Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Tadulako Madani Bukan Hanya Mimpi

Tadulako Madani Bukan Hanya Mimpi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Taman Universitas Tadulako. (berandanews.com)
Ilustrasi – Taman Universitas Tadulako. (berandanews.com)

dakwatuna.com Rasa-rasanya bila ingin berbicara dan bercerita tentang kampus madani, tinta imajinasi ini tak akan pernah kering, tangan ini sepertinya tak akan pernah lelah untuk menuliskan hikmah, pikiran ini akan menjadi dinamis bergerak mencari ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang agama ini, agar lebih paham tentang hakikat dan manhaj dakwah, terkhusus bidang dakwah kampus. Mengapa harus dakwah kampus? Karena di kampus lah tersimpan potensi-potensi para pemuda yang kelak menjadi penggerak bangsa dan negara ini. Kelak, para pemuda yang menisbatkan diri menjadi the agent of change ini akan mengambil peran-peran penting dan posisi strategis bagi bangsa dan ibu pertiwi yang tengah dirundung duka karena pelbagai permasalahan pelik. Ini bukan berbicara tentang jabatan atau kedudukan, tetapi tentang kontribusi yang terbaik untuk tanah air tercinta. Bukannya sok nasionalis atau sok Islamis, tetapi pada dasarnya kedua hal ini, yaitu tentang agama dan negara hendaknya tidak dipisahkan. Seperti kata Prof.Mahfud MD bahwa agama dan negara adalah dua sisi yang tidak dapat di pisahkan karena nantinya akan saling melengkapi. Jangan sampai pemahaman tentang memisahkan urusan agama dan negara mewabah di kalangan pemuda karena ini adalah salah satu propaganda kaum liberalis, yaitu desacralization of politics.

Adalah Universitas Tadulako, sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berada di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Kampus yang masih tergolong muda, karena dulunya masih berstatus swasta. Didirikan oleh sejumlah tokoh masyarakat di Sulawesi Tengah pada Tanggal 8 Mei 1963. Dalam perkembangan selanjutnya, Universitas Tadulako mendapatkan status terdaftar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Nomor : 94/B-SWT/P/1964 tertanggal 12 September 1964, dan kemudian resmi menjadi Universitas Tadulako Cabang Universitas Hasanuddin dengan empat fakultas yaitu : Fakultas Ekonomi, Sosial Politik, Hukum, dan Fakultas Peternakan, berdasarkan SK Menteri PTIP Nomor 2 Tahun 1966 tertanggal 1 Januari 1966. Setelah kurang lebih lima belas tahun berjuang membangun sebuah lembaga pendidikan tinggi negeri dengan status cabang Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan, maka tepat pada tanggal 18 Agustus 1981 Universitas Tadulako resmi menjadi Universitas Negeri yang berdiri sendiri di Provinsi Sulawesi Tengah dengan berdasar pada Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1981. Kata Tadulako memiliki dua makna yang berbeda. Pertama, Tadulako adalah sifat patriotik, kepahlawanan, gigih, dan pantang menyerah. Kedua, Tadulako adalah salah satu jabatan dalam struktur pemerintahan di beberapa kerajaan di Sulawesi Tengah. Tadulako bisa diartikan sebagai panglima perang. Sedangkan Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Gelora ini terus menggebu-gebu, dengan personil yang seluruhnya adalah pemuda, maka wajar saja seperti ini. Tadulako Madani memang terlihat seperti visi yang lugas, tetapi sesungguhnya sangat kompleks. Yang memperjuangkan visi mulia ini adalah sekelompok pemuda yang berhimpun dalam sebuah entitas dakwah kampus. Pemuda dengan tipikal yang berapi-api, memiliki semangat yang bergelora dan menggebu-gebu untuk melakukan perubahan. Amat sangat idealis dalam tindak tanduknya, mungkin karena masih terbiasa di alam idealis dan belum merasakan alam realitas yang sesungguhnya. Mungkin karena terlalu banyak berteori dan masih kurang pengalaman untuk praktek di lapangan. Maka, gelora yang terus menggebu-gebu ini harus di kontrol dengan Takwa. Takwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Menurut DR.Hasan el-Qudsy, orang yang bertakwa artinya orang yang mau menjaga dan memelihara dirinya dari api neraka dengan selalu menjalankan perintah Rabb-nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (QS. At-Tahrim : 6). Oleh sebab itu, takwa sebagaimana disebutkan dalam sebuah definisi, adalah merupakan konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh yang di pupuk dengan perasaan selalu di awasi oleh Allah SWT., merasa takut terhadap murka dan azab-Nya, serta selalu mengharapkan limpahan karunia dan ampunan-Nya. Kalau bukan Takwa pengontrolnya maka gelora yang menggebu-gebu tersebut akan tak terkendali.

Azzam ini terus menghujam hingga ke nurani. Azzam adalah tekad yang dengan segenap upaya akan diwujudkan. Bila tekad ini sudah menyentuh nurani, maka yakinlah bahwa setiap langkah untuk membuktikan tekad akan diiringi oleh getar hati nurani. Untuk tekad yang menghujam hingga ke nurani ini, dengan segenap jiwa dan raga harus dipersembahkan bagi dakwah. Dakwah adalah jalan yang tepat untuk merealisasikan visi kampus madani. Maka, kalau bukan dakwah jalannya, maka tekad tersebut akan menjadi anarkis.

Aura ini terus menyeruak menawarkan solusi. Solusi tentang berbagai macam permasalahan kompleks di bangsa dan negara tercinta ini. Sekelompok pemuda ini terus mengeluarkan aura para penuntas mimpi. Bermimpi agar suatu saat kampus madani bisa tercapai setapak demi setapak, secara bertahap. Hargailah setiap proses menuju kampus madani, karena ini adalah visi mulia nan indah para aktifis dakwah kampus. Maka, mereka membutuhkan nilai yang bisa di jadikan acuan, dan sudah pasti islam akan senantiasa menjadi panduannya, dengan bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Maka, kalau bukan Islam panduannya, maka ia hanya menjadi motivasi tanpa nilai.

Ekspansi terus-menerus dilakukan. Ketika perluasan cakupan dakwah menuju kampus madani terus dilakukan, maka yang dibutuhkan adalah kekuatan barisan dan eratnya persaudaraan. Barisan yang kokoh serta persaudaraan yang erat ini perlu penguatan internal yang berkelanjutan. Bagaimana bisa menyeru orang-orang untuk mentoring tetapi diri sendiri malas untuk mentoring?! Bagaimana bisa menyeru orang-orang untuk berbuat baik tetapi diri sendiri saja masih memiliki akhlak dan perilaku yang buruk?! Bagaimana bisa mengajak orang-orang untuk berdakwah tetapi diri sendiri belum memahami dakwah karena malas ikut kajian dan daurah yang bersifat rutin?! Maka, kalau saja penguatan internal bukan agenda utamanya, maka ekspansi tersebut hanya akan menjadi pencitraan pribadi atau lembaga yang bersifat hambar.

Hanya kepada Allah kami meminta semangat yang menggelora namun terkontrol, hanya kepada Allah kami mengharap aura penuntas masalah dengan Islam acuan utamanya, hanya kepada Allah kami menerima energi yang besar dan terus-menerus, kami mensyukuri nikmat itu, kami akan terus perbarui dengan Takwa dan konsisten. Luruskan niat! Rapatkan barisan! Pererat ukhuwah! Tuntutlah ilmu! Perjuangkanlah dakwah ini dengan darah dan air mata! Insya Allah, Tadulako Madani bukan hanya mimpi.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Indonesia, Mati atau Madani?