Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Kesaktian Pancasila vs Kesakitan Pancasila

Kesaktian Pancasila vs Kesakitan Pancasila

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)

dakwatuna.com Apa kabar Muslim Negarawan?

Sudah tahu kan bahwa tanggal 1 Oktober merupakan hari kesaktian Pancasila. Namun ada baiknya kita cari tahu dulu sejarahnya sebelum kita menguak makna Pancasila secara tajam, setajam…… cutter.

Dahulu kala, bangsa kita pernah mengalami sebuah tragedi yang mengerikan, salah satunya adalah peristiwa G 30 S PKI. Sudah pernah nonton filmnya kan, misalnya bambu kuning. Di tahun 90an sering diputar di TVRI, tapi sekarang sudah dilarang oleh pemerintah. Kalau penasaran, download sendiri juga bisa di internet.

PKI adalah sebuah perkumpulan pemberontak berideologi Komunis yang diadopsi oleh segelintir penghianat bangsa. Ideologi PKI sangat bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia. Tentunya juga sangat bertolak belakang dengan ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila.

Fakta sejarah menyingkap bahwa dengan berbagai macam peristiwa sejak proklamasi, Pancasila mampu berperan sebagai pemersatu bangsa dan tidak tergoyahkan. Kemudian masuklah PKI dengan paham komunisnya ingin mengubah dasar dan asas bangsa Indonesia. Cara apapun mereka lakukan yang penting halal (karena semua cara, halal bagi mereka), dengan bantuan kekuatan asing tentunya.

Melihat sepak terjang PKI yang sangat arogan tersebut, sebagian besar masyarakat Indonesia menolak keberadaan PKI, termasuk para pejabat pemerintah saat itu. Hingga pada puncak kebiadaban dan keganasan yang dilakukan PKI yaitu pada tanggal 30 September 1965. Tragedi itu sering dikenal dengan nama peristiwa lubang buaya.

Hingga keesokkan harinya yaitu tanggal 1 Oktober 1965, Putra-putra terbaik bangsa ditemukan berguguran di dalam sebuah sumur tua. Mereka kini memiliki gelar sebagai pahlawan revolusi. Di lokasi tersebut dibangunlah sebuah tugu yang dinamai Tugu Kesaktian Pancasila.

Meletusnya pemberontakan G 30 S PKI hingga dibubarkan dan dilarangnya berkembangnya paham komunis di Indonesia, terbitnya Supersemar, hingga tumbangnya pemerintahan Presiden Soekarno merupakan tonggak berdirinya masa pemerintahan Orde Baru yang kemudian digulingkan juga dan digantikan oleh generasi Reformasi.

Peristiwa 1 Oktober 1965 merupakan cikal bakal berdirinya masa Orde Baru dan menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap tahunnya sekaligus hari libur nasional. Penetapan itu didasari oleh peristiwa yang terjadi pada hari dan bulan itu, di mana telah terjadi suatu usaha perongrongan Pancasila, namun berhasil digagalkan. Namun setelah Orde Baru runtuh, tepatnya setelah muncul generasi Reformasi, hari kesaktian Pancasila tidak lagi menjadi hari libur nasional.

Nah, sekarang sudah tahu kan sejarahnya. Selanjutnya kita mencoba untuk mencari tahu apa sih makna memperingati hari kesaktian Pancasila itu?

Kesaktian Pancasila bukan diartikan sebagai super hero seperti Superman atawa Emak Lampir, melainkan pandangan serta nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila mampu ditransformasikan oleh komponen bangsa dalam berkehidupan kebangsaan dan bernegara.

Pancasila itu mengandung nilai yang amat penting bagi bangsa, oleh karena itu Pancasila dijadikan sebagai asas Negara. Berarti setiap warga Negara mulai dari pejabat, politisi, birokrat, aparat, aktivis, aktivis keagamaan, buruh, pedagang, petani, nelayan, profesional, mahasiswa, pelajar, pengais sampah, pengangguran, tahanan dan masih banyak lagi, haruslah tindak tanduknya didasarkan pada nilai-nilai dan semangat Pancasila.

