Home / Berita / Opini / FPI vs Ahok: Tak Ada Asap Jika Tak Ada Api

FPI vs Ahok: Tak Ada Asap Jika Tak Ada Api

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (merdeka.com)
Ilustrasi. (merdeka.com)

dakwatuna.com Sungguh, terkait dengan “kerusuhan” yang terjadi di depan gedung DPRD DKI Jakarta hari Jum’at (3/10/2914), saya tak ingin membela ataupun menyalahkan siapa-siapa. Saya cuma ingin menganalisa dan menyoroti masalah ini secara adil dan proporsional.

Andai ada yang anarkis, ya… itu memang  harus ditindak tegas, tak peduli siapa pun orangnya dan  dari kelompok manapun. Yang penting mereka harus diberlakukan sama dalam hukum, yaitu diusut secara detil, tuntas serta tetap berpegang kepada asas praduga tak bersalah.

Adapun di sini yang sangat saya sayangkan sekaligus heran adalah jika terkait dengan (baca : ormas) umat Islam yang “katanya”suka bikin rusuh atau bertindak anarkis, aparat kepolisian cepat sekali reaksinya. Padahal jika mau dirunut secara kronologis dan juga fair, pasti ada sebab musababnya mengapa akhirnya insiden ini bisa terjadi. Ibarat pepatah, tak ada asap jika tak ada api. Dan ini sudah menjadi hukum alam.

Dalam hal ini, mungkin bagi sebagian orang ada yang langsung mencaci-maki kebrutalan FPI secara membabi buta tanpa mau tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Meskipun barangkali FPI belum tentu 100% salah serta belum tentu juga 100% benar. Akan tetapi terkadang orang sudah tidak mau berpikir tentang  itu lagi, tidak mau melihat ke belakangnya sebelum masalah itu terjadi. Main asal tuduh dan vonis saja seperti saat ini, bahwa FPI brutal FPI memang anarkis. Titik.

Namun ada juga sebagian lagi yang mungkin melihat persoalan ini tak sesederhana itu. Mereka ini adalah orang-orang yang mampu melihat sebuah persoalan tidak hanya berdasarkan emosi serta patokan hitam-putih semata. Mungkin ada banyak hal yang bisa dianalisa, dicarikan motivasi atau latar belakangnya. Di mana  kemudian akan menggiring mereka kepada sebuah hipotesa, yang pada akhirnya sampai kepada sikap setuju atau mendukung tindakan FPI. Yakni mendukung FPI yang memprotes keras segala tindak-tanduk Ahok, yang mana pernyataan-pernyataannya dianggap sering kali menyerang dan menyakiti hati umat Islam.

Contoh teranyar adalah bagaimana Ahok pernah menyerang Muhammadiyah dengan menyebutnya sebagai “munafik”, terkait masalah penutupan tempat-tempat prostitusi. Juga masalah pelarangan pemotongan hewan qurban di tempat-tempat umum seperti sekolah dan masjid dengan alasan yang menurut saya terlalu mengada-ada alias tidak masuk akal.

Lantas, jika terhadap FPI polisi begitu cepat tanggap, mengapa terhadap sikap (mulut) Ahok yang nyinyir dan  sinis ini tak ada reaksi apa-apa dari pihak kepolisian? Padahal jelas-jelas hal ini sangat meresahkan masyarakat, terutama umat Islam. Saya dengar, terakhir kabarnya Muhammadiyah telah mengadukan Ahok ke pihak kepolisian, terkait dengan pernyataan tendensiusnya itu. Cuma saya tak tahu lagi bagaimana kelanjutan dari laporan Muhammadiyah ini, karena sudah tak kedengaran lagi gaungnya. Pertanyaannya adalah mengapa dan ada apa? Entahlah…

Saya rasa, FPI juga tidak akan bertindak keras, jika saja Ahok mampu menahan dirinya untuk tidak gegabah menyakiti hati umat Islam. Jika saja Ahok bisa menghargai dan menghormati segala sesuatu yang terkait dengan urusan umat Islam. Ahok tidak usah ikut campur, apalagi yang berkenaan dengan masalah ibadah umat Islam.

Biarkan saja umat Islam mengurus dirinya sendiri, dan Ahok pun mengurus apa-apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Saran saya, Ahok jangan suka mengambil alih sesuatu yang bukan merupakan kewenangannya. Jangan pula suka memancing reaksi keras dan kemarahan masyarakat, dalam hal ini umat Islam. Sebab jika itu  tetap dilakukannya, tentu akan menimbulkan konflik antara Ahok dengan umat Islam atau dengan siapa pun juga yang merasa terganggu lantaran urusan “pribadi”nya diusik oleh Ahok.

Sekedar mengingatkan, bahwa bukan hanya FPI saja yang sering merasa gerah dengan sikap-sikap Ahok ini. Namun ada banyak pihak di luar sana  yang juga tak setuju serta komplain dengan sikapnya yang arogan dan selalu merasa benar sendiri. Di mana pada saat yang samà, Ahok kerap kali menyalahkan orang lain untuk justifikasi dirinya.

Jadi jika sudah begini, maka jangan salahkan kemudian apabila ada banyak pihak (misal FPI) yang tak suka dengan mantan Bupati Belitung Timur ini. Ada banyak orang yang ingin menurunkannya dari jabatan yang dipegangnya saat ini, yaitu sebagai Wakil Gubernur dan sebentar lagi akan naik menjadi Gubernur DKI Jakarta setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden RI dalam Pilpres kemarin. Oleh karenanya marilah masing-masing pihak saling menghargai dan menghormati satu sama lain, agar tercipta kerukunan serta kedamaian di negeri kita tercinta. Wallahu a’lam…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (37 votes, average: 7,70 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Ahok Jadi Tersangka, Ustadz Arifin Ilham: Ini Awal Musibah Bagi Penista Alquran