Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kestabilan Jiwa

Kestabilan Jiwa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Berbicara iman, berarti berbicara keyakinan. Berbicara keyakinan, berarti berbicara tekad. Berbicara tekad, berarti berbicara kesabaran. Karena iman, rasa yakin, kekuatan tekad, dan kesabaran yang panjang-lah; yang menjadi pondasi dasar kestabilan jiwa seseorang. Selama seseorang dapat menyimpan ke-4 sumber kestabilan jiwa tersebut, selama itu pula kestabilan jiwa dalam diri seseorang akan bertahan.

Karena tidak sedikit dari para ulama besar Islam, yang lahir di bawah ketertekanan hidup. Ada ulama abad pertengahan yang lahir di masa kedinastian Abbasiyah seperti Ibnu Taimiyah, yang pernah meringkuk di dalam penjara Mesir. Ibnu Taimiyah 3 kali keluar masuk penjara, dan tidak pernah menurunkan semangat perjuangannya untuk berdakwah. Adapula ulama internasional modern, seperti Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang dipenjara karena khutbah-khutbahnya yang berani. Sehingga Yusuf Al-Qaradawi sangat dibenci oleh rezim pemerintahan. Adapula ulama besar Indonesia, yaitu Buya Hamka yang sempat menjadi perbincangan internasional, karena tafsir Al-Azhar yang mengingatkan umat islam akan sosok Sayyid Quthb. Tafsir yang terlahir saat beliau di penjara.

Ketiga ulama tersebut, ialah tiga ulama besar yang melintasi zaman yang berbeda. Di mana nama mereka pada akhirnya termahsyur dengan sendirinya, dikarenakan perjuangan, dan karya-karya tulisan mereka yang fenomenal. Mereka bukanlah orang yang lahir pada medan juang dakwah yang mudah. Tapi ketiganya memiliki pesona kestabilan jiwa yang hebat. Di mana keterpurukan tidak pernah menurunkan produktivitas. Di mana keterbatasan, tidak menurunkan semangat mereka untuk beramal. Bahkan, jika ketertekanan itu berasal dari seorang penguasa sekalipun. Kestabilan jiwa mereka-lah yang menjawab. Di situlah kekuatan psikis para pemimpin surgawi.

Hanya para pemimpin surgawi yang memiliki kestabilan jiwa, yang dapat menempuh terpaan badai yang bertubi-tubi. Karena jiwa-jiwa tersebut, hanya dimiliki oleh pemimpin yang memiliki ketenangan, dan kemampuan analisa medan yang akurat.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Faedah Positive Thinking Bagi Kesehatan Tubuh dan Jiwa

Organization