Pada kenyataannya, nilai-nilai dan semangat Pancasila yang dulu sangat membumi, kini bagai tercabut seperti tumbangnya pohon-pohon di hutan karena pembalakan liar. Kebersamaan dan persaudaraan yang dulu erat kini mulai lemah. Padahal bangsa kita adalah bangsa yang beragam, kaya akan perbedaan, bangsa yang pluralistik. Sehingga seharusnya keberagaman bukan untuk dihilangkan melainkan untuk dihargai, dihormati dan diperlakukan secara adil.

Hari ini kesaktian Pancasila mengalami kesakitan. Kesakitan yang lumayan akut dan tidak segera diobati. Pancasila hanya dijadikan sebagai simbol yang tak bermakna.

Fenomena yang membuat hati terenyuh adalah ketika menjelang Pemilu di beberapa daerah. Keberagaman menjadi terkoyak-koyak oleh karena kepentingan politik busuk dari pejabat busuk dan dari partai busuk pula. Perbedaan agama, suku dan warna kulit dieksploitasi untuk kepentingan sesaat yang sifatnya individualistik. Munculah fanatisme golongan yang bersifat negatif. Pancasila sila ke tiga hancur tak berarti.

Banyak partai berdiri dengan asas yang bertentangan dengan Pancasila. Sehingga partai politik yang seharusnya lebih aspiratif terhadap keberadaan rakyat serta peranannya dalam mengkonsolidasi demokrasi menjadi cacat. Pancasila sila ke empat mengalami degradasi yang signifikan ke arah kebangkrutan.

Hal yang sangat menyakitkan juga terjadi di negeri ini. Hukum seolah-olah berjalan dalam ruang yang gelap. Sandiwara lucu para bedebah pembeli hukum mengalahkan kesuksesan Opera Van Java dan sekawannya. Di manakah jalan yang Tuhan telah tunjukkan, mengapa tidak mengikuti jalan itu. Oh, ternyata Tuhan telah mereka ketiaki. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, malaikat Izrail telah mencabut nyawa Pancasila sila pertama.

Berbicara kesejahteraan, itu hanya cerita dongeng di negeri impian. Jika perut belum gendut, manalah mungkin rakyat berhenti kalut. Jika perut belum buncit, manalah mungkin rakyat berhenti mencicit. Pancasila sila ke lima terasa hambar dan basi, manalah mungkin untuk dicicip.

Padahal katanya Pancasila itu sudah final dan tidak boleh diganggu gugat sebagai landasan dan falsafah yang mengatur dan mengikat kehidupan bangsa. Katanya nilai-nilai Pancasila adalah hasil dari penggalian karakter dan budaya bangsa. Maka patutlah kita bertanya, mengapa Pancasila seolah menjadi anak tiri yang tak berharga.

Oleh karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober harus dijadikan sebagai kesempatan untuk merefleksikan tentang pemaknaan nilai-nilai dan kesaktian Pancasila itu sendiri. Hal ini sangat penting khususnya generasi muda, muslim negarawan sebagai pewaris peradaban, pemikir perjuangan, penoreh tinta emas yang menyejarah.

Di tengah terpaan dan kepungan pengaruh kekuatan global, generasi muda wajib menguatkan dan mempersenjatai diri agar tidak ikut terjerembab dalam liku-liku konspirasi dunia. Salah satunya adalah dengan menggali kembali nilai-nilai yang terkandung dan memaknainya sebagai sebuah energi untuk membangun jati diri bangsa dari keterpurukan.

Bangsa ini butuh kekuatan para pemuda. Pemuda yang halim dan cerdas dalam pikir serta tindakan. Pemuda-pemuda inilah yang akan menggantikan generasi lemah pendahulunya. Generasi manja, generasi malas, generasi maksiat, generasi makar, generasi mafia, generasi madon, generasi mabok, generasi madat, generasi maling dan segenap generasi busuk lainnya.

Harapan besar dari bangsa Indonesia, generasi cemerlang itu muncul tidak lain ialah kalian wahai muslim negarawan. Generasi yang dirindukan dan yang diimpikan. Generasi yang ‘alim namun tidak sok jaim. Generasi tarbiyah namun bukan pembuat masalah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Arif Borneo
Pribadi hanif yang sedang menyempurnakan jati dirinya melalui aktivitas tarbiyah.

Lihat Juga

Menengok Sejarah Pancasila: Ideologi Kebangsaan Berlandaskan Islam