Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar dari Siapapun

Belajar dari Siapapun

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)

dakwatuna.comIlmu-Nya sangatlah luas dan bertebaran di mana-mana, sehingga sebagai seorang manusia kita wajib untuk mengumpulkan dan mencari ilmu-ilmu tersebut. Tidak hanya untuk ilmu dunia tetapi juga ilmu akhirat yang akan dijadikan bekal kekal di hari akhir.

Begitu luas dan berlimpahnya ilmu-Nya di alam semesta ini sehingga Dia pun berfirman di dalam surah Al Luqman ayat 27,

“dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah”

Kalimat Allah yakni ilmu-ilmu Allah yang berhampuran di muka bumi ini. Hanya segelintir orang yang mampu memahami ilmu-ilmu yang berhamburan tersebut. Sebab, ada sebagian orang yang hanya memahami bahwa ilmu-ilmu itu hanya ada di sekolah-sekolah, kampus-kampus, buku-buku. Padahal, tidak hanya itu semua yang ada di alam semesta ini dan apa yang ada di sekeliling kita adalah ilmu. Tapi, kita belum terbiasa untuk menjadikannya ilmu.

Untuk itu, kita wajib belajar dari siapapun. Belajar dari tumbuh-tumbuhan, belajar dari hewan, belajar dari lingkungan sekitar, belajar dari pengalaman. Belajar tak mengenal kepada siapapun. Namun, hal yang perlu kita garis bawahi yakni belajar tentang ilmu-ilmu kebaikan bukan ilmu-ilmu keburukan.

Contoh singkat, kita belajar dari seekor semut. Kita ambil pelajaran yang bermanfaat dari seekor semut bukan mengambil yang buruk dari semut. Hal-hal yang baik kita ambil dan aplikasikan, hal-hal yang buruk hanya sekedar diketahui saja.

Setiap makhluk yang diciptakan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sama halnya dengan manusia. Manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Maka dari itu, jika kita belajar dari siapapun, bahkan jika kita belajar dari orang yang tak dikenal pun, hal yang baiklah yang ambil agar kita bisa ikut mengerjakannya.

Tak perlu malu untuk belajar. Apalagi merasa sudah tua, belajar tiada henti bahkan Rasulullah pun mengajarkan kepada kita agar belajar dari buaian hingga liang lahat.

“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” (HR. Bukhari)

Kanjeng Nabi mengajarkan kepada kita untuk menutut ilmu (belajar) ketika lahir hingga menjelang kematian. Sebab, begitu pentingnya ilmu yang akan digunakan kelak di dunia ataupun di akhirat.

Tentu, ilmu yang dimaksud beliau adalah ilmu-ilmu kebaikan yang bermanfaat yang pada muaranya akan membawa manusia pada ketakwaan sehingga secara tidak dengan ilmu-ilmu itu manusia menaati segala perintah-perintah-Nya dan karena ilmu itu pula manusia menjauhi segala larangan-larangan-Nya.

Dengan ilmu manusia diantarkan kepada ketakwaan. Itulah hakikat ilmu yang sebenarnya. Bukan ilmu yang mengajarkan manusia untuk semakin menjauh dan berani menentang semua perintah-Nya.

Semua yang terjadi di dunia ini adalah ilmu. Apapun yang kita rasakan selama ini adalah ilmu. Rasa senang, rasa sedih, rasa gelisah, rasa bahagia semuanya adalah ilmu. Namun, selama ini kita tak menyadarinya bahwa itu semua adalah ilmu.

Manusia berhak belajar kepada siapapun. Dia pun bisa belajar kepada dirinya sendiri. Belajar merawat diri, belajar membagi waktu, belajar menjaga kesehatan, belajar mengasah kemampuan. Setiap hari manusia belajar dari berbagai aktivitas yang dilakukan.

Jikalau kita menginginkan kebahagiaan di dunia maka harus kita peroleh kebahagiaan itu dengan ilmu. Jikalau kita ingin bahagia di akhirat, kebahagiaan itu juga diperoleh dengan ilmu. Jika kita menginginkan kebahagiaan kedua-duanya (dunia dan akhirat) yang mampu mengantarkannya yakni ilmu.

Bagaimana kita bisa belajar dari ilmu-ilmu-Nya yang berhamburan jika kita membatasi diri dalam menuntut ilmu? Kita hanya ingin ilmu-ilmu yang ada pada hal-hal yang baik. Padahal, hal-hal yang buruk pun mampu mengajari kita akan ilmu-ilmu yang baik.

Kembali kepada manusia sendirilah yang akan menentukannya. Dengan pandai memilah dan memilih ilmu yang bermanfaat dari dirinya. Ilmu yang akan mengantarkan sang manusia pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Ambillah semua ilmu yang bertebaran di muka bumi ini. Tapi, ambil ilmu-ilmu yang beraromakan kebaikan bukan ilmu-ilmu yang beraromakan keburukan.

Ambillah dari siapapun, tidak hanya pada hal-hal yang baik, hal-hal yang buruk pun akan memberikan ilmu yang baik, bukankan semua yang diciptakan itu berpasangan-pasangan? Ada baik ada buruk. Berarti semua hal yang baik pun ada hal yang buruk dan semua hal yang buruk ada hal yang baik.

Manusia sendiri yang akan memilih agar diri ini semakin luas dan banyak ilmu yang dimiliki. Ilmu kebaikan digunakan dan disebarluaskan agar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Ilmu keburukan cukup hanya diketahui saja tak perlu digunakan ataupun disebarluaskan. Sebab, kebaikan yang disebarluaskan akan berbuah amal jariyah yang pahalanya tak kunjung putus walaupun diri ini sudah tak bernyawa lagi. Sebaliknya, keburukan yang disebarluaskan akan menjadi sebuah dosa jariyah yang dosanya tak akan pernah berhenti mengalir hingga hari akhir.

Ilmu-Nya sangat berlimpah, manusia tak akan pernah mampu menandingi dan melebihi ilmu-Nya. Sepintar-pintar manusia hanya sepertriliun ilmu yang dia miliki dari ilmu yang sebenarnya bertebaran di muka bumi ini.

Sebuah ungkapan bijak yang perlu kita amalkan agar diri ini termotivasi dalam belajar dari ilmu-ilmu-Nya,

Jika ingin bahagia di dunia maka tuntutlah ilmu

jika ingin bahagia di akhirat maka tuntutlah ilmu

Jika ingin bahagia dunia akhirat maka tuntutlah ilmu

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Ilustrasi (Inet)

Belajarlah Dari Makhluk Allah Lainnya