Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berdoalah Kepada Allah

Berdoalah Kepada Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan (doa) bagimu”

Potongan kalimat di atas merupakan perintah langsung dari Sang Pengabul Doa yang tercantum pada surah Ghofir ayat 60. Dia memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Karena Dia yang memerintahkan maka Dia sendirilah yang akan mengabulkan semua doa-doa yang terpanjatkan.

Ada sebagian dari kita yang tidak terbiasa berdoa. Ketika usai mengakhiri shalat dengan salam, beberapa detik kemudian dia langsung beranjak pergi dari tempat mendirikan shalat. Tanpa ada dzikir ataupun doa yang terucap di bibir.

Apakah kita termasuk dari sebagian orang yang diceritakan tersebut? Ketika adzan berkumandang, masih bermalas-malasan, sukanya menjadi makmum yang sering terlambat sehingga harus menambah beberapa rakaat setelah imam salam. Kemudian, ketika dia salam, bergegas pergi kembali menuju urusan duniawi.

Lima kali shalat wajib sehari semalam bibirnya tak pernah terbasahi oleh kalimat doa-doa untuk Sang Pencipta. Padahal setiap hari dia memiliki banyak permintaan dan keinginan yang diharapkan. Ke manakah dia meminta jika tidak pada saat berdoa?

Sungguh, merugi orang-orang yang ketika shalat tak pernah berdoa, tapi sungguh lebih merugi lagi jika tak pernah shalat dan tak pernah berdoa. Tak sadarkah diri ini tak berdaya dan tak memiliki apa-apa?

Jika diri ini tak pernah berdoa, apakah diri ini mampu memenuhi permintaan dan keinginan diri sendiri? Ataukah diri ini sudah merasa kaya dan berkuasa sehingga tak ada lagi pinta dan harap kepada Sang Pemiliki Bumi dan Langit?

Begitu sombongkah manusia sehingga tak mau berdoa kepada-Nya? Merasa diri sudah memiliki semua apa yang diinginkan, merasa diri berkuasa atas segalanya. Padahal, itu hanya titipan sementara dan bukanlah yang dimiliki oleh manusia. Beranikah kita sombong dan berbangga hati atas segala karunia yang telah diberikan?

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (H.R Muslim)

Tempat kembalinya orang yang sombong tidak lain dan tidak bukan adalah seburuk-buruknya tempat yakni neraka.

Di dalam Al-Quran tertera dengan jelas tentang perintah berdoa. Maka dari itu, umat Muslim diperintahkan untuk berdoa kepada-Nya.

Dengan berdoa secara tidak langsung, manusia mengakui bahwa dirinya kecil, hina, rendah, tak memiliki apa-apa. Ada satu Dzat yang patut dimintai pertolongan dan perlindungan yakni Dzat yang akan selalu mengabulkan doa-doa orang yang mendekatkan diri kepada-Nya.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”(QS. Al Fatihah : 5)

Bagi seorang muslim, doa juga bisa dijadikan senjata. Senjata ketika menghadapi berbagai persoalan dunia seperti sedih, takut, gelisah, susah. Dengan doalah semua persoalan tersebut setapak menuju solusi dan jalan keluar.

Setiap manusia diperintahkan untuk berusaha dan berdoa, semua keputusan ada pada Allah. Inilah yang membuktikan kebesaran dan kekuasaan-Nya atas hamba-hamba-Nya.

Saat seseorang takut, lewat doa, dia akan menguasai dirinya dari rasa takut, setidaknya ketika dia berdoa ada sedikit ketenangan di dalam jiwanya sehingga pelan-pelan rasa takut itu akan menghilang.

Begitu pula pada saat seseorang berada dalam kondisi sedih, susah ataupun kondisi yang tidak menyenangkan lainnya. Lewat doa, dia secara bertahap akan merasa terkurangi kondisi yang tidak menyenangkan tersebut. Sebab, dia memasrahkan dirinya kepada Sang Pemilik Diri.

Mungkin, hati kita sudah membeku bak sebuah batu yang sangat keras. Jika kita tak mau berdoa kepada-Nya. Sebuah cerita yang akan membuktikan bahwa manusia itu memang kecil, hina, lemah dan harus berdoa.

Seorang pemuda berlayar di lautan. Tiba-tiba kapal layar yang dia tumpangi terhenti di tengah-tengah lautan nan luas. Tak lama kemudian, awan hitam pun mulai terlihat pertanda akan turun hujan yang sebelumnya dihiasi dengan suara gelegar petir yang cukup kuat. Apakah yang akan kita lakukan jika kita adalah pemuda tersebut?

Semua yang dimiliki ketika itu sudah tidak ada artinya apa-apa. Hanya keselamatan jiwa dan raga yang harapkan agar tetap bertahan hidup hingga berjumpa kembali dengan daratan. Saat itulah, hati kecil kita akan bersuara untuk meminta doa kepada Yang Maha Kuasa. Kita mengakui akan keberadaan dan keagungan-Nya.

Apakah kita harus berlayar terlebih dahulu agar bisa menghancurkan hati yang keras ini agar mau berdoa kepada-Nya? Ataukah dari sekarang kita menyadari bahwa memang benar keberadaan dan kekuasaan-Nya untuk mengatur segala apapun yang ada di muka bumi ini sehingga tiap-tiap manusia harus berdoa agar Dia menjaga dan melindungi manusia dari segala marabahaya.

Tak usahlah kita menunggu kejadian tak menyenangkan terlebih dahulu baru akan berdoa. Doa yang kita ucapkan dan pinta, bukankah akan kembali kepada yang mengucapkannya pula?

Doa kebaikan yang akan membawa manusia agar selalu ingat dan mematuhi segala perintah-Nya. Doa kebaikan pula yang d[harapkan semua insan terkabul agar kebaikan menimpa diri setiap manusia.

Berdoalah selagi nafas ini masih berhembus, selagi detak jantung ini masih bergetar dan selagi nyawa masih berada di dalam raga. Apalah artinya sebuah doa jika nafas ini terhenti, detak jantung tak ada lagi, nyawa pun telah pergi. Semua hanya akan berakhir sia-sia.

Berdoalah untuk diri kita sendiri, orang tua, keluarga, orang-orang yang ada di sekitar kita agar mereka semua mendapatkan perindungan dan rahmat-Nya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Ilustrasi (Erina Prima)

Ketika Manusia Salah Memahami Jawaban Allah Atas Doanya..