Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Membiasakan Diri Dalam Kebaikan

Membiasakan Diri Dalam Kebaikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com/Jasmin Merdan)
Ilustrasi (123rf.com/Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Kita sering dibuat kagum dengan penampilan anak yang masih di bawah umur tetapi mahir dalam memainkan sesuatu, seperti memainkan alat musik biola atau piano dengan sangat memukau dengan nada-nada yang sulit. Atau menyanyikan lagu dengan oktaf tinggi dan bersuara merdu seperti dalam kontes pencarian bakat di beberapa stasiun televisi.

Atau kita terheran-heran saat menyaksikan anak usia 6-8 tahun tetapi sangat ahli memainkan sirkus dengan kesulitan yang cukup tinggi dan membahayakan, tetapi si anak dengan santai dan cekatan memainkannya tanpa melakukan kesalahan sedikit pun.

Bahkan banyak di antara kita yang dibuat menetes air mata saat menyaksikan anak-anak yang baru berumur 7 -9 tahun tetapi sudah mampu menghafal beberapa Juz dalam Al- Quran dengan bacaan yang sempurna baik makhroj atau tajwidnya. Padahal kita yang sudah berumur jauh di atasnya jangankan menghafal, membaca saja kadang masih salah dan kurang sempurna.

“Kehebatan” anak-anak tersebut bila ditinjau dari ilmu neurosains cukup beralasan, para ahli neurosains dalam beberapa tahun terakhir mengungkap penemuan medis yang menerangkan hai tersebut. Perlu kita ketahui bahwa di dalam otak anak yang baru lahir terdapat sekita 100 milyar sel otak (neuron), dan antar sel otak satu dengan sel otak lain dihubungankan dengan hubungan yang sangat istimewa yang bernama sinaps, di sini akan terjadi komunikasi baik secara listrik, kimia, maupun yang lainnya.

Saat bayi baru lahir sinaps belum terbentuk atau otak masih polos, neuron yang masih polos terletak di bagian otak di permukaan bagian otak tersebut dalam bahasa kedokterannya diberi nama korteks (lapisan luar otak). Korteks ini pada awalnya berwarna putih karena masih belum terpapar oleh stimulus dari luar, dan apabila sudah dewasa maka korteks ini akan berupa menjadi warna keabuan (grey matter) akibat paparan yang didapat selama hidupnya.

Pada saat lahir, bayi dan anak anak maka apapun paparan yang masuk ke dalam otak baik yang melalui panca indra (penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan dan perasa) maupun non panca indra akan mengubah struktur neuron dan sinaps di dalam korteks menjadi sesuatu yang sesuai dengan stimulus didapat.

Hal ini sudah dinyatakan oleh hadis Nabi Muhammad SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ

هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Dari Abu Hurairah berkata: Nabi SAW bersabda: setiap anak dilahiran dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”

Analisis hadist di atas menurut ilmu neurosains menunjukan hal yang sangat menakjubkan. Kita diingatkan untuk menjaga kefitrahan anak kita yang baru lahir, menjaga mereka dari pengaruh Yahudi dan Nasrani. Menjaga di sini berarti berilah stimulus yang Islami kepada anak-anak kita sedini mungkin, bilamana tidak maka akan terstimulus negatif yakti stimulus dari agama (pemikiran) Yahudi dan Nasrani.

Stimulus yang terpapar sejak lahir sampai dewasa dapat berupa apa yang dilihat, didengar dan dirasa bahkan apa yang dimakan sehari hari dan ini sangat berperan dalam perilaku hidup sehari-hari. Maka langkah terbaik adalah memberi stimulus positif terhadap anak kita sejak dini. Dengan kata lain membiasakan diri dengan memberi pendidikan anak sedini mungkin sangat diperlukan untuk membentuk korteks otak agar dibentuk pola struktur otak yang Islami.

Bilamana sejak dari bayi kita membiasakan diri mendengarkan ayat suci Al-Quran dan bayi melihat sendiri orang tuanya membaca Al Quran setiap hari maka akan terbentuk memori permanen di otak bayi tentang Al-Quran secara otomatis, sehingga dia akan lebih cepat akrab dengan ayat al-Quran dan bila anak diberi pelajaran yang baik tentang membaca dan menghafal Al-Quran maka dia akan dengan mudah menjadi penghafal (Hafidz) seperti yang kita saksikan anak umur 7 tahun sudah hafal 30 Juz Al-Quran.

Begitu juga bilamana setiap hari bayi dan anak dibiasakan shalat berjamaah baik di rumah dan di majid maka di dalam sistem memori akan terbentuk sinap (hubungan antar neuron satu dengan neuron lain) yang bersifat “shalat”. Bila paparan tersebut berlangsung terus menerus maka kelak saat tumbuh remaja dan dewasa dia akan secara rutin mengerjakan shalat dan sangat takut meninggalkan shalat walaupun tanpa pengawasan orang tua. Hal ini bisa diterangkan dengan ilmu perilaku (neurobehavior) di mana paparan tersebut akan mengubah struktur anatomi dan neurotransmiter (zat kimia otak) di daerah otak yang mengatur gerakan dan bacaan shalat.

Begitu juga sebaliknya bila anak kita terpapar dengan lagu lagu “jelek” atau lagu cinta yang tidak sesuai dengan umurnya baik didapat dari media eletronik maupun dalam pergaulan sehari-hari maka dia akan dengan mudah menghafal lagu tersebut dan menjadi memori permanen juga.

