Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Persaksian Dunia Terhadapmu, Islam!

Persaksian Dunia Terhadapmu, Islam!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Politik Religius (inet) - gazeta-shiqip.com
Politik Religius (inet) – gazeta-shiqip.com

dakwatuna.comBeruntungnya, sebagian kita terlahir sebagai seorang muslim. Minimal, kita tidak perlu bersusah payah melalui sekelumit proses melelahkan mencari kebenaran tersebut. Bahkan tak sampai melewati proses hijrah yang demikian mengeruk emosi dan raga hingga menampilkan Islam sebagai sebuah identitas diri. Sebuah nikmat Allah yang melahirkan berbagai nikmat lain pada diri yang tak pernah memintanya.

Di zaman ini, kita lahir tanpa persaksian sejarah untuk menegaskan apa yang telah ditorehkan Islam pada dunia. Bekas kegemilangan yang membuat dunia dihampiri hujan rahmat juga kebaikan dan menghasilkan para manusia yang beradab. Kecewanya, seringkali kita hanya mendengar dominasi keburukan tentangnya. Seolah menyiratkan ada tirai pembatas antara dinnul haq tersebut dengan kehidupan dunia.

Islam digambarkan berbeda, dilayakkan hanya pada tempat-tempat tertentu saja. Sungguh, pemahaman terhadap agama tersebut menjadi parsial dan termarjinalkan. Islam sebagai sebuah sistem yang sempurna dianggap sebagai bagian yang memberanguskan kreativitas, mematikan potensi dan menyempitkan gerak. Hati menjadi panas dan terusik tatkala aturan-aturan Islam mencoba memadati berbagai sektor kehidupan.

Kekecewaan yang wajar, melihat segelintir orang yang memeluk Islam dianggap sebagai sebuah kesalahan. Minoritas pemeluk agama Islam di beberapa negara lain tidak hidup senyaman kita di Indonesia. Adapun menjalankan Islam secara kaffah dianggap sebuah kekeliruan. Layaknya menyembunyikan aib di balik kudung panjang yang terurai. Kebanyakan masyarakat kita khawatir dengan fanatisme yang menjalar. Nalar mereka menangkap kosakata baru, ‘teroris’, di balik punggung orang yang berjalan dengan sorban dan cadar. Sedemikian hingga berislam secara totalitas kadang dianggap angkuh.

Hingga terdengar larangan memenuhi perintah Allah yang bahkan terjadi di sebuah negara yang memiliki toleransi beragama yang tinggi. Pelarangan jilbab di Pulau Bali, misalnya. Pelarangan penggunaan jilbab bagi polisi wanita Indonesia. Pemberhentian masa kerja maupun studi teruntuk muslimah yang berhijab dan tinggal di Perancis maupun London. Islam dicitrakan seolah asing dan harus dipenjarakan.

Islam tidak demikian, kawan. Islam lahir bukan untuk membawa pengikutnya hidup bersusah-susah. Keberadaan Islam untuk melahirkan sosok-sosok extra ordinary di bawah naungan keberkahan Sang Pencipta. Kita akan melihat Islam sebagai cahaya, bukan sesuatu yang meragukan maupun samar. Kita akan melihatnya sebagai seberkas kelegaan akan perlindungan, bukan jeruji yang membatasi.

Kita akan melihat Islam sebagai ekspresi kebebasan yang sesungguhnya. Bukan malah dipisahkan dalam batasan masjid maupun surau. Kita akan menyandangnya sebagai sebuah kebanggaan yang memotivasi. Betapa banyak ilmuan, dokter bahkan politisi yang lahir dari perjumpaannya dengan Islam. Berinteraksi dengannya akan menciptakan kelelapan hidup yang nyata.

Sejarah mencatat, Islam telah mengukir kejayaan di dunia. Kesaksian dunia terhadap Islam akan membawa kita pada kekaguman yang berlapis bangga. Di saat Eropa masih dalam zaman kegelapan, Islam telah melangkah duluan dalam kegemilangan. Saat Islam menyentuh daratan Eropa, peradaban mereka menjadi jauh lebih maju.

