Home / Berita / Opini / Bukan Pesan Kenabian yang Dibawa Dennis Adhiswara

Bukan Pesan Kenabian yang Dibawa Dennis Adhiswara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cuplikan pernyataan Dennis Adhiswara tentang Tifatul Sembiring di situs Metrotvnews.com, 20 September 2014. (dakwatuna/hdn)
Cuplikan pernyataan Dennis Adhiswara tentang Tifatul Sembiring di situs Metrotvnews.com, 20 September 2014. (dakwatuna/hdn)

dakwatuna.com “Lebih manfaat kalau si Dennis yang dibuang ke Cina. Buang Dennis kembali ke daerah keturunannya. Buang Dennis ke alam asalnya.” Bahkan ada yang lebih kasar lagi seperti ini: “Zamannya Soekarno, Cina dipulangin tuh ke asalnya.” Atau seperti ini, “Cina Makin ngelunjak.”

Itu beberapa kalimat yang sempat tercatat dalam kolom komentar Facebook portal berita menanggapi pemberitaan Dennis Adhiswara di salah satu portal berita lainnya. Reaksi atas sebuah aksi.

Dennis yang berprofesi sebagai aktor, sutradara, dan produser ini memang sedang terkenal.  Pemeran Mamet  dalam Ada Apa Dengan Cinta ini mengatakan kepada Metrotvnews.com (Sabtu, 20/9),  “Buang Tifatul jauh-jauh ke Arab. Kita butuh internet yang maju dengan koneksi cepat, bukan maju mundur seperti sekarang.”

Pernyataannya ini dalam konteks ketika ia melabuhkan harapan kepada pemerintah mendatang untuk lebih memerhatikan industri ekonomi kreatif. Dennis memang sedang terjun di industri itu dengan meluncurkan portal video studio online yang memamerkan video-video pendek berdurasi kurang dari lima menit.

Kulitnya yang putih dengan matanya yang terlihat sipit dalam foto itu membuat sebagian orang menyangka bahwa Dennis anak keturunan Tionghoa. Saya tidak tahu Dennis itu keturunan Tionghoa atau bukan. Tapi yang jelas Dennis seorang muslim.

Terlepas dari pernyataannya yang rasis, tidak sesuai dengan fakta, dan tidak mencerminkan seorang muslim, bisa dicermati beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, perlu penyadaran penting kepada Dennis kalau nabi yang diimaninya sebagai Rasul terakhir itu berasal dari Arab. Barangkali ia alpa dengan esensi dari syahadat rasul yang ia ucapkan dalam setiap salatnya. Semoga tidak ada yang mengatakan kepada saya, “Ngapain ngurusin ibadah orang lain?”

Arab—entah sebagai tempat dan bangsa—itu tidaklah identik dengan keterbelakangan dan antikebebasan sebagai antitesis sebuah peradaban. Bahkan sebaliknya. Dennis sepertinya lupa dengan sumbangsih seorang Arab bernama Alhazen dalam peradaban dunia dengan teori cahayanya.  Ingat, cahaya berperan penting dalam industri kreatif yang sedang digelutinya ini.

Kedua, hal ini dikhawatirkan akan menambah tebal rasa sentimen kepada etnis keturunan Tionghoa. Apalagi setelah kemenangan Jokowi yang dianggap sebagai representasi kemenangan Tionghoa atas pribumi. Kebetulan, aktor yang turut berperan dalam film Sang Pencerah ini adalah pendukung Jokowi pada saat pemilihan presiden lalu.

Sudah cukup kerusuhan berbau rasial menjadi catatan buruk di negeri ini. Bahkan rasialisme ini, mengutip Gunawan Moehammad, lebih tua ketimbang entitas yang disebut sebagai “negara”. Tidak perlulah kita dicatat oleh sejarah sebagai penanam benih ketidakelokan ini.

Ketiga, Metronews secara tidak langsung menyebarkan kebencian terhadap Arab. Dan ini rasis betul. Ini jelas melanggar salah satu dari empat asas kode etik jurnalistik, yaitu asas moralitas. Wartawan tidak menulis dan menyiarkan berita berdasarkan diskriminasi SARA dan gender.

Pada zaman Orde Baru media massa tidak berani menyiarkan berita SARA dan kerusuhan karena takut dibredel.  Namun media massa dengan kebebasan yang ada saat ini bahkan kebablasan dengan  turut menumbuhsuburkan benih-benih disintegrasi.

Kita, apalagi saya, tentu tidak berharap pernyataan-pernyataan reaksioner di atas mengendap dalam alam bawah sadar anak bangsa lalu menjadi api dalam sekam yang tiba-tiba membakar dan merusak rantai persatuan rakyat. Kita tidak mau perpecahan antarkomponen bangsa terjadi. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hal mutlak bagi kita.

Maka sangatlah bijak bagi para pesohor untuk senantiasa menjaga polahnya dan arif untuk berkata. Apatah lagi media massa yang merupakan–mengutip Sobur—kekuatan keempat dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, selayaknya membawa misi kenabian. Pesan perdamaian buat seluruh alam. Bukan sebaliknya.

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • Rizky Yanto

    Satu lagi publik figur yg kurang “cerdas”,siapa lagi yg menyusul?Jadi tanda tanya besar apakah yg telah diajarkan oleh orang tua dan gurunya selama ini tidak ada yg menyentuh hal2 semacam itu,ataukah sbg produk generasi masa kini yg sering kali merasa modern Dennis ketularan Ahok yg merasa “lebih” dan bisa berbuat atau berkata sesuka hatinya?

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Belajar dari Ibrahim AS

Organization