Home / Narasi Islam / Wanita / Belajar dari Ibunda Siti Hajar

Belajar dari Ibunda Siti Hajar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Sebentar lagi tanggal 10 Dzulhijah. Satu di antara sekian banyak hari istimewa bagi kaum muslimin. Sebuah hari yang mengingatkan umat Islam pada peristiwa penuh inspiratif, kisah ketaatan hamba pada Rabb-Nya. Cinta Nabi Ibrahim, Ismail dan ibunda Siti Hajar yang tanpa syarat.

Keteladan Nabi Ibrahim, Ismail dan ibundanya sungguh amat sempurna. Mereka lah hamba-hamba yang demi cintanya pada Allah melakukan pengabdian dan pengorbanan yang tiada banding.

Banyak pelajaran yang dapat kita petik, dari perjalanan cinta keluarga Nabi Ibrahim. Akan tetap terjaga “hikmah”nya sebagaimana terpeliharanya Al-Quran. Sungguh, pengorbanan tak tertandingi keluarga mulia ini bisa diteladani oleh seluruh umat Islam sepanjang masa. Pun oleh makhluk lemah bernama wanita. Setiap muslimah bisa berkaca pada ibunda Hajar. Bercermin pada ketaatannya, cintanya dan pengorbanannya yang luar biasa.

Sebagai wanita, Ibunda Siti Hajar adalah pribadi yang amat tangguh, yang cintanya pada Allah teramat dalam. Sebagai istri Siti Hajar adalah pendamping yang penuh khidmat dan ketaatan pada sang suami. Sebagai ibu, Siti Hajar adalah wanita yang begitu menakjubkan. Kasih sayangnya yang sungguh besar pada sang buah hati, tak sedikitpun menghalanginya untuk tetap menempatkan Sang Khalik sebagai yang pertama di hatinya.

Saat ditinggal hanya berdua saja dengan permata hati yang masih bayi, di sebuah gurun tandus tak berpenghuni, Siti Hajar ridla dan ikhlas menjalani. Begitu tahu ayah putranya meninggalkan mereka adalah karena perintah Allah, maka Siti Hajar mendengar dan taat. Menaati Allah sekaligus suami yang amat dicinta.

Ketika Ismail, anak yang teramat menyenangkan hati, diambil untuk “dikorbankan” atas perintah Allah, Siti Hajar pun ridha dan sabar. Hati beliau begitu putih, tak ada prasangka apapun pada Allah, yang ada hanyalah sebuah keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pemberi Yang Terbaik. Hanya yang terbaik yang akan Allah berikan pada para hamba-Nya baik berupa ujian kesenangan maupun kesusahan.

Andai semua wanita bisa bercermin pada ibunda Siti Hajar, alangkah indahnya. Tak akan lagi dijumpai wanita yang berani melanggar perintah Rabbnya, berlenggak-lenggok di jalan tanpa hijab penutup aurat. Tak akan lagi ditemui istri-istri yang meraung-raung meratap menjerit-jerit saat suaminya tiada. Tak akan pernah ada lagi wanita yang kacau balau dan berbuat keji saat bercerai dengan suaminya. Tak akan ada, seorang ibu yang tega menyakiti bahkan membunuh anaknya sendiri. Tak akan ada wanita yang suka mencaci maki sesamanya. Tak ada lagi wanita yang sibuk bekerja mengumpulkan harta bahkan beraktivitas terlibat riba. Tak mungkin ada istri yang durhaka dan tak menaati suaminya. Tak ada wanita yang mau berbuat dzalim dalam hal apapun dan pada siapapun. Semua menjadi wanita taat, hebat, kuat dan smart!

Sama sekali ini bukan uthopis ataupun mimpi di siang bolong. Karena semua itu pasti bisa terjadi. Kalau ibunda Siti Hajar bisa, kenapa kita tidak? Kalau wanita-wanita lain bisa menjadi hamba yang kaffah menaati-Nya, bisa berkhidmat dan taat sepenuh cinta pada suaminya, mengapa kita tidak?

Kalau banyak wanita bisa menjadi ibu yang luar biasa, kenapa kita tidak? Kalau banyak wanita yang bisa bersabar dengan segala ujian hidup, kenapa kita tidak? Kalau banyak wanita yang mampu menjaga lisannya hanya untuk ucapan yang baik dan bermanfaat saja, kenapa kita tidak? Bukankah kita sama-sama wanita yang diciptakan Allah dengan karakteristik yang sama pula, tak ada perbedaan sedikitpun.

Belajar dari ibunda Siti Hajar akan membuat kita menjadi shalihah, kuat, dan tangguh. Bukankah ujian hidup yang kita hadapi tak seberapa dibandingkan dengan cobaan yang Allah berikan pada bunda Hajar?

Duhai diri, belajarlah dengan sesungguhnya belajar, bukan hanya belajar untuk mengetahui kisahnya saja. Belajar bukan hanya tentang konsep dan teori semata. Tapi belajar yang sempurna, disertai perubahan sikap, sifat dan perilaku. Belajar untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.

Ibunda Siti Hajar, meskipun begitu berat ujian dan cobaan dari-Nya, adalah wanita yang bahagia. Selalu qonaah dan tak pernah protes dengan keputusan-keputusan-Nya. Tidakkah kita ingin seperti beliau? Menghiasi hidup hanya dengan menaati-Nya, tak melanggar apapun perintah-Nya meskipun mungkin amat berat pengorbanan yang harus dijalani.

Selamat belajar duhai wanita. Belajar dari kisah amazing salah satu wanita hebat sepanjang zaman. Selamat memilih untuk menjadi wanita shalihah, yang senantiasa menaati-Nya, mencintai-Nya tanpa syarat. Selamat untuk memilih menjadi wanita bahagia, yang hanya mengharap ridha dan cinta-Nya. Love You because Allah….

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Masalah Sosial.

Lihat Juga

Belajar dari Bunda Hajar