Pendek kata, apapun “kehebatan” anak sangat tergantung dari paparan yang diterima mulai dia lahir sampai dewasa. Sehingga sering kita lihat bilamana anak seorang pedagang maka saat dewasa dia cenderung menjadi pedagang, anak musisi menjadi musisi, akan anak seorang dokter menjadi dokter, guru menjadi guru dan lain sebagainya.

Maka dari itu berilah paparan yang baik pada anak dengan membiasakan diri menjalankan kebaikan dan mengajak anak aktif dalam kebaikan tersebut.

Contoh lain bilamana kita sering bersedekah maka ajarilah anak kita bersedekah, biarkan mata mereka melihat kita bersedekah, kemudian saat mereka sudah bisa diajak komunikasi (umur 7-9 tahun) beri tahu manfaat sedekah dan fadhilah orang bersedah. Maka bilamana kegiatan tersebut berjalan rutin maka otomatis kelak anak tersebut menjadi ahli sedekah.

Dan ternyata ilmu neurosains membuktikan bahwa memberi contoh secara langsung (rule models) jauh lebih membekas dalam memori anak dari pada menyuruh. Artinya sebelum mengharap anak kita melakukan sesuatu sesuai harapan kita maka kita sebagai orang tua harus terbiasa melakukan kebaikan secara terus menerus dan menampakan ke anak kita.

Pelatihan Kognisi

“Suruhlah anak-anak kalian untuk bershalat bila mereka telah berumur 7 tahun. Pukulah mereka karena tidak shalat bila telah berumur 10 tahun. Pisahkanlah mereka dari tempat tidur kalian”. (Hadits)

Umur 7-10 tahun atau pada saat anak mulai sekolah dasar, maka sel otak sudah mulai matang, terutama lobus frontalis (otak bagian depan, pelipis), hal ini kemudian fungsi berpikir (kognisi) sudah mulai berkembang. Ajaran nabi untuk menganjurkan umat muslim agar “menyuruh” anaknya mengerjakan shalat dapat dimaknai memberi pembelajaran kognisi dalam syariat Islam.

Anak diberikan pemahaman tentang perintah dan larangan agama, bukan hanya diberi contoh tetapi diberi tahu dasar dan alasan mengapa syariat ini harus dilakukan.

Dan pada saat usia 10 tahun atau kelas 5-6 SD, adalah masa aqil baligh telah datang, maka mereka sudah diberi kewajiban dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kalimat “pukullah” kita artikan, betapa kewajiban orang tua semakin keras pendidikan demi terbentuk perilaku yang mulia dalam hal ini syariat shalat.

Perintah memukul, bukan diartikan kekerasan terhadap anak, tetapi lebih dimaksudkan pertanggungjawaban orang tua terhadap anaknya. Tentunya memukul di sini bukan dalam rangka melepaskan amarah tetapi lebih ke arah membuat anak jera bila tidak melakukan shalat dan perintah memukul didahului oleh perintah memberi contoh dan mengajak berdiskusi (kognisi) sejak lahir sampai 10 tahun kehidupannya. Artinya proses belajar kebaikan sudah berjalan 10 tahun baru proses reward and punishment.

Pelatihan Kebaikan Masa Remaja Dewasa

Di dalam Ilmu neurosains yang menarik dikaji adalah neuroplastisiti, (suatu kemampuan otak memperbaiki diri setelah mendapatkan paparan postif), saat remaja dan dewasa kita masih bisa memberi stimulus positif artinya membiasakan diri dengan mengerjakan kebaikan akan tetap terekam kuat dalam otak manusia, bilamana kita terbiasa shalat berjamaah ke masjid dalam setiap shalat fardhu maka otak akan selalu memerintahkan tubuh untuk segera datang ke masjid manakala terdengar suara adzan, dan tanpa diperintah kaki terus melangkah memenuhi panggilan tersebut karena sudah ada memori shalat berjamaah di otak kita.

Begitu juga sebaliknya bilamana saat dewasa kita sering berbuat maksiat maka setiap ada kesempatan maka secara otomatis akan berbuat maksiat, hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut. Ada sekresi neurotransmiter di bagian otak tertentu bilamana kita melakukan pekerjaan yang berulang. Sehingga stimulus tersebut secara otomatis dan berkala. Maka salah satu cara adalah memaksakan diri untuk membiasakan kebaikan dalam kehidupan kita sehari-hari secara istiqamah untuk membentuk sirkuit positif di otak kita yang mengatur perilaku (akhlaq).

Bulan puasa yang sudah kita lakukan beberapa bulan yang lalu pada hakekatnya melatih kita untuk senantiasa berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, biasakanlah diri kita dalam berbuat kebaikan baik saat bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan masa tua dan berilah lingkungan yang baik agar otak menjadi terbiasa dan memberi stimulus kepada anggota tubuh kita untuk senantiasa berbuat kebaikan secara istiqamah sampai maut menjemput kita dan kita berharap dalam keadaan khusnul khatimah.


اليوم نختم على أفواههم وتكلمنا أيديهم وتشهد أرجلهم بماكانوأ يكسبون

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin: 65)

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
dr. Badrul Munir, Sp.S
Dokter spesialis saraf RSUD Saiful Anwar Malang. Dosen ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Univ Brawijaya Malang. Penulis buku "Puasa dan Otak Manusia" penerbit UB media Malang 2014.

Lihat Juga

Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa