Home / Narasi Islam / Sosial / Indahnya Kebersamaan

Indahnya Kebersamaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

tangan-4dakwatuna.com Masih ingat lagu anak singkong? Sepertinya waktu itu masih ada dikotomis yang sangat dalam, bahwa antara singkong dan keju tidak bisa bertemu, lain kasta/kelas, harus dipisahkan, diberi dinding yang tebal agar tidak bisa bertemu. Ini sebagaian kutipan lirik tersebut: “aku suka singkong, kau suka keju oi oi …. Manalah mungkin….”. Singkong seolah lambang makanan orang miskin, sementara keju untuk orang kaya. Singkong makanan orang desa, atau setidaknya walau di kota tapi makanan trotoar yang dijual memakai pikulan di pinggir jalan atau di terminal, sementara keju makanan orang kota yang adanya di tempat-tempat makan berkelas.

Kini zaman sudah berubah, ternyata singkong dan keju bisa bertemu. Sudah banyak penjual makanan yang judulnya “Singkong Keju”. Ternyata rasanya tak terduga, uueeenak.. luar biasa, subhanallah…

Ini kreatifitas yang harus diapresiasi, apalagi harga beras sudah mahal. Pelajaran yang paling berharga buat kita manusia bahwa kalau kita mau duduk bersama tanpa banyak mempersoalkan latar belakang, ternyata bisa memiliki citra rasa yang enak. Bersinergi membangun kebersamaan, saling memahami, saling menolong, saling memberi, saling melindungi, saling melengkapi… ooh alangkah indahnya dunia… kalau ini benar-benar terjadi.

Manusia Berbeda

Ternyata mempertemukan manusia tidak semudah mempertemukan antara singkong dan keju. Karena manusia makhluk hidup, punya hati dan pikiran, sementara singkong dan keju hanya benda mati, tentu tidak punya hati dan pikiran.

Ada banyak faktor yang menyebabkan sulitnya manusia bisa duduk bersama. Perbedaan latar belakang, kepentingan, tujuan, pikiran, perasaan, situasi kondisi dan lain-lain, itulah yang menyebabkan manusia sulit untuk selalu bersama. Tidak jarang pasangan suami istri yang sudah usia senja, berumah tangga sudah berpuluh tahun ternyata harus berpisah. Gejolak perasaan kadang berfluktuasi begitu cepat dan ekstrim. Lalu apakah mungkin kebersamaan ini bisa diupayakan? Jawabannya sangat, sangat mungkin. Bagaimana resepnya?

Kebersamaan bisa terwujud jika ada ikatan bersama, tujuan dan sasaran bersama, visi misi bersama, agenda bersama serta kepentingan bersama. Sementara kepentingan pribadi memang ada, tetapi harus di bawah kepentingan bersama. Kepentingan bersama harus di atas kepentingan-kepentingan pribadi.

Rusaknya sebuah lembaga atau tatanan sosial jika tidak memiliki sistem dan mekanisme untuk meredam ambisi-ambisi pribadi. Apabila ada kepentingan pribadi maka sebisa mungkin kita redam, kemudian selaraskan agar tidak merugikan kepentingan bersama, sehingga tidak ada agenda-agenda hidden yang merusak tatanan.

Untuk menjamin bahwa kita tidak memiliki agenda-agenda hidden maka harus berani terbuka. Tidak ada alasan apapun yang membenarkan kita untuk menutup diri, kecuali memang itu wilayah privasi. Ketertutupan membuka pintu prasangka buruk untuk orang lain, bahkan dalam Islam ada yang harus diumumkan dan disebarluaskan, seperti pernikahan.

Semakin banyak yang dirahasiakan semakin lebar pula prasangka atau tuduhan. Sulit ditafsirkan lain jika wilayah publik juga harus ditutupi, kecuali tuduhan ada tunggangan kepentingan pribadi. Kalau masing masing pihak punya kepentingan dan agenda sendiri yang mendompleng sebuah lembaga dan institusi, maka layakanya sebuah pohon yang dihuni oleh berbagai tumbuhan parasit. Satu parasit saja membuat pohon itu mati, apalagi parasitnya banyak. Maka yang akan rimbun lebat dan hijau tanaman parasitnya bukan pohon aslinya.

