Home / Pemuda / Cerpen / Segores Luka dalam Sepotong Senja

Segores Luka dalam Sepotong Senja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nyepsycho.wordpress.com)
Ilustrasi (nyepsycho.wordpress.com)

dakwatuna.com“Pranggggg” bunyi ponselku jatuh mengenai lantai kamarku. Aku mengacuhkannya dan sesaat kupandangi seluruh isi kamar tak seperti biasanya. Kuarahkan pandanganku ke meja belajar biasanya terlihat cantik nan anggun. Tatanan buku-buku yang dengan sengaja kutata, kini tak ada lagi hanya lembaran kertas dan benda-benda lain yang berserakan tak beraturan. Lalu ku tengok tempat tidur yang tak pernah ku biarkan terdapat sehelai rambutpun terlihat berada di atas kasurku. Kini tak lagi seperti itu, bantal dan guling tanpa sarung tergeletak di atas dan bawah tempat tidurku. Terakhir kutatap cermin yang terletak di hadapanku. Seharusnya sosok yang yang berada di balik cermin itu adalah sosok gadis dengan paras cantik, anggun, penuh semangat dan tegar. Namun saat ini aku seperti melihat sosok lain, wajah yang pucat pasi tak berekspresi menghiasi cermin yang telah kutatap dari tadi. Pelan-pelan kudekati sosok itu, kuraba wajah pucat itu dengan tangan yang mulai berkeringat. Lalu ku bergumam padanya “Kamu kah ini wahai diriku? Benarkah? Atau aku sedang bermimpi atau berhalusinasi?”. Tak terasa air sebening embun itu menetes membasahi pipi yang mulai tak terawat.

“Siapa ini?” pertanyaan yang berulang kali kutanyakan pada sosok yang berada di balik cermin. “Aku yang sesungguhnya bukan seperti ini, tolong kembalikan aku yang dulu dan beritahu aku mengapa hal ini bisa terjadi”. Ucapku setengah berteriak.

***

Semua berawal dari kedekatanku dengan seorang sahabat yang luar biasa baik dan shalihnya. Jujur aku yang berasal dari latar belakang keluarga biasa saja bukan berbasis ustad tentunya pengetahuanku tentang agama sangatlah seadanya. Aku bagaikan selembar kertas kosong yang belum terisi dengan goresan pena pengetahuan Dienku.

Dengan rencana Allah yang sangat manis, Dia mempertemukan kami dalam lingkungan yang baik. Memberikan ruang untuk berbagi dan melengkapi. Jujur aku sangat mengakui bahwa aku senang berada di antara mereka yang menyejukkan jika dipandang dan menenangkan bila dimintai pertolongan. Begitupun dengan dia yang telah berhasil membuka ruang di dalam hatiku dan sudah kupersilakan untuk memasukinya.

Tidak ada keragu-raguan dalam hatiku, tidak ada rasa malu ketika hanya sekadar bertukar pendapat dan menanyakan hal-hal yang belum aku ketahui. Aku merasakan kenyamanan yang luar biasa ketika bersahabat dengannya. Karena dia selalu membuat aku tidak terlihat bodoh walau sebenarnya bodoh. Dengan cara dia yang lembut dan selalu tepat sasaran dalam bertindak namun dengan gaya yang menyentuh serta terkesan elegan. Berhasil menyihirku dan membuat aku ketergantungan padanya.

Aku yang dalam tahap pencarian mengenai Dienku bagaikan tanaman yang baru ditanam kemudian diberikan pupuk organik yang sangat bermanfaat oleh petaninya. Aku adalah tanaman sedangkan dia adalah seorang petani yang dengan setulus hati merawat dan menjagaku. Aku selalu mendapatkan masukan nutrisi yang aku butuhkan tepat waktu. Sekalipun dia tidak pernah melewatkan dan melupakan untuk memberikan apa yang aku butuhkan.

Karenanya aku semakin dekat dengan Rabb-ku, kertas kosong itu kini mulai terisi dengan terlihat adanya goresan pena pengetahuan Dienku. Sedikit demi sedikit aku belajar, pelan, perlahan tapi pasti aku mulai memperbaiki diri. Hari demi hari kulewati dengan berusaha meningkatkan kapasitas diri dan memantaskan diri dihadapan-Nya.

