Home / Berita / Opini / Raisul Qawiy’ (Pemimpin Kuat)

Raisul Qawiy’ (Pemimpin Kuat)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

berbarisdakwatuna.com Di tengah keberagaman masalah umat saat ini, Indonesia sangat membutuhkan sosok raisul qawiy (pemimpin kuat). Pemimpin yang memiliki integritas, dan pemimpin yang memiliki wawasan politik global secara baik. Kenyataannya, krisis kepemimpinan sangat dirasakan oleh Indonesia saat ini. Indonesia seperti kehabisan figur presiden yang hebat selain Soekarno. Karena memang gaya kepemimpinan Soekarno yang kuat itulah, yang membuat Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan, dan memiliki peran yang besar dalam mengatur arah konstelasi politik global. Sehingga Soekarno mempunyai kesan tersendiri di dalam hati masyarakat Indonesia.

Apabila diamati secara seksama, setiap presiden memiliki pesona tersendiri. Jika kedaulatan politik adalah pesona seorang Soekarno. Maka kedaulatan ekonomi menjadi pesona seorang Soeharto. Adapun seorang Habibie, lahir dengan kejeniusan seorang akademisi tulen. Pak Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur; memimpin dengan label pluralismenya, sehingga dapat merangkul banyak golongan di luar Islam. Ibu Megawati dengan sifat keibu-ibuannya, membuatnya sangat hati-hati dalam bertindak. Pak SBY yang terkenal sebagai ahli strategi saat di dunia militer, membuatnya menjadi pribadi yang berani menjaga isu perdamaian Internasional. Dan saat ini, pak Joko Widodo tampil dengan kesantunan dan kesederhanaannya dalam memimpin.

Dari akumulasi pesona presiden yang ada, memang sudah saatnya Indonesia bekerja keras untuk menciptakan sebuah model kepemimpinan kolektif. Di mana pesona ke-7 presiden yang ada, digabung menjadi satu; tapi tetap dalam koridor kerangka raisul qawiy. Agar Indonesia bisa keluar dari krisis ketidakpercayaan diri yang tinggi seperti saat ini.

Bagaimanapun juga, kebangkitan sebuah negara selalu diawali oleh kepemimpinan yang kuat. Bagaimana Ayatullah Khomeini memimpin revolusi Iran. Sehingga Iran dapat hijrah dari kebobrokan negara monarki di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi, menjadi negara republik Islam yang kuat. Bagaimana Napoleon Bonaparte memimpin Revolusi perancis, untuk mengakhiri kesemena-menaan raja Louis XIV. Atau ketika Vladimir Lenin mempelopori Revolusi Bolshevik, sehingga dapat menumbangkan pemimpin diktator Tsar Nicholas II. Para ahli sejarah menganggap bahwa ketiga revolusi itulah yang menjadi 3 revolusi terbesar sepanjang sejarah politik global modern. Dan semuanya bermuara dari satu kata, berani !

Karena tidak mungkin, seorang pemimpin bisa keluar dari kemelut panjang; jika pemimpin, sebagai orang pertama yang memberikan komando. Tidak memiliki skill kepemimpinan yang mumpuni, dan tidak memiliki konsep metodologi yang jelas dalam mengahadapi konfik. Soekarno lahir dengan konsep negara yang mewadahi seluruh keragaman yang ada di Indonesia. Soekarno lahir dengan intelektualitas yang menjawab banyak problematika bangsa. Soekarno dilahirkan dengan kharisma, yang tidak dimiliki intelektual lainnya. Dan yang terpenting, Soekarno lahir dengan keberanian melawan imperialisme bangsa asing.

Sehingga sudah saatnya Indonesia mencetak generasi raisul qawiy, dalam format kepemimpinan surgawi. Agar segala perjuangan yang lahir, selalu kembali kepada perjuangan Agama. Agar umat yang dipimpinnya, selalu terarah pada kerja panjang yang berskala peradaban. Dan yang tak boleh dilupakan ialah; Indonesia kokoh menegakkan panji-panji Islam, sehingga bisa mengangkat kembali isu-isu keislaman, yang mulai tersisihkan.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: b-s-m.de)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Menguatkan Empat Komitmen