Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Yuk, Belajar Kedewasaan dari Anak-Anak

Yuk, Belajar Kedewasaan dari Anak-Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: persian-star.net)
Ilustrasi. (Foto: persian-star.net)

dakwatuna.comBanyak orang mengatakan bahkan di literature-literatur juga disebutkan, bahwa sesesorang dikatakan dewasa apabila sudah berusia 20 tahun ke atas. Karena pada usia tersebut telah memiliki kematangan fisik, cara berpikir dan sosial serta emosional yang lebih stabil. Sedangkan dalam Islam dijelaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah atau suci sehingga faktor inilah yang menjadikan setiap anak telah membawa nilai-nilai kebaikan dan kehebatan ditambah potensi yang luar biasa yang dibekali Sang Pencipta sejak lahir. Ketika kefitrahan ini mampu dijaga oleh khususnya orang tua dan lingkungan di sekitarnya, maka seiring perjalanan waktu dengan semakin bertambahnya usia seharusnya saat dewasa tiba kematangan dalam segala sudut kebaikan juga semakin matang. Ironisnya karena faktor pola asuh atau didikan orang tua dan pengaruh lingkungan yang kurang baik sehingga malah justru sebaliknya, banyak kita temui orang dewasa bahkan yang sudah tua masih memiliki sifat-sifat yang kekanak-kanakan.

Seandainya kita cermati, sadari dan renungkan, ternyata banyak sifat dan sikap kedewasaan yang dimiliki anak-anak. Maka istilah masa “Golden Age” untuk usia 0-5 tahun sangatlah tepat karena memang optimalnya semua potensi dan fitrah kebaikan berkembang pesat di masa tersebut.

Kejujuran, siapa yang tidak sepakat kalau hampir semua anak mempunyai sikap yang sangat jujur, apa adanya tanpa polesan dan rekayasa. Dalam benak mereka bahkan tidak mengenal kamus berbohong dan tidak ada kekhawatiran atau ketakutan saat kejujuran yang disampaikan tidak disukai dan mungkin membuat orang lain akan menjadi marah.

Selain itu, semua anak memiliki kemauan yang gigih untuk maju karena rasa ingin tahu yang luar biasa sehingga sering mencoba hal-hal baru tanpa takut salah atau ditertawakan orang. Keberanian inilah yang menjadi modal utama bagi siapapun yang ingin kreatif dan maju yang pada muaranya akan menghantarkan seseorang meraih kesuksesan.

Begitu juga saat awal anak belajar berjalan atau naik sepeda betapa mereka harus mengalami berkali-kali terjatuh, berurai air mata kesakitan bahkan ada kalanya sampai berdarah. Tetapi akhirnya mereka berhasil juga berjalan atau naik sepeda, karena mereka tidak mudah berputus asa, tidak peduli omongan orang yang akan menghambat keberhasilannya.

Hidup ini selalu indah dan sayang untuk dilewati begitu saja tanpa keceriaan dan canda tawa. Untuk apa harus berlama-lama dengan ratapan kesedihan dan penyesalan yang berkepanjangan. Dalam dunia anak begitu mudah melupakan kesedihan sehingga mereka akan bersegera mengembalikan keceriaan yang sempat hilang sejenak. Dan hebatnya setiap anak ternyata mampu mengupayakannya sendiri dalam meraih kebahagiaan.

Bagi anak saat berinteraksi dengan teman-temannya, kesalahan yang pernah dilakukan teman selalu dianggap wajar dan masalah kecil sehingga dalam hitungan menit saja pertengkaran atau perkelahian yang sering terjadi akan begitu mudahnya untuk rukun kembali. Kuncinya adalah karena anak-anak mudah memaafkan dan tidak dendam. Semua permasalahan interaksi dengan orang lain tidak dimasukkan dalam pikiran dan hatinya.

Sesungguhnya beberapa hal yang tersebut di atas belumlah cukup bagi kita, orang-orang dewasa untuk belajar kedewasaan dengan anak karena memang masih banyak nilai-nilai kebaikan dan kefitrahan yang dimiliki anak. Dan kalau kita mau jujur berkaca pada diri sendiri, dari kelima nilai-nilai tersebut masih banyak yang harus kita perbaiki dan semoga Allah mudahkan usaha kita. Aamiin!

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rohana Retnawati
Guru KBTKIT Mutiara Hati Klaten.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial