Home / Pemuda / Cerpen / Lelaki Senja

Lelaki Senja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ikhtiarui.wordpress.com)
Ilustrasi. (ikhtiarui.wordpress.com)

dakwatuna.com Kalau ingin melihat lelaki itu, datanglah ke sini. Senja, lelaki itu selalu berdiri di situ. Di atas batu karang tepi pantai. Diselipkannya kedua tangannya di dalam kantong jaketnya yang sudah kumal. Diarahkannya pandangannya pada mentari yang hampir terbenam di ujung sana. Lalu seperti biasa, ia pun memejamkan mata. Membiarkan rambutnya dimainkan oleh angin. Ia seperti menikmati senja dalam dirinya. Entah apa yang dirasakannya saat itu. Orang-orang tak pernah peduli siapa dan mau apa dia. Bahkan ada yang berkata dia gila. Tapi dari caranya menikmati eksotisnya senja di tepi pantai, tak layak ia dikatakan gila. Dengan mata yang masih terpejam, bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. Mulutnya komat kamit seperti orang yang sedang berbicara. Tapi orang-orang tetap tak peduli. Mereka asik dengan aktivitas masing-masing. Sama seperti lelaki itu, menikmati senja. Dan ketika matahari sudah sepenuhnya kembali ke peraduannya, lelaki itu lenyap. Tak tau entah ke mana. Tak ada yang bertanya “ke mana lelaki yang tadi berdiri disini? yang tersenyum dengan bibirnya yang komat kamit seolah bicara.” Tak ada yang bertanya, karena memang mereka tak peduli dan tak kan pernah peduli. Lelaki itu hilang dan besok ia akan kembali bersama senja.

Seperti hari-hari sebelumnya lelaki itu sudah berdiri di situ. Tapi kali ini lebih awal dari hari sebelumnya. Masih terlalu sore ia sudah kesini. Tetap dengan gaya, celana, rambut yang sama. Tak pernah disisir. Tak lupa dengan jaketnya yang kumal. Ia kembali berdiri di situ. Tangannya disembunyikannya di dalam kantong jaketnya. Matanya belum terpejam. Ditatapnya tempat di mana mentari nanti akan jatuh terbenam. Seolah tak ingin melewatkan sedetikpun untuk menikmati senja. Mentari masih bersinar dengan garang. Namun ia tak beranjak dari tempat ia berdiri. Seolah tak merasakan sengatan sinar matahari. Ia masih berdiri terpaku. Hingga akhirnya senja datang. Menyuguhkan keindahan yang mempesona. Perlahan matanya terpejam seiring dengan mentari yang semakin jatuh. Hingga akhirnya ia membuka mata. Tepat di mana mentari sudah tak tampak lagi. Lelaki itu tersenyum puas. Apa yang sedang dilakukannya? Bukankah ia ingin menikmati senja? Mengapa ia malah memejamkan mata di saat senja hadir dengan pesona keanggunannya? Entahlah, tak ada yang peduli. Yang pasti dia begitu sangat mengenal senja.

Hari ini tak seperti biasa. Langit sudah hampir merah merona. Namun ia belum datang. Batu karang itu masih sepi. Tak ada seorang pun di situ. Tak ada lelaki dengan jaket kumal dan rambut acak-acakannya. Tak ada lelaki yang memejamkan matanya melihat mentari terbenam. Namun tak ada yang bertanya kemana lelaki itu. Tak ada juga yang mencoba untuk menggantikan posisinya di atas batu karang itu. Tak ada yang peduli lebih tepatnya. Lagian bukankah lelaki itu mereka anggap gila. Sehingga mereka enggan untuk menggantikan posisinya di atas batu karang itu. Dan untuk apa mereka di situ? Untuk berdiri menghadap ke arah matahari terbenam dan memejamkan mata mereka kemudian membuka mata kembali ketika matahari sudah sepenuhnya tenggelam? Mereka bukan orang gila. Tunggu, lelaki itu datang. Setengah berlari ia menuju batu karang itu. Sesampainya di sana ia berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Setelah itu ia kembali seperti hari-hari sebelumnya. Memasukkan tangannya, memejamkan mata dan membiarkan rambutnya yang acak-acakan dimainkan oleh angin. Dan kembali seperti biasa matanya terbuka dan hadirlah seikat senyum di bibirnya. Mentari pamit untuk bertemu kembali esok hari. Dan lelaki itu sudah tak ada lagi. Siapa yang mau peduli ke mana ia pergi.

Sore, mentari sebentar lagi akan pulang. Lelaki itu belum muncul. Masih ada batu karang dan tak seorang pun berdiri di sana. Tidak ada lelaki dengan jaket kumalnya. Kosong. Tapi tiba-tiba ia datang. Lelaki itu datang dengan sejuta asanya pada senja. Asa apa? Entahlah. Ia kemudian berdiri di atas batu karang itu. Kembali mengantar mentari ke peraduannya. Matanya memandang ke laut jauh. Ia tersenyum menyeringai. Menampakkan deretan giginya yang kuning. Senja pun hadir ke pelukannya. Kali ini matanya tak segera terpejam. Dan matanya tak juga mengarah pada tempat dimana mentari akan kembali. Ia melihat seorang lelaki yang sedang asyik mengabadikan senja dan mentari dengan kameranya. Ada sebuah tanda pengenal tergantung di lehernya. Lelaki itu menyeringai. Ada kemarahan yang terpancar dari bola matanya. Tak ada lagi ritual memejamkan mata. Yang ada hanya kemarahan yang semakin ingin meledak. Benar saja, lelaki itu berlari dan menyerang lelaki dengan kameranya. Lelaki itu kaget. Belum hilang rasa kagetnya, ia dikagetkan lagi dengan serangan lelaki senja itu lagi. Kameranya dihempaskan ke batu karang sehingga hancur berantakan. Orang-orang yang selama ini tidak peduli ramai mendekat dan memegangi tubuh si lelaki.

“dasar orang gila”kata seseorang yang berkerumun. Yang lain menimpali. Ada yang mencaci dan memaki dengan bahasa kotor. Ada yang menyiram dengan pasir pantai. Bahkan ada yang mengutuk perbuatannya sambil meludahinya. Sementara orang yang lain berusaha membantu lelaki dengan kameranya yang sudah berantakkan. Masih dengan jaket kumalnya. Tapi kali ini tidak di atas batu karang. Tapi berdiri dengan kedua lututnya. Badannya gemetar. Perlahan ada butir-butir air yang jatuh ke pasir tempat ia berdiri. Ia menangis. Ia terus menangis sesenggukan. Dan akhirnya ia melewati senja itu dengan tangisan.

Keesokan harinya, masih menjelang senja ia sudah datang. Wajahnya nampak ceria. Seolah tak ada kejadian yang baru saja dilewatinya semalam. Seolah tak ada orang-orang yang menghina, mencaci dan meludahinya. Ketika ia berjalan, orang-orang memperhatikannya dengan tatapan aneh. Padahal dulu tak ada satu orangpun yang peduli padanya. Tapi kini hampir setiap mata memandangnya. Ada yang takut dan menjauh. Ada yang melemparinya dengan pasir. Dan ada yang menyorakinnya dengan sebutan “orang gila.” Namun ia tak peduli. Sangat tidak peduli sekali. Seperti orang yang dulu tidak peduli padanya. Ia terus berjalan kembali ke posisinya. Batu karang itu masih setia menunggunya. Tak ada seorangpun yang menggantikannya di situ. Ia pun berdiri di situ untuk menunggu senja datang. Tak berapa lama senjapun hadir menyapanya. Mentari pun ingin segera pulang. Namun pemuda itu tak memejamkan mata seperti biasa. Ia tersenyum. Mulutnya komat kamit seolah di depannya ada orang yang berbincang dengannya. Siapa? Apakah ia berbincang pada senja? Atau ia berbincang pada mentari hanya untuk sekadar mengucapkan salam perpisahan? Ah, entahlah. Tiba-tiba dari belakangnya dua orang anak lelaki menolaknya.

“minggir kami mau ambil foto sunset”kata lelaki yang satu. Lelaki senja tersungkur jatuh. Untung ia bisa mengendalikan diri sehingga tak jatuh ke air. Lelaki itu diam. Ia tidak marah. Dilihatnya batu tempat ia berdiri. Kali ini bukan ia di situ. Tapi dua lelaki tukang foto itu. Batu itu selingkuh. Lelaki itu terus berkomat kamit. Tidak, batu itu tidak selingkuh. Ia diperkosa oleh dua bejat ini yang begitu saja menolak kekasihnya dari atasnya. Tapi mereka tak berlama-lama di situ. Begitu puas mengambil beberapa gambar, mereka meninggalkan tempat itu. Lelaki itu kembali berdiri di atas batu itu. Masih seperti yang tadi, matanya tak terpejam. Mulutnya komat kamit layaknya orang yang sedang mengobrol. Hingga akhirnya mentari mengucapkan selamat tinggal. Dan lelaki itupun raib.

