Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Budaya Belajar Tematik

Budaya Belajar Tematik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Maka apabila kamu telah selesai pada suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (Q.S. Al-Insyirah : 7)

Begitulah Al-Quran memberi penjelasan mengenai problem-solving. Karena problem-solving juga erat kaitannya dengan budaya belajar tematik. Bagaimana seseorang dapat menyelesaikan suatu pembahasan yang ingin diketahui, dengan teknis pembelajaran yang terstruktur. Sehingga output-nya ialah pemahaman yang menyeluruh, fokus, dan efisiensi waktu.

Jika berbicara mengenai konsep link and match pada sistem pendidikan Indonesia saat ini, maka bisa dikatakan bahwa; sebagian besar pelajar Indonesia tidak bisa mencapainya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan banyak hal. Seperti keterpaksaan dalam proses belajar-mengajar (tidak sesuai passion), kurangnya dukungan dari lingkungan (terutama keluarga dan teman), hingga kendala finansial yang membuat seseorang tidak bebas memilih sekolah. Sehingga yang terjadi ialah, para fresh graduate bekerja pada bidang yang bukan ahlinya. Karena orientasinya bukan lagi bekerja sesuai passion, tetapi bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang mendesak.

Adapun konsep link and match bisa ditafsirkan sebagai hal lain pada budaya belajar tematik. Bahwa diskontinuitas yang terjadi pada fresh graduate saat ini dikarenakan; Tidak adanya passion para mahasiswa ketika kuliah, dan para mahasiswa tidak memiliki budaya belajar yang tematik. Padahal jika dianalogikan; passion merupakan bahan bakar utama seseorang saat belajar, sedangkan gaya belajar tematik ialah mesin yang menambah akselarasi kecepatan mahasiswa ketika proses belajar-mengajar.

Jika diderivasi secara keistilahan, maka pembelajaran tematik ialah : Pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pembelajaran, sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada pelajar. Karena fungsi fokus pembelajaran, selain untuk efisiensi waktu, juga sebagai mediasi pengambilan spesialisasi pada suatu bidang. Sehingga output seseorang menjadi lebih jelas. M. Natsir sebagai tokoh utama Masyumi, maka yang terbayang ialah perjuangan syariat Islam. Sutan Sjahrir sebagai pendiri PSI, maka yang terbayang ialah perjuangan sosialisme di Indonesia. D.N. Aidit sebagai tokoh PKI, maka yang terbayang ialah perjuangan komunisme di Indonesia. Semuanya memiliki spesialisasi, dan inilah yang membuat nama mereka dikenang oleh rakyat Indonesia.

Sehingga dalam kepemimpinan surgawi, seorang pemimpin memang dituntut untuk mengetahui banyak disiplin ilmu. Hal itu sudah menjadi keniscayaan perkembangan zaman. Tetapi spesialisasi tetaplah dibutuhkan. Agar seseorang memiliki karakter dan cita rasa tersendiri dalam kehidupan sosial sehari-hari. Karena kebermanfaatan dalam masyarakat dengan keahlian, jauh lebih nikmat dari kebermanfaatan yang tidak didasarkan pada keahlian.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Belajar dari Sato san, Seorang Muslim Penduduk Asli Jepang