Home / Narasi Islam / Sejarah / Peran Misionaris Kristen Perancis dalam Pelemahan Khilafah Utsmani

Peran Misionaris Kristen Perancis dalam Pelemahan Khilafah Utsmani

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Jauh-jauh hari sebelum Khilafah Utsmani tumbang pada tahun 1342 H/1942 M di sekitaran waktu tiga abad sebelumnya. Pada masa pemerintahan Sultan Salim II lebih tepatnya pada tahun 980 H/1569 M, Charles IX (Raja Perancis) memperbaharui kesepakatan damai dengan Sultan Salim II. Salah satu hasil pembaharuan kesepakatan itu adalah semakin bertambahnya keistimewaan yang diberikan kepada konsulat Perancis. Pada saat itu juga Henry de Palo (saudara Raja Perancis) dinobatkan sebagai Raja Polska atas persetujuan Perancis. Kemudian Polska menjadi pusat kawasan bisnis di kawasan Laut Tengah. Perancis pun mulai merealisasikan hasi kesepakatan damai itu. Perancis mengirimkan para misionaris Kristen ke seluruh wilayah Khilafah Utsmani yang di dalamnya terdapat pemeluk Kristen bahkan lebih khusus ke daerah Syam.

Misi para misionaris itu selain membawa misi penyebaran agama. Mereka senantiasa menanamkan rasa cinta pada pemerintahan Perancis di dalam hati orang-orang Kristen yang bertempat tinggal di kawasan Khilafah Utsmani. Akhirnya sukseslah misi itu, pengaruh Perancis menyebar di tengah-tengah pemeluk Kristen yang kemudian hal ini menjadikan melemahnya posisi Khilafah di hadapan warganya yang beragama Kristen. Pembangkangan demi pembangkangan terhadap pemerintah Utsmani mulai merebak setelahnya. Para misionaris yang tak mau merubah kewarganegaraannya itu dan lebih banyak memakai bahasa minoritas Kristen, merekalah yang senantiasa mempelopori kegiatan pemberontakan-pemberontakan.

Hak keistimewaan hasil dari perjanjian damai ini senantiasa tarik ulur dikarenakan prilaku Perancis yang ternyata membawa misi buruk untuk melemahkan Khilafah Utsmani. Siasat Perancis selanjutnya yang dilakukan terhadap pemerintahan Utsmani adalah menyetujui kembali sistem hak keistimewaan pada tahun 1673 M. Ironisnya Utsmani yang di masa kekuasaan Sultan Murad IV (1033-1049 H) walaupun sadar akan gelagat Perancis kemudian memerintahkan Perancis memberikan kewenangan untuk ikut melindungi (merongrongi) Baitul Maqdis.

Di dalam kesepakatan baru yang terjadi pada tahun 1740 M, pemerintah Utsmani memberikan tambahan hak-hak istimewa bisnis kepada Perancis. Selanjutnya hak ini dicabut atau dibatalkan tatkala Napoleon Bonaparte menduduki Mesir. Namun karena Napoleon Bonaparte menarik diri dari Mesir demi mendapat kembali hak istimewa. Dan benar pada tanggal 9 oktober 1801 M pemerintah Utsmani menambahkan hak istimewa pada Perancis dengan menambahkan hak istimewa di bidang bisnis dan kelautan di laut hitam. 1

Penjilatan Perancis terhadap Khilafah Utsmani dengan menggunakan hak istimewa berlangsung terus menerus sehingga menyebabkan kehancuran ekonomi Khilafah Utsmani semakin parah. Para penjilat itu seperti membangun Negara dalam Negara.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Haerudin Muhammad Zain
Ketua Yayasan Profetik Muda Indonesia.

Lihat Juga

DDII Kecam Pelarangan Jilbab oleh Perdana Menteri Perancis