Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memudarnya Proses Ta’aruf

Memudarnya Proses Ta’aruf

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Tidak dapat dipungkiri kemajuan teknologi begitu berpengaruh dalam hal gaya berkomunikasi manusia saat ini. Hampir tidak ada batasan ruang dan waktu lagi. Begitu pula dalam hal proses ta’aruf atau proses seseorang yang hendak serius mencari seseorang untuk dinikahi.

Idealnya seseorang yang sedang ta’aruf haruslah ada yang menjadi perantara. Walaupun dalam hal ini sang perantara memang benar-benar harus meluangkan pikiran dan waktunya. Ya sedikit direpotkanlah. Tapi tenang insya Allah bernilai pahala di sisi Allah subhanahu wata’ala. Itu bila yang membantu kita adalah teman ataupun guru ngaji. Tapi bila langsung lewat orang tua sang wanita malah lebih baik.

Tapi terkadang dalam perjalanannya karena sang perantara anggaplah dalam hal ini teman, merasa kerepotan dia sengaja menyilakan sang ikhwan dan akhwat ini ngobrol langsung lewat telponan, sms, bbm, inbox fb atau media sosial lainnya. Jika tahapnya masih awam sekali benar-benar belum kenal, biodata masing-masing pun tidak begitu diketahui, baiknya jangan dulu. Tidak ada yang bisa menjamin perjalanannya proses mereka akan benar-benar syar’i. Teman penulis pernah mengalami yang seperti ini. Tiap hari sang ikhwan menanyakan kabar sang akhwat, “‘Assalamu’alaykum, apa kabar ukhty?”. ”Siang, udah makan Ukh?”. ”Ukhty, bangun ukh, tahajud dulu”. Aduh sudah seperti orang pacaran saja.

Sungguh teman saya jadi ilfill. Akhirnya ia sampaikan kepada teman yang membantunya bahwa dia tidak melanjutkan ke proses selanjutnya. Saya tidak bermaksud menyalahkan teman-teman yang subhanallah telah begitu baik membantu saudaranya mencari pendamping hidupnya. Hendaknya niat kita yang baik itu jangan sampai dirusak dengan memberikan kesempatan kepada orang yang kita bantu melakukan hal yang dilarang. Baiknya kita pertemukan mereka (nadzar) minimal sekali, berikan kesempatan mereka bertanya segala sesuatunya di sana. Bila telah ada ‘signal’ akan lanjut silakan mereka melanjutkan melalui keluarga.

Jika sudah sampai di keluarga masing-masing, hendaknya kita sebagai perantara jangan terlalu ikut campur lagi akan segalanya. Cukup sebatas yang mereka butuhkan saja. Misalnya jika pendapat yang mereka inginkan, berikanlah pandangan kemudian kembali minta dia istikharah karena sesungguhnya Allah lah yang mengetahui segala perkara yang ghaib (masa akan datang).

Bagi ikhwan dan akhwat mari belajar lagi bagaimana agar perjalanan niat suci itu benar-benar diridhai-Nya. Memang tidak mudah menjaga hati apalagi terhadap lawan jenis. Jagalah komunikasi dengan sebaik-baiknya karena syetan selalu mencari celah untuk menggoda. Dalam pergaulan sehari-haripun jika dirasa itu bukan perkara yang penting tidak perlulah berkomunikasi. Simpanlah semua perhatian dan sms mesra itu bila ia telah halal bagimu.

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tridai Sepitri
Alumni IAIN Jambi, Pegiat Rumah Baca Duku Anjabi (Dunia Buku Anak Jambi) 2 dan Anjabi Writing Community (AWC).

Lihat Juga

Fahira Idris, Wakil Ketua Komite III DPD (poskotanews.com)

Sudah Saatnya DPD RI Dikuatkan