Home / Berita / Internasional / Afrika / Satu Lagi Kisah Memilukan dari Mesir

Satu Lagi Kisah Memilukan dari Mesir

Para wanita Mesir berdemo menentang pemerintah kudeta (alamatonline.net)
Para wanita Mesir berdemo menentang pemerintah kudeta (alamatonline.net)

dakwatuna.com – Kairo. Putri salah satu pimpinan jamaah Ikhwanul Muslimin, Aisyah Khairat Syathir, menceritakan sebuah kisah memilukan yang dialami oleh sebuah keluarga penentang kudeta militer di Mesir.

Seperti dilansir dalam fanspage Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), Selasa (23/9/2014) hari ini, Aisyah mengatakan, “Sarah Musthafa Abdul Majid Radhi; saat masih hidup dia dihalangi-halangi melihat ayahnya yang dipenjara, setelah meninggal pun sang ayah dihalang-halangi menghadiri penguburannya.”

Sarah adalah wanita yang masih belia. Umurnya baru 27 tahun. Ayahnya ditahan penguasa kudeta di penjara, suaminya menjadi pelarian, sedangkan dirinya sendiri sedang berjuang melawan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya.

Demi biaya pengobatan, Sarah terpaksa harus menjual rumahnya, karena ayah dan suaminya sudah tidak bisa membantu. Selain untuk pengobatan, Sarah juga harus menghidupi dua orang anaknya yang masih kecil-kecil.

Kian hari kesehatannya kian menurun. Hingga dirinya pun dilarang meninggalkan rumah sakit. Tapi karena rindunya kepada sang ayah, kondisi kesehatannya terlihat mulai membaik. Berbekal surat ijin besuk, Sarah ditandu ke penjara untuk bertemu dengan ayahnya. Namun petugas penjara menolak dengan mengatakan, “Sampai mati pun tidak akan diperbolehkan bertemu ayahnya.”

Itulah saat-saat terakhir keberadaan Sarah di dunia ini. Walaupun demikian, dirinya tidak diperbolehkan melihat ayahnya untuk yang terakhir kali. Hingga ajal pun menjemputnya. Tragedi belum berhenti, saat mendengar berita kematian putri kesayangannya, Musthafa Abdul Majid, sang ayah, dilarang mengadiri upacara penguburan.

Ternyata banyak tragedi kemanusiaan dalam kehidupan keluarga para tahanan kudeta. Hal semacam ini mungkin tidak akan dilihat dan dimonitor lembaga-lembaga hak asasi manusia. Karena para pelanduk pembantaian R4BIA pun masih belum tersentuh hukum. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Tolak lepas cadarnya, Seorang Muslimah Italia Didenda 434 Juta