Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pesan Dari Sudut Bis Kota, Eksploitasi Intelektual, dan Perang Pemikiran

Pesan Dari Sudut Bis Kota, Eksploitasi Intelektual, dan Perang Pemikiran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: kanald.ro)
Ilustrasi. (Foto: kanald.ro)

dakwatuna.com Namaku Ahmad. Aku mahasiswa perantauan dari Sumatera Selatan. Saat ini aku sedang berkuliah di salah satu kampus pendidikan di Jakarta. Aku sedang menaiki bis kota, patas 98A, jurusan pulogadung-kampung rambutan. Aku berniat menghadiri suatu forum diskusi di bilangan Ciracas, Jakarta Timur. Aku memang sedang tertarik dengan diskusi-diskusi ilmiah keislaman.

Hari minggu ini begitu panas; bersahabat dengan langit yang membara di atas kepalaku.

Kulihat ada nenek tua yang berusaha menyeberangi jalan. Sementara klakson-klakson kendaraan tak henti “menggonggong” mengiringi usahanya menuju bis yang kutumpangi. Ah, alhamdulillah, akhirnya ia sampai juga. Kaki rentanya berjalan, sambil matanya mencari apakah masih ada tempat duduk tersisa baginya. Ternyata hari ini bukan hari keberuntungannya. Tak ada satupun tempat tersisa, dan kulirik, tak ada wajah-wajah peduli baginya oleh seisi bus.

Hingga ia sekarang berada di sebelah kursi tempatku duduk. Spontan aku langsung berdiri, sambil sedikit menepuk pundaknya;

“Bu, silakan duduk”; sapaku, sambil tersenyum simpul.

“iya, terima kasih banyak ya nak”; ia membalas senyumku.

Kulihat sekilas wajahnya. Dulu ia begitu cantik, kurasa; ia secantik ibuku. Namun sayang, dunia ini bukan lagi tempatnya. Sekarang ia hidup di dunia, di mana kecantikan begitu dipuja. Sekarang, tubuh keriputnya sudah tak begitu berguna. Ia hidup di mana kecantikan lahiriah mengkhianati keindahan hati; terkatung-katung tak berguna.

“Ia pasti sudah ditinggal anaknya”; su’udzan-ku.

Sementara di kampus-kampus, kami terus dijejali dengan doktrin-doktrin dogmatik materialistik. Bahwa manusia sudah ditakdirkan untuk dunia. Bahwa kekayaan materiil adalah satu-satunya sumber kebahagiaan. Tubuh kami indah, wajah kami menawan, dan kehidupan kami begitu “gaul”.

“Lihatlah, lihatlah tubuh kami, wajah kami. Nikmatilah tubuh indah kami.”

Lihatlah di papan reklame sepanjang jalan; produk-produk kosmetik begitu dipuja. 10 tahun lebih muda, katanya. Bus ini adalah saksi, saksi di mana wanita-wanita ditipu dunia, ditipu usia, ditipu zaman. Dengan dalih keindahan, dengan dalih kecantikan, dada-dada mereka dipamerkan di papan-papan reklame sepanjang jalan. Dinikmati kaum-kaum “borjuis”, kaum pemilik modal, yang beberapa tahun kemudian mereka ditinggalkan. Menyisakan ketergantungan akan kosmetik, hingga tua renta, hingga tubuh mereka tak sanggup lagi menerima segala jenis produk kecantikan itu.

Sedang di sini, di kampus-kampus, kami terlalu disibukkan oleh pacar-pacar kami. Bagi kami, memiliki pacar adalah prestasi tersendiri, meski aku tak tau di mana letak prestasinya. Memiliki pacar adalah suatu kebanggaan. Sedang mereka yang “jomblo”, begitu diejek, ditertawakan, dan menjadi bahan candaan di dunia nyata maupun dunia maya. Sedang di lain sisi, mereka yang memilih menikah muda begitu diejek. Belum cukup umur-lah, belum dewasa-lah, harus mapan dulu-lah. Hei! Memang yang menjamin rezeki orang, engkau ataukah Tuhan? Aku begitu heran. Di zaman ini, mengapa zina muda lebih ditolerir daripada nikah muda? Mengapa nikah dini menjadi begitu terhina di hadapan mereka yang zina dini?

Kami menjadi begitu jauh dengan apa yang disebut sebagai petunjuk Tuhan, kitabullah. Bagi kami, belajar bahasa Arab adalah sesuatu yang sulit. Mengaji adalah pekerjaan yang amat membosankan. Kami menjadi begitu meragukan agama kami, Islam. Kami tidak mengerti betapa kayanya ilmu dalam Quran dan Sunnah. Sedang di luar sana, banyaknya organisasi dan harakah umat Islam, kadang justru membuat masyarakat umum menjadi begitu mudah terpecah belah. Persatuan yang seharusnya didasari atas kesamaan akqdah, kini mulai berubah menjadi kesatuan organisasi, harakah, pergerakan.

Konsep “perang” kini bertransformasi menjadi lebih elegan. Hari ini perang tidak harus menumpahkan darah, atau menghilangkan nyawa orang lain. Arena peperangan kini sudah berubah menjadi adu konsep, adu pemikiran, adu idealisme. Sesuatu yang dalam istilah Islam Kontemporer disebut sebagai istilah “Ghazwul Fikri” atau perang pemikiran memang dianggap strategi yang paling baik untuk melemahkan Islam dari dalam. Efek kekalahan yang begitu menyakitkan di “Perang Salib” membuat musuh-musuh Islam berpikir bahwa melawan Islam dengan kekuatan pedang adalah suatu hal yang sia-sia. Tak ada yang mampu mengalahkan konsep jihad yang begitu melangit dalam dunia Islam. Kini mereka melancarkan sebuah bentuk modern dari “perang salib”, yaitu perang pemikiran, sebuah konsep yang mampu menghancurkan sendi-sendi Islam dari dalam.

Kami adalah korban itu. Kami dibuat begitu jauh dengan agama kami. Kami menjadi begitu alergi dengan konsep yang disebut sebagai “Khilafah Islamiyah”. Di kampus, kami begitu didoktrin mengenai Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Agama adalah dua jalan yang berbeda yang harus terpisah satu sama lain, yang tidak boleh ada pencampur-bauran antar keduanya. Logika filsafat “westernian” begitu diagungkan. Hingga hari ini, kami, para pemuda, tidak begitu menyadari bahwa kami sudah begitu jauh dibawa tersesat. Pada akhirnya, hari ini umat Islam dibuat menjadi kelompok yang begitu tertindas, lihatlah Palestina. Target besarnya adalah pemurtadan besar-besar terhadap umat Islam.

Tidak ada cara lain, melawan pemikiran adalah dengan pemikiran pula. Umat Islam perlu mengantisipasinya dengan kecerdasan pemikiran juga, tentu saja Al-Quran dan Sunnah sebagai bingkainya.

Kulihat keluar jendela bis kota ini, ternyata halte pemberhentianku sudah beberapa meter terlewati. Biar bagaimanapun, kata terlambat itu ada, bus yang kutumpangi telah melewati batas perhentianku. Aku harus segera turun, akan repot urusannya jika aku terlambat menghentikan bus sementara aku tahu tujuanku telah dekat. Tidak masuk akal jika sampai aku rela menyesal karena terlambat menghadiri forum diskusi kali ini.

Beberapa saat di bus kota tadi kini menyadarkanku. Aku begitu menyesal karena baru menyadarinya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lahir di Kabupaten Lahat bulan Agustus 1994, sebuah titik kecil di belahan bumi Sumatera Selatan. Sedang menjadi mahasiswa aktif di Program Studi Sosiologi Pembangunan, tahun angkatan 2013, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta. Dunia pergerakan mahasiswa adalah aktivitas sehari-harinya. Ia yang memiliki minat dan ketertarikan besar membaca buku, menulis dan diskusi ilmiah ini, ternyata juga seorang gamers sejati dan mempunyai ketakutan terhadap film horror.

Lihat Juga

Negara militer Korea Utara (aljazeera.net)

Korea Utara Siap Perang dengan AS dan Sekutunya