Ketika Islam menyentuh Spanyol, ia berubah menjadi kota dengan pusat pengetahuan dan peradaban. Masyarakat hidup berteman dengan produk teknologi. Peninggalan sejarah masih dapat ditengok hingga kini, kecantikan arsitektur yang disusupi pengaruh Islam. Pada abad ke-10 M, Cordova mengalahkan keindahan konstantinopel dengan pesona bangunan rumah sakit, universitas, masjid dan istana.

Ilmuan-ilmuan Islam akhirnya bermunculan. Menginisiasi tiap bidang keilmuan untuk meciptakan karya yang bermanfaat bagi dunia. Perpustakaan menjadi prasarana wajib yang dihadirkan di tiap kota. Islam memotori tiap perkembangan keilmuan dengan hadirnya Al Khawarizmi, Al-Kindi, Ar-Razi, Ibnu Sina dan lainnya.

Jelas, perkembangan keilmuan akan menjembatani tiap perkembangan dasar lainnya. Hal tersebutlah yang dinikmati saat zaman kejayaan Islam dahulu. Islam menjadi motivasi bagi tiap pemudanya untuk menelurkan karya, sesuai dengan berbagai tuntunan Quran dan hadist yang menyiratkan perintah untuk menuntut ilmu. Bahkan dalam kehidupan sosial masyarakat pun, hukum Islam menyatu dengan baik. Tiap permasalahan sosial mendapat wadah penyelesaian yang tak merugikan pihak manapun.

Islamlah yang mewarnai daratan Eropa menjadi demikian maju. Membebaskan mereka dari teori-teori lama yang tidak ilmiah dan berdasar pada asumsi turunan dari nenek moyang. Semisal teori geosentris ptolomeus (bumi sebagai pusat edar) yang akhirnya digantikan oleh teori matahari sebagai pusat tata surya, kajian para cendekiawan muslim.

Kita dapat melihat Turki sedemikian gagah dipimpin R.T. Erdogan. Beliau membawa Islam ke kehidupan masyarakatnya dengan cerdas dan gemilang. Ia berhasil membawa Turki ke peringkat 17 dunia dalam hal ekonomi, setelah sebelumnya mengantungi hutang 11,7%. Dunia mengakui keberadaan dan pemikirannya.

Sudah saatnya melihat Islam atas dasar pemahaman yang integral dan komprehensif. Mencintai Islam sebagai bagian dari identitas diri. Toh, Islam menaungi segala kreativitas dan potensi yang membangun. Alangkah indah melihat segenap kemajuan teknologi bersahabat dengan Islam.

Saat Islam tidak dipahami hanya selintas dalam batasan ibadah wajib. Saat muslimahnya melihat hijab adalah ekspresi penghargaan. Saat salam kesejahteraan dikumandangkan di tiap pertemuan dengan saudara muslim. Saat Al-Quran bergeser posisi dari lemari berdebu menuju dekapan hangat tiap muslim. Saat syair lagu gundah berganti dengan alunan ayat Quran yang menyejukkan. Saat alergi terhadap Islam berganti dengan kekaguman yang memotivasi.

Kita menghadapi tantangan baru di era yang berbeda. Saat kompetisi adalah makanan sehari-hari. Saat kebudayaan dan nilai luhur tersusupi kebudayaan barat yang melemahkan. Saat kita harus melihat dengan berbagai sudut pandang untuk menghidupi hati. Bahkan hingga saat ini pun, Islam selalu relevan dalam berbagai terjemah untuk kehidupan.

Selamat berselancar di gelombang ketiga!

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi jenjang studi S1 FKIP Matematika Universitas Mulawarman - Tahun Angkatan 2010 - Sedang menyelesaikan tugas akhir dan mengemban amanah staff Humas KAMMI Kaltim

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini