Home / Berita / Nasional / Pengamat: Kekalahan Beruntun Kubu Jokowi Karena Lamban Merespon Sinyal Politik

Pengamat: Kekalahan Beruntun Kubu Jokowi Karena Lamban Merespon Sinyal Politik

Jokowi dan Elit Partai Pengusung.  (kompas.com)
Jokowi dan Elit Partai Pengusung. (kompas.com)

dakwatuna.com – Jakarta. Koalisi Indonesia Hebat sudah empat kali kalah di DPR. Penyebabnya, menurut pengamat politik Heri Budianto, koalisi yang mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla itu lamban dalam merespon sinyal dan dinamika politik yang berkembang.

“Menurut saya, ini kegagalan koalisi yang dipimpin PDIP dalam merespon sinyal-sinyal politik sejak sebelum pilpres sampai setidaknya hari ini,” kata Heri, Kamis (2/10/2014), dikutip dari Okezone.

Empat kekalahan mulai dari UU MD3, Tatib DPR, UU Pilkada dan paket pimpinan DPR dinihari tadi bukanlah peristiwa politik yang tiba-tiba muncul. “Ini merupakan kronologi politik yang sudah berjalan sejak lama,” cetusnya.

Menurut Heri, jika PDIP bisa mendesak Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sejak dulu untuk membuka ruang komunikasi politik pada elite parpol yang sekarang ada di kubu Koalisi Merah Putih, termasuk komunikasi dengan Presiden SBY, maka ceritanya akan lain.

“Jika Bu Mega dan Pak SBY sudah dipertemukan jauh-jauh hari, PDIP dan koalisi tidak akan mengalami kegagalan bertubi-tubi seperti ini,” ungkapnya

Sekarang, lanjut dia, semuanya sudah terlambat apalagi untuk menggaet Demokrat untuk koalisi di parlemen. “Sebab Demokrat sudah menunjukkan sikap ke KMP”.

Saat ini, Heri menilai, memang ada upaya keras elite PDIP untuk mempertemukan Megawati dan SBY. Namun, Heri melihat pertemuan kedua tokoh itu tidak akan mengubah peta di DPR.

Heri juga menerangkan, faktor lain yang menjadi penyebab kekalahan beruntun kubu Jokowi adalah lambannya Jokowi-JK dalam menentukan nama dan posisi menteri di kabinetnya.

“Sebenarnya jika ini cepat, bukan tidak mungkin PPP dan PAN yang memang sudah memberi sinyal bisa diajak bersama di parlemen,” tukasnya).

“Ini tentu juga bisa dimaklumi, karena Pak Jokowi serba salah, dengan pernyataannya yang tidak ingin bagi-bagi kekuasaan pada parpol,” tambahnya.

Inilah fakta politik yang membuat PDIP keteteran dalam merebut dukungan lebih selain dari PKB, NasDem, dan Hanura. “Mestinya politik jalan tengah ditempuh PDIP pasca penetapan kemenangan Jokowi-JK di MK,” jelasnya. (trk/okezone/sbb/dakwatuna)

 

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Konflik Peradaban dan Kebijakan Politik Barat