Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ngaji Kok Diabsen?

Ngaji Kok Diabsen?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

tarbiyahdakwatuna.com “Ngaji kok diabsen!” celetuk peserta kajian yang diminta oleh kakak tingkatnya untuk mengisi presensi kajian rutin pekanan kala itu. Kenapa harus ngisi absen (presensi) saat kajian (ngaji) ?

Ini bukan perkara keikhlasan semata, karena ikhlas itu dari hati masing-masing. Mau ikhlas atau tidak ikhlas terserah yang menjalani. Bahkan yang menjalanipun tidak bisa memastikan apakah yang dia perbuat itu ikhlas atau tidak ikhlas. Tapi akan lebih baik lagi kalau apa yang kita lakukan selalu berdoa agar Allah menerima aktivitas kita. Kita juga tidak bisa menjamin orang yang tidak ngisi absen itu aktivitasnya diridhai (dapat pahala) atau tidak, begitu juga sebaliknya.

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah 274)

Kita berkominutas (berjamaah) mempunyai aturan yang harus ditegakkan. Dalam ranah kaderisasi komunitas kita juga punya mekanisme perencanaan, penerapan dan evaluasi. Sehingga setiap aktivitas tarbawi harapannya terkontrol dan terevaluasi, bukan hanya sekadar teraplikasi (terlaksana).

Aktivitas tarbiyah bukan sebatas pertemuan rutin pekanan saja. Halaqoh adalah salah satu sarana tarbiyah yang ada. Dalam aktivitas tarbiyah, kita mengenal sarana-sarana tarbiyah yang wajib dijalani oleh semua peserta tarbiyah. Untuk bisa mengetahui sarana mana saja dalam setiap tahunnya yang sudah dan belum diikuti peserta tarbiyah maka harus ada tools yang digunakan untuk mengetahui tingkat partisipasi peserta terhadap sarana-sarana tarbiyah yang ada.

Mudahnya kenapa kita harus ngisi absen juga saat kuliah? Ini bukan perkara ikhlas tau tidak ikhlas, tapi ada aturan yang terkait hal itu. Ketika absensi kita tidak lengkap atau tidak memenuhi persentase minimal, maka kitapun tidak akan bisa mengikuti ujian dan tidak lulus mata pelajaran tersebut. Kalau tidak lulus atau tidak bisa ikut ujian, dosen yang perhatian terhadap mahasiswanya pasti akan menanyakan dan menasehati kita, karenanya sang dosenpun nanti akan ditanya atasannya kenapa banyak yang tidak lulus mata kuliahnya.

Begitu juga dengan aktivitas tarbiyah kita, dikontrol dan dievaluasi meskipun ini hanya ikhtiar seorang manusia biasa bukan bermaksud menghilangkan keikhlasan dari peserta, di sisi lain kita hanya ingin mengetahui keterlibatan, keaktifan, militansi peserta dalam agenda komunitas. Aktivitas tarbiyah kita dipantau dari segala sarananya; siapa yang jarang tasqif, siapa yang tidak pernah mukhayam, semua terdokumentasikan berdasarkan presensi yang ada saat itu. Semua diinput dan dilaporkan berdasarkan periode. Sehingga satu orang tidak absen (sengaja atau lupa) akan mengurangi indeks pencapaian personal atau pencapaian wilayah kita berada (ranting, cabang, wilayah).

Maka tidak aneh jika kita akan dituntut mengisi presensi oleh orang di atas kita, begitu juga orang yang di atas kita akan selalu ditagih laporan terbaiknya dan perkembangannya dari segi kuantitas kehadiran (berdasarkan presensi) di wilayah kerjanya. Semakin banyak yang rajin maka akan meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas komuntas itu sendiri. Tapi semakin sedikit partisipasi peserta (banyak yang tidak hadir) maka akan melemahkan personal peserta tarbiyah tersebut serta akan melemahkan komunitas tersebut, membuat semakin rapuh dan mudah diterpa masalah serta bisa jadi akan berkurangnya keberkahan dalam komunitas. Sehingga bukan malah memperbaiki dan bermanfaat bagi diri dan lingkungan sekitar malah menjadi sampah masyarakat, semakin hancur karena kesibukan.

Wasail tarbawi (sarana tarbiyah) kita berbasis muwasshofat dan sarananya bukan hanya halaqah semata, tapi ada sarana lain yang saling terikat dan wajib diikuti oleh setiap anggota komunitas. Kalau bukan kita sebagai anggota komunitas itu yang menjalankan aktivitas itu lalu siapa lagi yang akan meramaikannya?

Allahu ‘alam bishawab.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heri Heryanto
#Konsultan, #Alumni FSLDK, #Melingkar, Pencari Ridho Allah SWT

Lihat Juga

Ilustrasi. (playbuzz.com)

Konsep Pendidikan Dalam Al-Quran