Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tolok Ukur Kebahagiaan

Tolok Ukur Kebahagiaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Jika kebahagiaan diukur dengan status sosial, tentu mereka para pesohor Quraish lebih berbahagia dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan.

Jika kebahagiaan diukur dengan materi atau kekayaan, tentu Qorun lebih berbahagia dari nabi Musa ‘Alaihi assalam yang hidup dengan kerendahan hati.

Jika kebahagiaan diukur dengan jabatan, pangkat dan kekuasaan, tentu raja Namrud lebih berbahagia dari nabi Ibrahim ‘Alaihi assalam yang hidup dengan keteguhan hati.

Jika kebahagiaan diukur dengan popularitas, tentu orang-orang terkenal di zaman sekarang tidak hidup dengan ketergantungan obat-obatan terlarang dan tidak mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.

Apa jadinya jika….!

Jika kebahagiaan terletak pada materi, tentu akan sangat sedikit mereka yang bisa berbahagia dalam hidupnya, karena sebagaimana kita ketahui jumlah orang-orang kaya lebih sedikit dibanding orang-orang miskin atau tidak banyak orang yang memiliki uang melimpah, adapun yang memiliki hutang atau tidak punya uang sama sekali itu jumlahnya sangat banyak.

Apa jadinya jika kebahagiaan diukur lewat banyaknya pangkat dan jabatan, tentu akan lebih sedikit lagi mereka yang bisa berbahagia dengan mudah, karena tidak semua manusia bisa memiliki pangkat dan jabatan dalam kehidupannya.

Apa apa jadinya jika kebahagiaan dinilai dari popularitas atau suksesnya karir seseorang, tentu tidak banyak mereka yang bisa berbahagia dalam hidupnya, karena tidak semua orang bisa dikenal oleh banyak orang dan tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi orang terkenal dan bisa berkarir.

Dan apa jadinya jika kebahagiaan hanya bisa dipastikan dengan kebanggaan menjadi seorang PNS atau menjadi anggota dewan perwakilan rakyat atau memiliki status sosial lainnya yang sering dielu-elukan banyak orang di zaman sekarang, tentu akan lebih sedikit lagi mereka yang bisa berbahagia dengan mudah.

Lalu di manakah letak kebahagiaan?

Sebagai seorang muslim sebaiknya menutup rapat-rapat pintu yang bisa mengantarkannya kepada ketidakbahagiaan. Kebahagiaan sejatinya adalah milik mereka yang mempunyai pikiran-pikiran yang jernih, berpandangan luas, jiwa-jiwa dan hati yang merdeka dari segala hal yang membelenggu diri, keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk mereka bisa menjadi bahagia di dunia, karena bahagia adalah suasana hati.

Itulah bahagia Allah Ta’ala tempatkan di dalam hati manusia dan semua manusia sejatinya memiliki hati, jika semua manusia menempatkan bahagia di dalam hatinya niscaya kita semua akan mudah untuk berbahagia.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 4,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

10 Tips Hidup Bahagia dan Penuh Percaya Diri