Home / Keluarga / Kesehatan / Pilih Pengobatan Alternatif, Herbal atau Medis

Pilih Pengobatan Alternatif, Herbal atau Medis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

pengobatan-alternatifdakwatuna.com – Tulisan ini tak hendak mendiskreditkan atau menjelek-jelekkan sesuatu ataupun seseorang. Ini hanyalah berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi. Selama hampir 4 tahun berjuang melawan kanker stadium IV, saya telah menempuh berbagai macam terapi, baik alternatif, herbal maupun medis. Hanya satu yang jadi pantangan yakni pergi ke dukun atau paranormal, atau pengobatan yang mengandung kemusyrikan lainnya.

Apapun yang kita inginkan dalam hidup ini wajib hukumnya bagi kita untuk ikhtiar. Termasuk ketika terserang penyakit. Rasulullah SAW bersabda:

“Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah turunkan juga obatnya”. (HR. Bukhari)

“Setiap penyakit ada obatnya, jika suatu obat itu tepat untuk suatu penyakit, maka penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah SWT”. (HR. Muslim no.2204)

Dari kedua hadits di atas maka yang sedang diberi penyakit oleh Allah SWT wajib untuk mencari obatnya karena sudah diturunkan, dan agar sembuh harus dicari obat yang tepat. Batasannya adalah tidak boleh menggunakan benda dan cara yang haram dan mengandung kemusyrikan.

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram. (diriwayatkan Al Haitsami di dalam Majma’az Zawa’id)”.

Beberapa pilihan pengobatan ini bisa disimak untuk ditelaah:

Pengobatan Alternatif

Yang biasa dikatakan pengobatan alternatif adalah pengobatan yang tidak memakai cara dan alat medis. Pengobatan ini sangat banyak ragamnya. Mulai dari yang berbasis agama, yang berdasar pengalaman, yang diasah ketrampilan, sampai yang berbau mistis. Pengobatan ini biasa diambil dengan alasan murah, walaupun sebenarnya tidak selalu begitu. Sebagai muslim/muslimah untuk mengambil pengobatan ini perlu ditelaah dulu yakni siapa pengobatnya dan bagaimana cara pengobatannya. Jika tidak sesuai dengan syariah Islam maka tinggalkan saja, namun jika tidak melanggar syariah maka boleh diambil.

Beberapa jenis pengobatan alternatif adalah:

  1. Bekam / Hijamah.

Bekam telah ada sejak 2000 tahun sebelum jaman Nabi SAW, dan beliau tidak melarang umatnya untuk melakukannya, sesuai dengan sabdanya:

“Sesungguhnya penawar itu ada tiga perkara, minum madu, berbekam dan menempelkan besi panas pada bagian yang sakit.” (HR. Bukhari)

Bekam adalah metode terapi dengan mengeluarkan darah statis yang mengandung racun (darah kotor) dari dalam tubuh melalui kulit. Bekam ini berfungsi untuk mengatasi keluhan ringan seperti masuk angin, pusing, pegal-pegal, dan juga untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, terutama kolesterol dan darah tinggi.

Bekam dibedakan menjadi 3:

  1. Bekam kering atau bekam angin (Hijamah Jaaffah), yaitu dengan menghisap permukaan kulit dan memijat daerah sekitarnya tanpa mengeluarkan darah kotor.
  2. Bekam basah (Hijamah Rathbah), yaitu dengan melakukan bekam kering terlebih dahulu kemudian permukaan kulit dilukai dengan jarum tajam (lancet), lalu dihisap dengan alat cupping setdan hand pumpuntuk mengeluarkan darah kotor yang berwarna merah pekat dan berbuih.
  3. Bekam Api (Fire Cupping), yaitu teknik membekam menggunakan api sebagai media pemvakumannya.
  4. Gurah.

Yaitu pengobatan tradisional untuk mengeluarkan lendir dan kotoran dari hidung dan tenggorokan dengan memasukkan ramuan herbal terlebih dahulu. Ramuan tersebut akan merangsang pengenceran dan pengeluaran lendir. Terapi ini biasanya digunakan untuk mengatasi penyakit flu, asma, bronchitis dan sinusitis.

  1. Akupuntur.

Yaitu terapi yang menggunakaan tusukan jarum yang diselipkan di antara jaringan otot, untuk merangsang titik-titik tertentu dalam tubuh sehingga terjadi perbedaan tekanan, gelombang udara, dan juga kepadatan jaringan syaraf yang dapat membantu tubuh untuk mencapai keseimbangan. Dengan begitu diharapkan tubuh mengobati dirinya sendiri. Terapi ini biasanya dipakai untuk mengatasi rasa nyeri, sakit kepala, mual, rehabilitasi stroke, untuk kecantikan dll.

Ada beberapa versi dari akupuntur, misalnya akupresur yaitu akupuntur dengan cara penekanan dan pemijatan, moksibasi atau moksa dilakukan dengan cara pembakaran/ pemanasan, dan aquapuncture yang dilakukan dengan suntikan air.

  1. Terapi Warming (penghangatan).

Terapi ini menggunakan metode penghangatan pada titik-titik simpul syaraf yang dimaksudkan untuk melancarkan peredaran darah dan mengatasi gangguan-gangguan organ tubuh lain. Fungsinya hampir sama dengan terapi akupuntur. Ada beberapa macam alat yang digunakan, ada yang memakai arus listrik, air, batu, besi, kain dan masih banyak lagi.

  1. Terapi spiritual.

Terapi ini biasanya menggunakan pendekatan keagamaan. Berdasarkan syariah Islam, metode ini dimulai dengan menguatkan aqidah, memberi pemahaman yang benar tentang sakit, ujian, cobaan, ikhtiar, qodlo dan qodar, sabar dan tawakal. Metode yang dipakai biasanya dengan mengintensifkan ibadah, misalnya dzikir dan doa, shalat, tilawatul-quran, puasa, sedekah dsb. Ada banyak buku yang bisa dijadikan referensi untuk itu. Misalnya seperti yang ditulis oleh Hasan bin Ahmad Hammam, atau Prof. Moh. Sholeh yang menulis tentang terapi shalat tahajud sebagai penyembuh berbagai penyakit. Metode yang dipakai adalah dengan shalat tahajud yang tiap gerakannya dilakukan dalam tempo yang lama. Berdiri lama, rukuk lama, sujud lama, dst. Hal itu dimaksudkan agar tubuh bisa mengambil manfaat dari tiap gerakan shalat. Selain itu semakin lama shalat kita tentu lebih banyak munajat yang bisa disampaikan. Metode ini memacu tubuh untuk memproduksi zat-zat pelawan penyakit. Sebenarnya di dalam tubuh kita zat-zat pelawan penyakit tersebut telah tersedia, hanya perlu dirangsang agar optimal. Dengan begitu diharapkan tubuh mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Metode ini efektif untuk pasien yang fisiknya masih cukup kuat. Jika kondisi fisik tidak cukup kuat, mungkin metode ini perlu disesuaikan dalam tempo pelaksanaannya (lamanya shalat). Hal ini sejalan dengan Firman Allah SWT dalam QS. Al-Muzzammil ayat 20:

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

  1. Terapi mistis.

Diakui atau tidak metode ini sangat banyak berkembang di masyarakat walaupun jelas-jelas tidak bisa diterima akal. Misalnya: memindahkan penyakit ke binatang, menyedot penyakit hanya dengan selang kecil yang ditempelkan ke kulit, bahkan ada yang dibedah oleh makhluk halus (pasien dimasukkan ke ruang gelap dan ketika keluar sudah ada bekas jahitan seperti operasi). Allahu ‘Alam. Untuk yang ini penulis tidak bisa komentar karena hanya mendengar tanpa melihatnya sendiri apalagi melakukannya. Mohon untuk dihindari karena khawatir mengandung kemusyrikan. Tak jarang dukun yang berkedok ustadz dsb. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Pengobatan Herbal

Sejak nenek moyang, juga sejak jaman Rasulullah SAW telah menggunakan herbal sebagai pengobatan. Obat herbal yang bersifat natural berasal dari bahan-bahan yang alami, biasa dikatakan ‘aman tanpa efek samping’. Ada sebagian yang mengatakan ‘belum diketahui efek sampingnya’. Untuk menjaga stamina, meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki metabolisme, dan mengoptimalkan kerja organ-organ tubuh, obat-obatan herbal bisa diandalkan. Bahkan ada beberapa yang mampu mengatasi penyakit kronis.

Kebanyakan obat herbal masih dengan komposisi originalnya yang sangat kompleks (satu jenis tanaman masih mengandung berbagai jenis zat, belum diekstrak per unsur). Ini yang kadang menyebabkan tubuh terutama organ lambung, hati dan ginjal bekerja ekstra keras, sehingga justru sering kena imbasnya.

Lalu kenapa ketika berobat dengan herbal banyak pantangannya? Obat herbal itu manakala kita konsumsi, maka ‘kekuatannya untuk mempengaruhi tubuh’ hampir sama besar dengan pengaruh makanan dan minuman yang kita konsumsi. Jadi agar pengaruh obat herbalnya menonjol, maka ‘saingannya’ yaitu makanan/minuman kita harus diminimalkan. Tetapi itu pula yang menjadi kelebihan herbal yakni seperti makanan/minuman bagi kita.

