Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Antara Mimpi dan Hati

Antara Mimpi dan Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Aktuaris, jika seseorang mendengar kata ini biasanya akan langsung berorientasi pada merk air minum atau segala sesuatu yang berkaitan dengan air. Memang belum banyak yang mengenal jenis pekerjaan ini, apalagi masyarakat awam. Namun, jika kita mencari tau lebih dalam kita akan mendapatkan fakta bahwa aktuaris adalah nama sebuah pekerjaan dengan prospek kerja yang menjanjikan, gaji tinggi, dan sumber daya yang terbatas. Maksud terbatas di sini adalah jumlah sumber daya yang dibutuhkan cukup banyak namun yang mampu terkualifikasi bisa dibilang masih kurang.

Belakangan ini pihak Persatuan Aktuaris Indonesia atau yang sering disingkat PAI sedang sangat menggencarkan program mencetak aktuaris-aktuaris baru. Caranya mulai dengan memperkenalkan apa itu aktuaris melalui seminar, workshop, jobfair, bahkan sampai beasiswa yang nominalnya sangat menggiurkan.

Jujur saja, sejak pertama kali mengenal aktuaris di program studi matematika ini saya sangat tertarik dengan pekerjaan ini. Di luar segala aspek seperti prospek kerja, gaji besar, dan faktor lainnya yang membuat pekerjaan ini terlihat menarik, ada satu hal yang membuat saya sangat menginginkannya, yaitu salah satu persyaratannya adalah “mahasiswa lulusan jurusan matematika”. Ketika membacanya, saya merasa bahwa ini loh saya, ada pekerjaan untuk saya seorang matematikawan, pekerjaan yang diperuntukkan untuk mahasiswa matematika. Sejak saat itu saya mulai bermimpi kembali, saya mulai mengambil satu per satu mata kuliah yang berkaitan dengan aktuaria. Namun, semakin kesini kegalauan mulai muncul dalam diri saya. Ada sesuatu yang membuat hati saya bimbang, ada beberapa faktor yang membuat saya sempat ingin melepas mimpi ini.

Perlu diketahui, aktuaris adalah sebuah pekerjaan yang menganalisa keuangan, sebagian besar aktuaris bekerja di perusahaan asuransi, walaupun ada juga yang bekerja sebagai konsultan, dan sebagainya. Yang membuat saya bimbang adalah dalam keyakinan saya, sebagai seorang hamba Allah, Allah sangat melarang akan adanya riba. Seperti dalam QS. Ali Imran ayat 30, yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.

Dan kita semua tahu seperti apa bentuk asuransi sendiri, yang tidak perlu saya ulas di sini. Saya yakin pembaca sudah paham akan maksud saya.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 18 September 2014 saya mengikuti sebuah seminar dan jobfair dengan judul “Rise Up Aktuaris” yang bertempat di Universitas Brawijaya, Malang yang diadakan oleh PAI. Ada lima orang pembicara yang kesemuanya adalah seorang FSAI yang menurut saya sangat hebat dengan berbagai latar belakang yang menginspirasi. (sebagai informasi, FSAI adalah tingkatan seorang aktuaris yang sudah terkualifikasi). Dan dari kelima pembicara ini, ada satu pembicara yang sangat menginspirasi saya, beliau bernama Iene M, FSAI yang sekarang sedang bekerja di World Bank. Ada sepenggal kalimat beliau yang menggugah hati saya, yang membuat saya ingin seperti beliau, kurang lebih seperti ini “Saya ingin mengabdikan diri saya untuk masyarakat, untuk Indonesia. Saya tidak peduli apakah mereka mengetahui bahwa itu saya, yang terpenting adalah saya bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitar saya. Saya tidak ingin melihat ada anak yang tidak bisa sekolah hanya karena biaya, saya tidak ingin ada seorang yang sakit tapi tidak mampu berobat karena keterbatasan biaya.”

Saya juga sempat berdiskusi dengan dosen saya yang juga mengikuti seminar ini, ada kata-kata beliau yang membuat saya semakin ingin merenungi hal ini, kurang lebih seperti ini “Tidak ada ilmu yang tidak baik, jika tidak ada manfaatnya, untuk apa Allah menciptakan ilmu ini. Bukankah ilmu itu ada untuk dipelajari? Sebenarnya, baik atau buruknya suatu ilmu itu tergantung pada penerapan kita nantinya, apakah akan menjadikan manfaat atau malah sebaliknya hanya akan mendatangkan mudharat. Kamu tidak akan dapat merubah suatu sistem jika kamu tidak tahu ilmunya dan tidak masuk ke dalamnya. Nah, sekarang adalah tugas kamu, sebagai mahasiswa muda, yang harus mengetahui segala ilmunya, dan ciptakan sebuah produk yang sesuai dengan keyakinan kamu sendiri.”

Dari beberapa kalimat motivasi yang saya dengar tersebut, saya dapat menyimpulkan beberapa hal, yang pertama kita akan menemukan jati diri kita, kepuasan dalam diri kita, ketika kita dapat bermanfaat bagi orang lain, ketika orang lain bahagia dan dapat merasakan kehidupan yang lebih layak karena kita, meskipun sekitar tidak mengetahui keberadaan kita. Yang kedua, tidak ada salahnya kita mempelajari ilmu apapun, yang terpenting adalah kita dapat memanfaatkan ilmu tersebut sesuai dengan porsi dan tempatnya, dan jangan lupa akan dasar-dasar yang harus diperhatikan dalam penggunaan ilmu tersebut agar nantinya kita dapat menghadirkan manfaat untuk semua orang.

Terkait dengan mimpi dan keyakinan hati, sampai saat ini saya masih memikirkannya, saya masih bimbang, dan saya masih mencari jalan keluar agar dapat menyeimbangkan mimpi dan keyakinan yang ada dalam hati saya ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan jalan keluar terbaik. Insya Allah

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Selvi Faristasari
Mahasiswi S1 jurusan Matematika angkatan 2012 Universitas Gadjah Mada. Saat ini sedang mengikuti Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis Nurul Fikri (PPSDMS NF) di regional 3 Yogyakarta.

Lihat Juga

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati