Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Meningkatkan Kapasitas Diri

Meningkatkan Kapasitas Diri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pencilbooks.wordpress.com)
Ilustrasi. (pencilbooks.wordpress.com)

dakwatuna.com Iringilah setiap cita-cita yang ada, dengan kapasitas diri yang mumpuni. Jangan menuntut orang lain untuk memudahkan jalan kita menuju cita-cita indah nan mulia. Tapi terus tingkatkanlah kapasitas diri sesuai dengan passion dan kebutuhan. Ulangi dan terus ulangi, hingga bayang tubuh lelah untuk mengejar.

Belajar pada sejarah barat, akan kedahsyatan hegemoni mereka. Karena memang sudah menjadi rahasia umum dalam sejarah politik modern, terhitung sejak munculnya konsep nation-state; bahwa negara yang menghegemoni perpolitikan global pada awalnya ialah Spanyol dan Portugis. Lalu hegemoni berpindah kepada negara Jerman dan Austria. Memasuki awal abad 1800-an, hegemoni berpindah kepada Inggris dan Prancis hingga Perang Dunia ke-2. Setelah itu Amerika Serikat-lah yang menjadi hegemoni hingga akhir 2008. Betapa dahsyatnya peradaban barat akhir-akhir ini menghegemoni.

Tapi dalam periode 1 abad terakhir, dominasi peradaban barat mulai tereduksi dengan naiknya negara-negara Asia kepermukaan. Secara geografi dan budaya, memang Asia tergolong ke dalam wilayah timur. Sehingga secara norma pun, barat dan timur memiliki kesenjangan. Dan secara latar belakang keagamaan; barat menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya agama Nasrani, sedangkan timur menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya agama Islam.

Barat yang pada akhir-akhir abad ini menghegemoni, mulai mengubah cara pandangnya terhadap Asia. Karena secara perlahan negara-negara Asia mulai naik ke permukaan, dan menyaingi negara-negara barat dalam segala bentuk kompetisi politik dan ekonomi. Adapun 3 peristiwa besar, yang paling mempengaruhi cara pandang barat terhadap Asia ialah :

  1. Perang Amerika-Vietnam pada tahun 1960-an. Hengkangnya tentara Amerika, yang diusir oleh tentara Vietcong; cukup menegaskan kepada masyarakat dunia bahwa Asia punya posisi yang kuat dalam kemiliteran. Mengalahkan negara Amerika yang pada saat itu menjadi negara dengan kekuatan militer dan ekonomi nomor satu dunia.
  2. Revolusi Iran 1979. Banyak para ahli sejarah yang menyatakan bahwa revolusi ini adalah revolusi ketiga terbesar dalam sejarah. Setelah revolusi Prancis dan revolusi Bolshevik. Peristiwa ini pula yang menjadi penanda bahwa Iran telah berubah dari sistem negara monarki, menuju sistem negara republik. Iran sangat diperhitungkan oleh barat, karena Iran termasuk negara yang paling berani menentang hegemoni barat; terutama Amerika Serikat.
  3. Tumbuh pesatnya perekonomian Asia. Bermunculannya negara-negara ‘new emerging economic power’ di Asia, menjadi momok tersendiri bagi negara barat. Kemunculan negara seperti Cina, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, dan Taiwan; membuat barat ketar-ketir dalam persaingan pasar global. Khususnya pada bidang ekonomi kreatif.

Dari fenomena timur dan barat ini, sesungguhnya hikmah yang dapat diambil ialah “ prestasi itu mengikuti kapasitas diri. Jika tercapainya cita-cita menjadi bagian dari prestasi; maka kejarlah ia, dengan peningkatan kapasitas diri”. Karena memang barat tidak serta-merta resah oleh perkembangan Asia, tanpa adanya peningkatan kapasitas negara yang terprogram. Majunya pendidikan negara-negara di Asia, yang berdampak pada kemajuan negara pada bidang politik, ekonomi, sosial, dan militer; ialah usaha yang terus menerus dilakukan dan dikerjakan dengan penuh kesungguhan.

Sehingga dalam kepemimpinan surgawi, jangan pernah biarkan zamrud khatulistiwa lapuk termakan oleh zaman. Jangan biarkan umur berlalu, tanpa ada peningkatan kapasitas diri yang signifikan dan terencana. Karena manusia cenderung sadar bahwa waktu 24 jam dalam sehari itu kurang, ketika umurnya sudah tua. Jika waktu ialah pedang, maka ciptakanlah pedang model untuk para pemimpin surgawi; yaitu pedang yang selalu menajam seiring dengan banyaknya pertarungan dan jumlah tebasan dalam peperangan.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Karsim Bilang: Pamer Diri itu Penting