Senja, masih dalam keanggunannya. Siapa yang takkan terpesona pada kemolekannya. Tak terkecuali lelaki yang banyak orang bilang gila itu. Ia juga sangat menyukai senja. Bahkan sangat mencintainya. Bagaimana caranya menikmati senja. Prilaku romantisnya pada senja. Ia benar-benar tergila-gila. Sore menjelang senja itu, ia kembali hadir. Rambutnya sudah semakin panjang dan menutupi telinganya. Masih seperti hari-hari kemarin, rambut itu dibiarkanya tak tersisir. Juga dengan celana jeans belel dan jaket kumalnya yang tak pernah berganti. Ia berjalan menuju batu itu. Orang-orang masih memandangnya dengan tatapan aneh. Mencaci maki hingga menyorakkinnya dengan sebutan orang gila. Beberapa anak kecil mencoba untuk menggodanya. Namun ia terus berjalan dengan santai ke batu itu. Ia ingin kembali menikmati senja. Senja pun akhirnya datang. Ia kembali menikmatinya. Namun tiba-tiba ia melihat seorang pemuda dengan tanda pengenal yang tergantung di lehernya sedang asik mengambil gambar mentari yang akan pulang. Lelaki itu terlihat sangat geram. Ia menyeringai. Setengah berlari ia mendekati pemuda itu. Dan begitu dekat ia langsung menghajarnya dan menyerangnya dengan sangat membabi buta. Kameranya ia ambil dan dibuang ke air. Orang-orang kembali datang berkerumun dan menahan tubuh lelaki itu. Sementara pemuda itu memegangi wajahnya yang sakit.

“dasar orang gila, hajar saja dia!!!”teriak orang-orang. Beramai-ramai mereka melempari lelaki itu dengan pasir dan batu-batu kerikil. Tak ada yang coba untuk melerai dan menghentikan amukan masa.

“sudah dua kali dia buat keributan, hajar saja!!!”teriak salah seorang dari kerumunan masa.

Lelaki itu hanya terjongkok tak berdaya. Kepalanya mengeluarkan darah akibat lemparan batu kerikil. Bahkan sudah ada yang memukul dan menendangnya. Ia jatuh berguling. Masa semakin beringas. Lelaki itu semakin tak berdaya. Pasrah dengan keadaan. Tak mungkin ia melawan. Hingga akhirnya tubuhnya seperti melayang. Tak ada rasa sakit lagi yang ia rasakan dari tendangan, pukulan, lemparan pasir dan kerikil. Mungkin karena letih, satu persatu masa berhamburan. Hingga akhirnya polisi datang dan segera mengamankan keadaan.

“Bayu…”teriak seseorang yang baru datang menghampiri lelaki yang sudah tidak berdaya itu. Segera dimintanya polisi itu untuk segera membawa lelaki itu ke rumah sakit. Ketika lelaki itu diangkat ke mobil polisi, seseorang yang baru datang itu menemukan selembar foto.

“abi kenal dengan orang ini?”Tanya seorang wanita yang ada di sebelahnya

“Dia Bayu. Ia mengalami gangguan jiwa ketika istrinya meninggal”

“meninggal?”Tanya wanita itu tampak heran

“istrinya ingin sekali melihat matahari terbenam di saat senja. Malang, sebelum mereka pergi, istrinya meninggal akibat kecelakaan”

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 4,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ian Hachiro adalah nama pena dari Saftian Cahyadi Hsb. Putra asli Tanjung Balai. Hachiro adalah bahasa Jepang yang berarti anak kedelapan , yang memang menunjukkan beliau adalah anak ke delapan dari sebelas bersaudara. Sementara Ian adalah nama panggilan sehari-hari. Hobby menulis sudah ditekuninya dari mulai Sekolah Dasar. Sampai kini hobby itu tetap selalu ia lakukan. Mimpi yang tak pernah lekang dari hidupnya adalah ketika ia berdiri di depan ratusan orang dengan sebuah buku di tangannya, dan pada bagian atas buku tertulis nama penulis buku itu : Ian Hachiro.

Lihat Juga

Ilustrasi. (kawanimut)

Lelaki Pembuka Pintu Surga