Tak terbesit dalam hatiku untuk memilikinya, aku hanya melihat dia sebagai sosok seorang guru. Bagaimana mungkin aku berkhianat pada guruku sendiri dengan diam-diam menaruh perasaan yang akan menghancurkan hubungan baik ini. Walaupun tak kupungkiri dengan kedekatan ini, kami sudah sejauh ini mengenal satu sama lain.

Aku tahu dan aku sadar hormon itu tidak pernah berbohong. Desiran dalam hatiku pernah membuatku gelisah sepanjang malamku. Aku berusaha menepis dan mengobatinya dengan memohon pada-Nya. Kutunaikan shalat di sepertiga malam-Nya, dan kucurahkan semua gejolak dalam hatiku. Aku tidak akan seberani itu padanya, siapa aku dan siapa dia? Dan dengan penuh rasa tenang aku memutuskan untuk memutus desiran itu dan menggantinya dengan semangat memperbaiki diri.

***

Ketika itu entah apa kesalahan yang aku perbuat, bagaikan tanaman yang ditinggal petaninya. Tak ada asupan nutrisi dan air yang dapat menyegarkanku kembali. Aku tidak tahu mengapa dengan tiba-tiba dia menghilang dari aktivitasku. Kini tak ada lagi yang mengingatkan shalat tepat waktu, tak ada lagi yang mengingatkan tilawah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Entah mengapa aku merasa kosong dan ada sesuatu yang beda, walaupun tanpa ada dia yang mengingatkan, aku tetap menjalankannya. Sekali lagi aku tidak bermaksud untuk menggoda atau menjadi ujian baginya. Hanya saja aku rindu dengan sikap baiknya yang menyejukkan hati.

Namun, mengapa terasa sakit dan hina saat dia dengan perlahan menghilang tanpa menyapa sekalipun. “Apakah karena aku amalan-amalan baik dia luluh lantah seperti rumah yang terseret tsunami? Apakah karena aku kewibawaannya memudar dan hilang dengan perlahan? Apakah karena aku yang bodoh sehingga dia capek untuk menuntunku?”. Dengan sesenggukan aku terus menangis, melihat diri ini yang teramat hina. Sungguh aku tidak bermaksud untuk itu, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menjadi ujian terberat bagimu. Jika memang kamu sudah mengetahui bahwa aku adalah ujian bagimu. Mengapa kamu tetap membiarkan aku masuk dan menerima perlakuan baikmu. Jika memang benar semua amalan baikmu hilang karena aku maka izinkan aku untuk memohon maaf padamu dan memohonkan ampunan pada Allah.

***

Setelah kejadian itu aku tidak pernah membuka hati untuk laki-laki dan membiarkannya masuk ke dalam kehidupanku. Aku menutup diri dan hanya belajar dari buku-buku dan media online yang sekiranya dapat menambah wawasanku mengenai agamaku. Terus berjalan seperti itu sampai suatu hari aku mendapatkan kabar bahwa dia akan segera melangsungkan pernikahannya dengan gadis pilihannya, yang tidak lain adalah teman mainku. Teman main aku ini biasa saja, standar aku lah bukan akhwat yang berjilbab panjang dan bercadar. Aku sedikit kecewa dan sempat menghela nafas seakan tak percaya. Tapi ini semua sudah menjadi keputusan dan pilhannya aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

Ketika mendengar kabar tersebut, mulutku mampu berkata “aku tidak apa-apa dan turut bahagia” namun suara hati terdalamku berkata “kenapa bukan aku dan kenapa harus dia?”. Karena sesungguhnya aku pernah mengharapkannya. Namun karena kecintaanku pada-Nya lebih tinggi dari pada cintaku pada dia maka aku merelakannya untuk mengubur rasa yang selalu hadir dalam desiran hatiku.

Seharian itu aku sangat futur, tak ada semangat dan rasa malas kian menghinggapi tubuhku yang sedang diguncang imannya. Tangan ini terasa berat hanya untuk merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja belajar. Mood yang baik sangat susah kudatangkan untuk segera mengganti bed cover yang sudah mulai terlihat kusut dan berantakan.