Orang-orang yang terbuka adalah orang-orang yang siap menerima fakta apapun yang berada di hadapannya. Ia tidak akan takut dilihat oleh orang lain. Sementara perbuatan dosa ciri-cirinya menurut hadits nabi adalah sebuah perbuatan yang apabila terlihat oleh orang lain maka si pelaku akan merasa malu.

Orang yang siap menerima fakta adalah orang yang punya jiwa besar serta lapang dada. Ia mempunyai harga diri untuk melakukan perbuatan hina, apalagi menjadi parasit bagi orang lain atau penghisap bagi sebuah lembaga atau institusi. Belum lagi bicara maksiat, dosa atau neraka baru bicara gengsi dan harga diri saja ia akan sangat malu untuk sebuah perbuatan yang akan membuat dirinya merasa terhina seperti menjadi parasit.

Jika kita ingin terbuka siap menerima fakta, kita juga harus berlapang dada, maka harus pula siap menerima masukan apapun dan dari siapun. Kritik dan saran merupakan gizi yang sangat baik untuk kita terus berkembang. Musuh adalah patner tebaik untuk lebih sensitif melihat kekurangan kita. Kalau perlu kita siapkan bonus-bonus untuk orang yang sering melihat kekurangan dan mengkritik kita. Semakin banyak masukan semakin cepat orang itu berkembang. Maka tidak ada alasan lagi , takut duduk bersama-sama dengan siapapun, karena kita sudah mempunyai sikap lapang dada.

Tujuan, agenda, kepentingan bersama, akan bisa kokoh terwujud kalau kita sering duduk bersama. Tidak perlu ada yang ditakuti lagi jika kita siap terbuka, lapang dada, dan siap menerima masukan. Kita juga tidak takut buka-bukaan karena kita tidak punya agenda hidden. Tidak juga takut bertemu siapapun karena kita tidak merasa punya konflik dengan siapapun.

Maka kita senantiasa merasa nyaman, dalam situasi kondisi bagaimanapun, di manapun dan dengan siapapun. Kalau semua pihak sudah punya perasaan seperti ini maka tidak ada masalah yang tidak terselesaikan. Perasaan seperti inilah yang kita sebut kompak, semua masalah pasti akan bisa kita selesaikan. Jadi kata kuncinya “sering duduk bareng”

Sering duduk bareng saja tidak cukup, kalau tidak disertai kebersihan hati dan jiwa. Para politikus sering duduk bareng di gedung pareleman, bahkan sampai larut malam. Tetapi ketika masing-masing punya agenda, ambisi, tujuan yang berbeda-beda yang terjadi hanyalah perkelahian. Mungkin saja pada awalnya seseorang yang terjun dalam sebuah medan perjuangan masih punya kebersihan hati, orientasi yang lurus, pandangan yang idealis. Tetapi ketika ada kesempatan dan peluang materi di hadapannya, terus-menerus, bisa saja mengubah jalan pikiran, orientasi dan idealisme seseorang seseorang. Oleh karena itu menjaga kebersihan hati dan jiwa tidak boleh berhenti, atau dibatasi oleh tempat dan waktu tertentu saja.

Menjaga Kebersihan Hati

Kebersihan jiwa dan kesucian hati sangat diperlukan untuk meredam dan mengendalikan ambisi-ambisi pribadi. Pandangan seseorang terhadap materi sangat tergantung kondisi hatinya. Hidup manusia dikendalikan oleh pikiran dan perasaannya yang bermuara di hati. Rasulullah bersabda: “ Ingatlah di dalam tubuhmu ada segumpal daging, jika ia baik maka baik seluruh jasadmu, ada apabila ia buruk, maka buruklah seluruh jasadmu, ingalah segumpal daging itu adalah hati.

Sehingga pengendalian hati juga menjadi kunci adanya kebersamaan. Kalau setiap kita mau berupaya keras untuk mengendalikan hati, insya Allah akan sangat mudah tercapainya kebersamaan. Cara yang paling ampuh mengendalikan hati adalah adanya kesiapan agar menerima Zat yang Maha Kuasa yang mampu mengendalikan hati. Dalam surah Al-Anfaal (8) ayat 63 Allah berfirman:

“Dan Allah lah yang menyatukan hati kalian, seandainya kalian anggarkan belanja semua yang ada di bumi, tidak mungkin kalian bisa mempersatukan hati, karena Allah lah yang menyatakan hati mereka”

Kepentingan Pribadi atau Kepentingan Bersama ?

Tidak perlu saling menuding siapa yang punya kepentingan pribadi, lebih baik kita evaluasi diri sambil membuat dhawabit (patokan) untuk pribadi kita sendiri, agar tidak mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama:

  1. Tidak boleh ada standar ganda, peraturan berlaku untuk semua orang, pengecualian harus ada alasan yang jelas yang juga sudah disepakati bersama, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan.
  2. Tidak boleh bercabang dua ketika kita sudah melakukan akad, maka semua akad itu harus dipenuhi, baik waktu, tenaga, pikiran, perasaan, perhatian, ketermpilan serta kontribusi yang kita berikan.
  3. Tidak boleh ada yang ditutupi atau disembunyikan ketika memang harus dibuka pada orang atau struktur yang berhak menerimanya.
  4. Jangan ada main kucing-kucingan, atau main belakang, atau persekongkolan tersembunyi, atau rapat-rapat gelap atau rencana apapun yang disembunyikan.
  5. Siap menerima perubahan apapun ketika memang harus berubah, tidak khawatir akan kehilangan kenikmatan yang selama ini sudah dirasakan. Sehingga selalau disikapi dengan positif bahwa perubahan ini untuk kepentingan bersama.
  6. Siap ditempatkan di mana saja sesuai dengan kemampuan kita, dan tidak ada perasaan perbedaan posisi baik basah atau kering.
  7. Siap melebur dengan keputusan bersama walaupun pada awalnya tidak nyaman, sambil terus belajar dan menyesuaikan diri sampai ada evaluasi berikutnya.

Sebagai implementasinya adalah kita buat tujuan, sasaran, agenda dan kepentingan bersama harus sejajar dengan orientasi yang telah Allah tetapkan. Karena di situ ada jaminan bahwa Allah SWT sebagai Zat yang Maha Adil, tidak punya kepentingan dengan siapapun, maka segala ketentuanya akan senantiasa akan berpihak kepada kemaslahatan dan keadilan. Karena ukurannya jelas, maka kita tidak butuh retorika seseorang, yang kita butuhkan adalah bukti.

Seribu kali seseorang mengatakan untuk kepentingan rakyat, untuk kepentingan bangsa dan Negara dan sebagainya , tapi lihat saja bukti hari-harinya, gaya hidupnya, keluarganya dan lain-lain. Ribuan kali hormat bendera tetapi kalau ternyata korupsinya paling besar, untuk apa..? Ribuan kali mengatakan terbuka tetapi banyak sekali agenda-agenda hidden yang tidak boleh diketahui orang..? Ribuan kali mengatakan kebersamaan tetapi sulit sekali duduk bareng…? Dan seterusnya…

Membuang sifat Egois

Di antara sifat yang bisa merusak Team Work dan kebersamaan adalah sifat egois. Orang yang egois akan selalu mendahulukan kepentingan pribadi diatas kepentingan bersama, karena itulah kita harus mewaspadainya, supaya sifat itu tidak ada pada diri kita. beberapa ciri-ciri orang yang bersifat egois adalah:

  1. Sulit mengenal apalagi memahami orang lain, walau sering berinteraksi, sehingga yang ada sering terjadi salah faham.
  2. Minta dipahami orang lain, tetapi tidak mau tahu dan tidak mau memahami orang lain.
  3. Merasa paling benar sendiri, sementara orang lain selalu salah.
  4. Merasa paling banyak kontribusi dan jasanya, sehingga menganggap kecil kontribusi orang lain, bahkan tidak diperhitungkan.
  5. Lebih dahulu meminta hak dari pada melaksanakan kewajibannya.
  6. Lebih suka minta dilayani dari pada melayani orang lain.
  7. Merasa paling berhak mengatur sehingga sulit diatur atau sulit mematuhi aturan yang telah disepakati bersama.
  8. Merasa terganggu jika ada campur tangan pihak lain, karena merasa jadi kurang leluasa geraknya.
  9. Mengecilkan Ide-ide orang lain, karena merasa superior, sehingga dianggap tidak berguna masukan dari lainnya.
  10. Merasa nikmat yang telah diterima terlalu kecil, sehingga kurang berterimakasih dan kurang bersyukur.
  11. Jika mendapat musibah atau cobaan merasa paling sengsara, terzhalimi, menderita, terpuruk dan sebagainya.
  12. Senang dan sibuk mencari kesalahan orang lain, senang mencari kambing hitam, sampai melupakan kesalahannya sendiri.
  13. Sulit mencari teman yang cocok, sehingga hanya sebagian kecil orang saja yang bisa memahami dan melayani dirinya yang bisa dijadikan teman.
  14. Sering mengkotak-kotakkan orang lain dengan judge kawan atau lawan, musuh atau teman, pembela atau penghianat dan seterusnya.
  15. Hanya dapat melihat dari sudut pandangnya; tidak dapat melihat dari sudut pandang orang lain, apalagi merasakan apa yang orang lain rasakan. Jadi, tidak mudah untuk berdiskusi dengannya karena ia akan berusaha keras agar kita menuruti pendapatnya
  16. Hanya memikirkan kepentingan pribadinya; jadi, apa yang dikerjakannya selalu untuk kepentingan pribadi, bukan murni untuk kepentingan orang lain. Ia tidak mengenal makna pengorbanan dan ketulusan; semua hal diperhitungkan berdasarkan untung-ruginya.
  17. Hanya membicarakan pekerjaannya, teman-temannya, perasaan dan segala sesuatu yang menyangkut tentang dirinya sendiri
  18. Sangat senang dengan standar ganda, semua peraturan dianggap hanyak untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Merangkul atau Memukul

Berdiri di dua kaki seperti “Abdullah bin Ubay bin Salul” tokoh munafik legendaris pada zaman Rasulullah SAW, adalah sangat berbahaya. Karena di samping dia punya ambisi pribadi ingin menjadi penguasa di Madinah, juga ingin menghancurkan kekuatan Kaum Muslimin Madinah. Kedudukannya seperti para penjilat di zaman belanda yang dengan teganya menjadi mata-mata untuk kepentingan belanda. Tetapi dalam konteks merangkul, menyatukan langkah untuk bersinergi maka, akan sangat berbeda kondisinya, tidak cukup hanya berdiri di dua kaki, kita pun harus mampu berdiri di seribu atau sejuta kaki.

Orang yang hatinya berpenyakit dan punya agenda pribadi seperti Abdullah bin Ubay akan terasa sesak dadanya ketika melihat orang mampu berdiri di seribu kaki, seperti Rasulullah SWT yang berhasil merangkul Kaum Aus dan Khazraj. Karena bagi Abdullah bin Ubay ini merupakan ancaman yang bisa menggeser kedudukannya. Tidak ada pilihan bagi dia kecuali bermain di dua kaki, untuk meminta batuan orang-orang kafir quraisy untuk menggolkan ambisinya.

Akhirnya kembali lagi kepada kebersihan hati. Orientasi, tujuan, sasaran, target, agenda, kepentingan bersama akan bisa kokoh permanen kalau masing-masing pihak senantiasa menjaga kebersihan hatinya.

Alangkah indahnya dunia ini jika kebersamaan diikat oleh hati yang bersih, jiwa yang tulus, pikiran yang jernih, orientasi yang lurus, tujuan yang jelas, agenda yang transparan serta kepentingan yang tidak berpihak.

Tidak ada lagi kawan dan lawan karena semua sudah bersinergi, tidak ada kelompok ini dan itu, karena sudah disatukan dalam langkah yang sama. Tidak ada lagi kasak kusuk, lobby-lobby sembunyi, sikut menyikut, jegal menjegal dan sebagainya. Semua merasakan kepemilikan dan terakomodasi kepentingan pribadinya yang telah lebur menjadi kepentingan bersama. Mudah-mudahan ini bukan mimpi atau khayalan tetapi sebuah obsesi yang harus menjadi kenyataan.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdullah Muadz
1. Pendiri Pesantren Marifatussalaam Kalijati Subang. 2. Ketua Umum Assyifa Al-Khoeriyyah Subang. 3. Pendidiri, Trainer & Presenter di Nasteco. 4. Pendiri dan Trapis Islamic Healing Cantre Depok. 5. Pendiri LPPD Khairu Ummah Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (rezadewangga.deviantart.com)

Jika Pagi Telah Tiba

Organization