Home / Berita / Daerah / Al-Quran Kitab Universal, Bukan Hanya untuk Orang Arab

Al-Quran Kitab Universal, Bukan Hanya untuk Orang Arab

Ahmad Rafiq, Ph.D, Ketua Laboratorium Religi dan Budaya Lokal (LABeL) UIN Sunan Kalijaga.  (Chozin Amrullah)
Ahmad Rafiq, Ph.D, Ketua Laboratorium Religi dan Budaya Lokal (LABeL) UIN Sunan Kalijaga. (Chozin Amrullah)

dakwatuna.com – Yogyakarta.  Al-Quran adalah kitab suci dan sumber utama ajaran Islam yang bersifat  universal dalam hal waktu dan tempat. Al-Quran diturunkan selama kehidupan Nabi Muhammad SAW yang ditulis dalam bahasa Arab namun untuk tujuan universal. Target audiens Al-Quran adalah seluruh umat manusia, tanpa memandang bahasa mereka atau bahkan agama.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Laboratorium Religi dan Budaya Lokal (LABeL) UIN Sunan Kalijaga Ahmad Rafiq, Ph.D. di Yogyakarta (30/9).

“Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia. Meskipun bahasa Arab bukanlah bahasa rakyat negeri ini, mereka memahami Al-Quran sebagaimana penduduk Muslim lainnya di seluruh dunia, dan menempatkannya dalam konteks kebutuhan dan situasi lokal mereka”,

Pada kesempatan diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerjasama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies), Rofiq membeberkan disertasinya berjudul “The Reception of the Qur’an in Indonesia: A Case Study of the Place of the Qur’an in a Non-Arabic Speaking Community.

Dalam kesempatan tersebut, Rafiq menjelaskan bahwa dalam konteks masyarakat Banjar sebagai penghuni utama Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan, mereka menerima Al-Quran sebagai teks tertulis maupun non-tertulis (pembacaan). Lebih lanjut, Al-Quran menjadi bagian dari kehidupan warga Banjar yang bersifat ekstensif. Al-Quran hadir dalam berbagai sisi kehidupan warga Banjar, sejak lahir sampai ke liang kubur. Untuk menjembatani hambatan bahasa, warga Banjar membaca Al-Quran sebagai bagian dari ritual zikir. Ritual ini menekankan pada tradisi lisan yang dianggap sebagai cara untuk mengundang berkah, penghargaan, dan nilai-nilai kesalehan Al-Quran.

“Warga Banjar menilai bahwa setiap bagian dari Al-Quran yang dibaca akan berharga dan berkhasiat untuk memenuhi kebutuhan material dan rohani,” katanya.

Sementara itu, Mukhlis Rahmanto, Lc., M.A., dosen Fakultas Agama Islam UMY, yang menjadi pembahas dalam forum tersebut memaparkan bahwa penemuan dalam disertasi Ahmad Rafiq menjelaskan tentang praktek kaum Muslim peri-peri yang tinggal jauh dari pusat perkembangan Islam di Mekah dan Madinah. Dalam konteks ini, masyarakat Muslim peri-peri tidak lagi mempertimbangkan apakah praktek yang mereka lakukan itu memiliki rujukan yang shahih atau tidak. (sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran

Organization