Home / Berita / Nasional / Kyai Sudarman: Berqurban, Mengharirayakan Umat

Kyai Sudarman: Berqurban, Mengharirayakan Umat

(act.or.id)
(act.or.id)

dakwatuna.com – Jakarta.  Hikmah titah berqurban dari Sang Khalik, kembali terkuak. Berqurban menjadikan Hari Raya Idul Adha, sebagai hari gembira bagi semua umat manusia. Dimana setiap muslim usai shalat ied melakukan ritual penyembelihan hewan qurban, dan menyantapnya bersama-sama sembari berharap ridha-Nya.

“Hari itu, kata Rasulullah, tidak boleh seorang muslim pun bersedih. Oleh karenanya, kita semua, bagi yang mampu, diperintahkan menghari-rayakan umat, dengan berqurban,” papar KH Sudarman Ibnu Murtadho, Kamis  (18/9/14) di depan jajaran ACT bertajuk “Qurban dan Dakwah Kemanusiaan.” Kyai asal Serang, Banten ini memberi perspektif luas sekaligus menginspirasi di tengah sosialisasi program Global Qurban (GQ).

Lebih jauh, Kyai Sudarman, mengatakan manusia itu obyek dan subyek dakwah. “Maka, siapapun menjalankan ajaran Islam saja, sudah berdakwah. Dakwah jangan dipahami sempit sebatas menyerukan kebaikan dari mimbar atau ceramah belaka,” tegasnya.

“Pesan di balik ibadah kurban, bersamaan dengan momentum Idhul Adha, kita diajak berkurban untuk menghari-rayakan umat. Kalau Idhul Fitri itu dirayakan dengan bergembira makan bersama setelah berpuasa sebulan, maka Idhul Adha dirayakan dengan memotong hewan kurban, hal yang seharusnya lebih meriah karena ada proses pemotongan dan makan daging bersama-sama,” jelas Sudarman.

Esensi Idhul Adha tak lain, jangan sampai sehabis shalat Id, ada yang tidak beraktivitas apa-apa merayakan Idhul Adha. Petani habis Shalat Idhul Adha kembali ke sawah, pemulung habis shalat kembali memulung. Apalagi sampai ada yang bermuram durja, karena persoalan keseharian.

“Ini tidak boleh. Semua harus bisa berhari-raya menyantap daging kurban. Isyaratnya jelas, sunahnya sebelum shalat Idhul Adha gak usah makan apa-apa dulu, karena habis shalat Id akan memotong kurban dan bersantap daging kurban bersama-sama. Semua harus bergembira,” jelas Sudarman.

Berhari-raya itu bergembira. “Tabiat kehidupan, manusia tidak selamanya serius. Ada saatnya bergembira. Bergembiranya muslimin sedunia itu di Idhul Adha. Bahkan dipanjangkan dengan adanya ayyamul Tasyrik, hari Tasyrik, kesempatan tambahan bagi yang masih ingin, memotong dan berbagi kurban setelah tanggal 10 Dzhulhijjah,” urai Sudarman.

Pesan Sudarman,  saatnya mengedukasi umat agar tak berkurban sekadar menggugurkan sunah dari aspek fikihnya. Misalnya, cukup memotong kurban di perumahan, padahal sekitarnya sudah biasa menyantap daging. “Mengedukasi umat bisa berkurban di tengah mereka yang tak pernah menikmati daging, menjadi dakwah tersendiri. Kurban itu, dakwah sekaligus kemanusiaan. Menjalankan terencana seperti yang program GQ, menjadikan kurban bisa menghari-rayakan sebanyak-banyaknya umat yang mungkin tanpa kiriman kurban GQ, tidak menikmati hari raya,” pungkas Sudarman.* (ACTNews/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Penyerahan bantuan untuk pengungsi suriah dari Majlis Taklim Telkomsel melalui ACT. (Neneng Fitri Fitriyah/MTT)

Majelis Ta’lim Telkomsel Sumbang Rp 170 Juta Untuk Pengungsi Suriah