Di Indonesia, herbal mungkin tidak secara simultan disandingkan dengan medis seperti di Tiongkok. Sehingga kadang penelitian untuk itu masih kurang, atau kalah intensif dengan medis yang begitu banyak bertebaran sekolah dan laboratoriumnya. Pengobat herbal sangat minim menggunakan data observasi tentang penyakit, padahal itu yang sangat penting untuk menentukan jenis dan kadar obatnya. Karena untuk satu nama penyakit, ternyata jenisnya sangat banyak, otomatis penanganannya tidak akan sama. Mereka hanya mengandalkan informasi dari kita. Padahal ada penyakit yang tidak sama tetapi gejalanya sama atau hampir sama. Hal ini kadang yang menyebabkan pengobatan tidak tepat guna. Pernah penulis berobat ke pengobat alternatif dengan membawa data medis, dia malah bilang tidak perlu dilihat itu, ngomong saja apa yang anda rasakan, wow….

Selain itu pengobatan herbal dan alternatif sering tanpa progress yang baku. Perkembangan baik ataupun perkembangan buruknya tidak terpantau dengan sistimatis. Tidak ada parameter yang dipakai secara khusus. Kadang pasien ‘merasa sembuh’ tapi sebenarnya hanya ‘tidak merasakan sakit’. Sebenarnya dua hal yang berbeda antar sembuh dan tidak merasakan sakit. Jika sembuh ya penyakitnya hilang atau fungsi organ tubuh sudah normal dan yang pasti rasa sakitnya juga hilang. Tapi kalau tidak merasakan sakit, bisa jadi memang sudah sembuh, namun bisa juga penyakitnya masih ada tapi syaraf perasanya melemah akibat adanya zat penahan rasa sakit, atau karena sugesti yang tinggi.

Untuk bisa sembuh dengan herbal atau alternatif memerlukan ketelatenan. Kenapa begitu? biasanya obat herbal memakai ‘dosis’ atau takaran yang kurang pasti. Misalnya segenggam daun A. Bukankah genggaman tiap orang beda? Kalaulah jumlahnya sama, bagaimana dengan kandungannya? Pohon A yang ditanam di daerah X dan yang ditanam di daerah Y dengan lingkungan dan komposisi tanah yang tidak sama persis, dengan perawatan yang mungkin berbeda, tentu zat yang dikandung juga akan berbeda. Padahal dosis sangat diperlukan untuk efektifitas obat. Allaahu’alam

Pengobatan Medis

Jika kita bicara medis, tentu tidak akan terlepas dari dokter, rumah sakit dengan segala macam peralatan medis dan obat-obatannya. Keunggulannya medis apa?

Dokter biasanya mendiagnosa suatu penyakit melalui data medis, gejala-gejala, pantauan secara visual/fisik, dsb. Observasi awal dilakukan untuk memastikan penyakitnya dan menentukan tindakan. Salah diagnosis? mungkin juga, jika dokternya dulu waktu masuk sekolah kedokteran tidak lolos, terus bayar ratusan juta jadi lolos, itu yang kita khawatirkan melihat fenomena sistem pendidikan di negeri kita saat ini….. Allaahu’alam.

Kemudian mereka punya progress yang jelas, dengan parameter-parameter yang jelas. Dosis obatnya berdasar penelitian dan percobaan, komposisi obatnya juga sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Jika sakitnya ringan ya obatnya ringan, kalau sakitnya berat ya obatnya disesuaikan. Sebenarnya banyak obat-obatan medis yang awalnya diambil dari herbal, kemudian diekstrak, diteliti dengan percobaan-percobaan, setelah lolos uji klinis maka dibuat sintetisnya agar bisa diproduksi secara masal. Bisa dibayangkan dengan jumlah penduduk dunia yang sangat besar, harus menanam dulu, hingga bisa dijadikan obat, tentu butuh lahan yang super luas dan waktu yang sangat lama.

Terus apakah tidak ada sisi buruknya? Pastilah ada. Lihat saja di tiap kemasan obat pasti tertera kontra indikasi dan efek sampingnya. Sinar X untuk rontgen bisa berefek negatif bagi tubuh, sinar Gamma untuk radioterapi punya manfaat bisa membunuh sel kanker tapi juga bisa memicu tumbuhnya sel kanker. Namun hal itu coba diatasi oleh pakar-pakarnya. Itulah kenapa radioterapi ada batas maksimalnya, dan dari satu paket ke paket yang lain ada jeda waktu yang cukup.

