Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Gelora Ukhrawi

Gelora Ukhrawi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Jika setiap perjuangan membutuhkan energi, maka ada dua elemen yang selalu melekat dalam tiap kalorinya. Dua hal itu ialah semangat dan tekad. Jika dianalogikan; maka energi ialah pemantik, tekad ialah sumbu, dan semangat ialah apinya. Maka untuk menciptakan api yang besar dan membara; tentu memerlukan pemantik kayu api yang kokoh, dan dikelilingi oleh kualitas sumbu kelas tinggi.

Dan 3 elemen ini (energi, semangat, dan tekad), sering menjadi ‘barang dagangan’ terbaik bagi para ahli pengembangan diri. Para motivator dan ahli pengembangan diri, seringkali melibatkan emosi para audiens dengan menyentuh imajinasi mereka. Agar terbangun gelora kehidupan yang hebat. Entah dalam kegiatan motivasi leadership, motivasi belajar, hingga perenungan untuk membangkitkan ruhiyah individu.

Ada satu hal yang sering terlupakan berkaitan dengan gelora, yaitu gelora yang terbangun dalam balutan kepemimpinan surgawi. Gelora yang tercipta atas visi dasar ukhrawi. Karena jika gelora ini sudah berproses, reaksi yang terjadi ialah; semangat yang berapi-api, atas tekad yang membumbung tinggi, sehingga menghasilkan energi yang melebihi batas imaji.

Gelora ukhrawi dalam balutan kepemimpinan surgawi, dicontohkan langsung oleh amirul mukminin; Umar bin Abdul Azis. Sepupu langsung dari khalifah Salman, yang menjadi khalifah bani Umayyah sebelum Umar bin Abdul Azis menjabat.

Sebelum menjadi khalifah, Umar menjabat sebagai walikota Madinah terlebih dahulu. Kehebatannya dalam memimpin terlihat, ketika Umar bin Abdul Azis sukses menjalani reformasi pemerintahan yang luar biasa sewaktu menjadi khalifah. Beliau berhasil mengubah masa krisis, menjadi kejayaan. Menyudahi awan kelabu, menjadi sinar mentari yang indah. Dalam rentang waktu kurang dari 3 tahun masa kepemimpinan, sebelum akhirnya beliau meninggal diracun.

Umar bin Abdul Azis berhasil melakukan reformasi pemerintahan yang hebat. Hidup dalam kesedehanaan dan kebersahajaan. Bahkan menurut para ahli sejarah keislaman, Umar bin Abdul Azis hanya mendapatkan gaji 2 dinar/hari atau setara dengan 60 diham/bulan. Yang pada masa itu, terhitung sangat tidak layak untuk seorang khalifah. Tapi pemerintahan berjalan dengan baik, dan kesejahteraan penduduk berhasil mencapai garis puncak. Tak ayal, jika para ahli sejarah ‘menobatkan’ Umar bin Abdul Azis sebagai khalifah ke-5; setelah para khalafaur rasyidin.

Gelora ukhrawi ditampilkan oleh Umar bin Abdul Azis, ketika beliau pertama kali diangkat menjadi khalifah. Saat pengangkatannya, kata yang pertama kali diucap oleh Umar bin Abdul Azis ialah “inni akhofu naar..”. Aku takut terhadap (azab) neraka.

Lihatlah, bagaimana ucapan dapat membangkitkan gelora ukhrawi dalam diri Umar bin Abdul Azis. Masa kepemimpinan yang singkat, bukanlah alasan untuk menutupi ketidakmampuan menghasilkan kinerja yang baik. Yang terjadi sebaliknya. Hampir seluruh rakyat puas dengan kepemimpinannya. Dan hampir seluruh rakyat mencintainya. Gaya kepemimpinan yang jauh dari ketamakan, hingga rakyat merasakan kemakmuran yang merata.

Begitulah gelora ukhrawi yang membaluti kepemimpinan surgawi bereaksi. Bahwa api semangat yang hadir bukanlah semangat yang menggebu-gebu, tapi tidak terarah. Karena bukan seperti itu model kepemimpinan surgawi. Hakikatnya, gelora ukhrawi itu hadir dalam wujud; semangat perjuangan dengan penuh ketenangan, tekad membaja dengan penuh kekhusyuan, dan energi pengorbanan dengan penuh keikhlasan.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.