Home / Berita / Internasional / Afrika / Kisruh Kurikulum Baru Mesir, Nafikan Revolusi 25 Januari dan Puji Kubu Pro-Kudeta

Kisruh Kurikulum Baru Mesir, Nafikan Revolusi 25 Januari dan Puji Kubu Pro-Kudeta

Anggota gerakan Tamarrud bertemu dengan Presiden transisi Mesir, Adly Manshour (fath-news.com)
Anggota gerakan Tamarrud bertemu dengan Presiden transisi Mesir, Adly Manshour (fath-news.com)

dakwatuna.com – Kairo. Kurikulum baru Mesir menafikan keberadaan revolusi Januari 2011 yang menumbangkan diktator Husni Mubarok. Namun fokus kepada peristiwa 30 Juni, gerakan “Tamarrud” (pemberontak) yang mendukung kudeta militer terhadap presiden terpilih, Muhammad Mursi. Kurikulum ini sangat menyanjung tokoh Tamarrud dengan menampilkan foto-foto mereka.

Hal ini mendapat kritikan keras dari berbagai kalangan, dan meminta agar para penanggungjawab pembuat kurikulum ini dipecat, termasuk juga Menteri Pendidikan dan Pengajaran.

Ishaq Abid, anggota Komite Sejarah di Majelis Tertinggi Kebudayaan mengkritik hasil kurikulum baru ini. Ia tidak sepakat penulisan sejarah dari peristiwa yang masih terjadi, menurutnya peristiwa politik seperti ini tidak dimasukan ke dalam sejarah terlebih dahulu, kecuali setelah berlalu sekitar 50 tahun.

Zizou Abduh, aktivis politik dan petinggi Front Revolusi menolak keras pencantuman tokoh-tokoh Tamarrud dalam kurikulum sekolah. Menurutnya, tokoh pemeberontak seperti Mahmud Badar, Muhammad Abdulazis dan Hasan Syahin, merupakan dalang yang pertama kali memercikan api penggulingan terhadap pemerintahan Mursi yang sah.

Sedangkan Organisasi Keadilan dan Pembangunan meminta agar Menteri Pendidikan dan Pengajaran dicopot dari jabatannya, termasuk juga mereka yang turut serta dalam pembuatan kurikulum tersebut. Zaidan Al-Qanaain, penasehat dari organisasi ini mengatakan, kementerian pendidikan bertanggungjawab penuh terhadap kurikulum ini, karena telah melakukan distorsi terhadap sejarah, dan ini merupakan bentuk penghinaan terhadap rakyat Mesir yang berjuang pada revolusi 25 Januari lalu. “Tindakan ini adalah bentuk pelecehan terhadap bangsa Mesir, para pemudanya, kelompok gerakan revolusi dan keluarga para syuhada revolusi,” tegas Zaidan. (msy/imo/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Syarief

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Syarief
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Lihat Juga

Kebutuhan Hidup Semakin Mahal, Seorang Warga Mesir Frustasi Dan Membakar Diri