Home / Berita / Opini / Sang Balerina: Demokrat Dengan “Politik Sopir Angkot”-nya

Sang Balerina: Demokrat Dengan “Politik Sopir Angkot”-nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo Partai Demokrat
Logo Partai Demokrat

dakwatuna.com Menurut saya yang menjadi “bintang” dalam Rapat Paripurna DPR RI yang membahas pengesahan RUU Pilkada Senin malam (15/9/2014) adalah Partai Demokrat. Dialah The Rising Star yang sesungguhnya, mengapa?

Karena dalam rapat tersebut Partai Demokrat bermain cantik sekali. Ibarat seorang penari balet yang bisa meliuk-liukkan tubuhnya dengan begitu indah. Mengikuti irama musik yang mengalun merdu, sehingga membuat penonton terpesona kemudian memberikan tepuk tangan (applaus) dengan sangat meriahnya.

Begitulah tarian yang diperagakan oleh Partai Demokrat semalam. Di tengah-tengah gemuruh dan sempat kacaunya persidangan (sampai harus di-skors beberapa kali oleh pimpinan sidang), Partai Demokrat melancarkan aksinya. Bersikap seolah-olah menyetujui atau mendukung Pilkada Langsung dengan 10 butir persyaratan yang diajukannya, lalu melakukan jurus PHP (Pemberi Harapan Palsu) kepada PDIP cs. Namun begitu PDIP cs mendukung opsi yang diajukan oleh Partai Demokrat, tiba-tiba tanpa diduga sama sekali hampir seluruh awak partai ini pun mengambil sikap walk out dari ruang sidang. Wow…!!!

Melihat aksi ini, PDIP cs yang sudah haqqul yaqin akan memenangkan pertarungan tadi malam, dibuat melongo bak sapi (baca: banteng) ompong. Tanpa sedikit pun mereka mampu mencegahnya. PDIP cs terpaksa harus menelan pil pahit dari aksi “balas dendam” Partai Demokrat. Terpaksa menahan geram dan sakit hati yang luar biasa terhadap partai asuhan SBY ini. Barangkali ingin rasanya melempar meja dan kursi ke muka org-orang Demokrat yang dengan santainya keluar dari ruang sidang. Namun itu tak mungkin dilakukan. Dan sebagai ungkapan dari emosi jiwa yang tiada terkira ini, mereka cuma bisa menatap hampa kepergian para “sahabat” nya ini sambil gigit jari.

Adapun akibat dari manuver licik dan sekaligus maut Partai Demokrat ini, PDIP cs harus menerima kekalahan telak dalam adu voting semalam (226 : 135). Dengan kata lain, UU Pilkada yang pemilihannya ditentukan oleh DPRD resmi disahkan. Tak dinyana, inilah rupanya “politik sopir angkot” ala Demokrat. Sungguh tragis memang, namun inilah kenyataan yang harus diterima oleh PDIP cs. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Keputusan sidang tak mungkin dirubah kembali.

Mengapa saya mengistilahkannya dengan politik sopir angkot? Sebab kita semua tahu bahwa para sopir angkot mempunyai kebiasaan unik (jika tak mau dikatakan buruk), di mana mereka bisa dengan semaunya menjalankan serta memberhentikan kendaraannya tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di belakangnya. Demikianlah, tak ada satu pun yang tahu dan bisa menebak ke mana arah dan tujuan sopir angkot tersebut. Begitu pula dengan sikap politik Partai Demokrat semalam, sungguh tak ada satu pun yang bisa menebaknya. Kecuali diri para anggota dewan dari Partai Demokrat itu sendiri, juga beserta Allah tentunya. Yang memang Maha Mengetahui segala-galanya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Wallahu a’lam. (usb/dakwatuna)

*di sini aku pun tersenyum dengan sangat manisnya seraya ngacung ‪”satu jari”

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Menurut Din Syamsudin, Beberapa Alasan ini Membuat Ahok Tidak Cocok Pimpin Jakarta