Home / Berita / Nasional / Komunitas Migas Indonesia Minta Jokowi Jangan Naikkan Harga BBM

Komunitas Migas Indonesia Minta Jokowi Jangan Naikkan Harga BBM

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Jakarta. Pemerintahan baru Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi-JK) diminta untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal pemerintahannya. Jokowi-JK diharapkan cukup mengurangi konsumsi BBM bersubsidi dengan menggunakan energi alternatif seperti biodisel, gas dan listrik.

“Untuk hindari turunnya daya beli masyarakat, ruginya usaha kecil menengah, menambah angka kemiskinan perkiraan sebesar 1,5 persen serta menaikkan angka inflasi karena ketergantungan masih besar,” kata Ketua Dewan Pembina Komunitas Migas Indonesia (KMI) Iwan Ratman, Kamis (2/10).

Jokowi-JK, ujar Iwan, harus dapat menerapkan strategi pengurangan konsumsi BBM bersubsidi di awal pemerintahannya dengan empat cara, yakni efisiensi penggunaan BBM, diversifikasi bahan bakar, manajemen transportasi serta kebijakan fiskal. Efisiensi dapat berupa pengembangan industri mobil nasional berbahan bakar gas dan listrik secara masif. “Dengan strategi penguasaan pasar mobil nasional dan dapat dimulai dari mobil pemerintah dan BUMN,” paparnya.

Dia juga mengatakan kedepannya secara bertahap bbm bersubsidi hanya diperuntukkan bagi kendaraan masyarakat menengah ke bawah, misalnya angkutan umum agar subsidi tepat sasaran dan masyarakat terdorong menggunakan angkutan umum. Kenaikan harga BBM bersubsidi, tambah Iwan baru dapat dilakukan pada tahun pemerintahan selanjutnya secara bertahap saat ketergantungan masyarakat pada BBM sudah berkurang.

Sebelumnya, penasihat senior dari Tim Transisi Jokowi-JK Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Jokowi akan menaikkan harga BBM subsidi sebesar Rp3.000 per liter pada November guna mengurangi defisit anggaran dan mengalokasikan lebih banyak dana untuk memperbaiki infrastruktur. Jika jadi dilakukan, maka harga bensin premium bersubsidi dari Rp6.500 akan naik menjadi Rp9.500 dan harga solar bersubsidi akan naik dari Rp5.000 menjadi Rp8.500. (jkm/rol/abr/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abdul Rohim
Seorang suami dan ayah
  • okabasi doma

    Nalar dagang saya mengatakan, bahwa kenaikan harga BBM tidk memungkinkan adanya Bertambahnya Tingkat kemiskinan, daya beli yg lemah dan semacam lainnya yg berkaitan.
    Sebab tidak dinaikan bahkan diturunkan harganyapun, kondisi tetap sama saja, malahan menjadi tambah parah. Saya tidak sedang gemar berteori, semakin harga BBM mendekati harga yg wajar/normalnya harga atau kata lain dari tidak ada subsidi seperti sekarang, maka perekonomian negara semakin kuat dan bergairah, ujung ujungnya akan memicu masyarakat bangkit dari kemalasannya.
    Subsisi untuk BBM adalah keliru alamat, yg BENAR, subsidi dialamatkan ke PUPUK/PERTANIAN/perikanan dan liannya yg semacam, Alat alat Industri perumahan
    dan lainnya yg pada intinya SUBSIDI jangan sampai dinikmati orang yg tidk pantas mnikmati subsidi seperti halnya BBM ini.

    Saya hanya berharap, rakyat indonesia dididik untuk BERTABIAT yg SPORTIP, gemar kerja keras, tidak hanya gemar menyorongkan telapak tangannya, minta belas kasihan.
    Kalau ANDA berjiwa dan bertabiat SPORTIP percayalah, TUHAN akan memberikan NALAR yg CEMERLANG, dan jauh dari itu anda tidak dimasukan kedalam golongan yg ikut-ikutan(rubuh gedang). Sebab, Negara yg konyol perkembangannnya, negara dimana rakyatnya tidak berjiwa sportip dan bertabiat ikut-ikutan yg boleh disebut tidak punya prinsip.

    Saat ini subsidi sebagian kapasitas tertinggi hanya DINIKMATI oleh golongan masyarakat mampu, mengapa masyarakat yg tidak mampu JUSTRU menolak penghapusan SUBSIDI? a n e h !?.

Lihat Juga

Menteri ESDM memastikan bahwa BBM akan turun pada awal Januari 2016. (liputandepok.com)

Mengapa Ketika Harga BBM Turun, Harga Sembako dan Tarif Angkutan Umum Tak Turun?