ruang untuk bermekaran bunga bunga indah dalam taman rumah tangga. Bersyukur.. bersabar selalu silih berganti menjadi hiasan indah dalam kehidupan seorang muslim. Semoga hikmah menghadirkan semangat antusiasme menatap hidup bagi siapapun yang membaca. Semoga taman ini selalu indah bermekaran bunga-bunga. Baiti jannati..

Ya Rabbi.. karuniakan kepada kami pasangan hidup dan keturunan yang senantiasa menjadi penyejuk mata bagi kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang –orang yang bertakwa. Ya Rabbi .. jadikan kami hamba yang senantiasa menegakkan shalat, beserta seluruh anak keturunan kami.

Ya Rabbi… karuniakan kepada kami kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akherat dan jauhkan kami dari siksa api neraka.

Aamiin..

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 4,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Keluarga, Belakang Panggung Sandiwara