***

Hari sudah sore sebentar lagi senja akan tiba, seharusnya aku sudah beranjak dan segera menjemput sang jingga. Namun aku masih terpaku memandangi wajah pucatku yang terlihat dibalik cermin. “kring, kring, kring” suara nada panggilan dari handphoneku. Aku terkagetkan olehnya dan sibuk mencari sumber bunyi tersebut. Aku masih belum menemukan handphone itu, ternyata HP aku terjatuh dan berada jauh di bawah tempat tidurku. Kuambil Hpku dan ketika hendak mengambil HP terlihat sebuah undangan berwarna cream. Kuambil dan kubaca, ternyata surat undangan tersebut dari seseorang yang telah berhasil mengangkatku kemudian menjatuhkannya kembali. Benar surat undangan itu dari dia yang tadinya kuabaikan.

Selesai membaca surat undangan, aku menghela nafas dan berkata “hemm, tidak apa-apa, all is well, semua sudah menjadi ketetapan-Nya. Insya Allah aku ikhlas”. Kemuadian aku tersadar bahwa barusan ada suara telpon, kuraih Hpku dan kulihat terdapat panggilan tak terjawab dari ibu. Ternyata ibu selalu datang tepat waktu, ibu datang ketika aku membutuhkan tempat mencurahkan isi hati ini dan berbagi tentang apa yang aku rasakan saat ini. Aku selalu mendapatkan ruang di hati ibu, ibu selalu mengangkatku dan tak pernah sekalipun menjatuhkanku. Ibu selalu menjadi pelipur lara bagiku ketika guncangan itu mulai mengoyahkan imanku.

***

Setelah selesai curhat dengan ibu kembali kutatap wajah mungilku yang mulai hilang pucatnya. Aku berkata pada diriku sendiri. “mengapa kamu bisa sebodoh ini, menghilangkan cantiknya pipi yang merona dan mata yang indah dengan memelihara kesedihan di hati. Sudahlah mulai sekarang bebaskan dan yakin Allah telah menyiapkan yang terbaik untukmu, di waktu yang tepat dan akan indah pada waktunya”.

***

Aku kembali mendapatkan energi dan nutrisi bukan hanya dari petani akan tetapi dari berbagai teknisi termasuk sang pemilik lahan (Allah SWT). Setiap harinya aku disibukkan dengan terus memperbaiki diri. Aku ingin membuktikan bahwa aku memperbaiki diri untuk mempersiapkan pertemuanku dengan-Nya bukan untuk dipuji olehnya. Aku mendapatkan banyak pelajaran dari kejadian ini. Bahwa kita jangan mudah mengharapkan dan memaknai perlakuan baik dari orang lain. Bersikaplah sebiasa mungkin dan sesederhana mungkin. Namun, berpikirlah sejauh mungkin dan berkreasilah sebanyak mungkin.

Aku yang cantik, anggun, penuh semangat dan tegar telah kembali dengan goresan pena di kertas putihku yang mulai terisi penuh. Kini aku semakin percaya diri berdiri di atas pijakanku tanpa harus bersembunyi di balik kebaikannya.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tika Sri Amelia
Lahir di Lebak, bulan Oktober 1993. Mahasiswi semester ke-7 di Institut Pertanian Bogor, Jurusan Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian. Penulis mendapatkan beasiswa Bidik Misi untuk periode 2011-2015. Masih sebagai pemula dalam dunia kepenulisan, semakin jatuh cinta kepada dunia kepenulisan setelah mencoba menuliskan kisah hidup pribadi yang membuat orang terinspirasi. Tulisan pertama Surat Kecil untuk Rektor masuk 10 besar penulis terbaik tingkat kampus pada tahun 2013. Penulis memiliki hobi menulis, membaca, memasak, memotivasi dan jalan jalan. Menyukai novel, buku motivasi dan suka akan tantangan. Alhamdulillah saat ini diberi amanah sebagai ketua divisi keputrian di Lembaga Dakwah Fakultas.

Lihat Juga

Sebening Senja Menyapaku