Kalau kita perhatikan obat-obatan untuk kemoterapi. Ini obat yang sangat keras, efek sampingnya pun tidak ringan, tapi itu sangat diperlukan karena memang penyakitnya yang ganas, sehingga memerlukan kekuatan obat yang jauh lebih tinggi dari keganasan penyakitnya. Apalagi obat tidak bisa milih, mana sel abnormal dan mana sel normal. Sel kanker dan sel-sel lain semuanya dihantam. Berdasarkan pengalaman, obat keras seperti itu punya batas tertentu dalam penggunaannya, yaitu manakala ‘kemampuannya menyembuhkan’ hampir sama dengan ‘kemampuannya merusak’. Jika sampai pada level seperti itu, maka perlu dikaji ulang, dicari alternatif yang lebih aman.

Pilihan yang Diambil

Lalu mana yang harus dipilih? Kalau boleh memilih pasti akan memilih untuk tidak sakit, jadi tidak perlu obat. Namun jika terpaksa harus memilih, maka perlu dipertimbangkan:

  1. Pastikan dulu nama dan jenis penyakitnya. Penyakit ini timbul karena apa. Apakah karena disfungsi organ atau ada sesuatu yang mengintervensinya. Ini tentu perlu pemeriksaan medis, tidak bisa dikira-kira.
  2. Perlu tahu juga seberapa berat atau ganas penyakitnya. Jika ringan, hanya stamina yang turun, atau daya tahan tubuh yang rendah, atau metabolisme yang kurang sempurna, atau kerja organ tubuh yang kurang optimal, mungkin pengobatan alternatif dan herbal bisa dipilih, medispun juga bisa diambil. Namun jika penyakitnya berat atau ganas, dan perlu tindakan cepat seperti asupan nutrisi melalui infus, tranfusi darah, bedah, dll, maka perawatan medis lebih tepat. Karena hanya mereka yang punya unit gawat darurat, pengobat alternatif dan herbal tidak punya. Tenaga medis dan paramedis dengan kemampuan dan peralatannya bisa melakukan tindakan yang lebih cepat.
  3. Jika memungkinkan untuk dikombinasikan antara ketiga jenis pengobatan tersebut, tentu akan lebih baik. Pengobatan alternatif yang berbasis spiritual akan menguatkan mental, medis yang berbasis penelitian dan percobaan dipakai sebagai pengobatan utama untuk melawan penyakitnya, dan herbal yang alami digunakan sebagai penunjang untuk memperbaiki dan menguatkan organ-organ tubuh, mempercepat penyembuhan serta memulihkan stamina
  4. Yang terakhir adalah tengoklah ada berapa digit angka di rekening kita. Kalau banyak digitnya, ya bisa leluasa memilih, namun jika tidak, maka pilih yang cepat dan tepat. Menurut pengalamanku ketiga jenis pengobatan tersebut hampir sama soal tarifnya alias tidak murah.

Paparan di atas hanya dari satu sisi kita sebagai makhluk yang berakal, yang dituntut untuk berpikir, menganalisa, memahami, dan mengambil kesimpulan dari suatu kejadian. Kita pahami bahwa Allah SWT mengilhamkan ilmu kepada manusia tentunya agar manusia bisa mengambil manfaatnya. Ilmu sangatlah luas, baik yang berupa wahyu maupun karamah, yang tradisional maupun yang modern, dan yang otodidak maupun yang fakultatif. Tinggal kita memilih dan memilah mana yang sesuai dengan kebutuhan kita tanpa melanggar syariah. Bukankah Allah SWT mengatur kehidupan di dunia ini dengan satu hukum yang namanya sunnatullah. Jika mau kenyang ya makan, jika mau dapat uang ya usaha, jika mau sembuh ya berobat, dst.

Sementara itu sebagai hamba yang beriman, kita yakin bahwa hanya Allah SWT yang kuasa memberikan kesembuhan. Bisa jadi hanya dengan sebiji kurma, atau selembar daun, atau seteguk air, atau bahkan tanpa sarana materi apapun hanya doa, dzikir dan bacaan Al-Quran, Allah berkehendak memberi kesembuhan. Tiap-tiap orang diberi jalan yang berbeda-beda untuk bisa sembuh, tapi kita hamba-Nya wajib untuk menyempurnakan ikhtiar.  Allaahu’alam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hamba Allah Ta'ala yang selalu berusaha untuk mendapat cinta-Nya. Lahir di Jawa Timur dengan nama Susanti Hari Pratiwi binti Harmoetadji. Pendidikan formal hanya sampai S1 Teknik Kimia ITS

Lihat Juga

Salah satu posko kesehatan darurat asap yang didirikan Dinkes Kota Pekanbaru, Riau.  (riau.go.id)

Korban Kabut Asap Terima Obat Kadaluarsa, Dinkes Riau Mengaku Lalai