Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berdiksi Dalam Berkata

Berdiksi Dalam Berkata

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sering sekali kita mendengar seseorang berkata, “Ah, kenapa harus begini!?”, ketika kita mendapatkan kejadian yang tidak kita sukai. Padahal tanpa kita sadari bahwa kita yang memilih takdir tersebut. Ya. Tanpa sadar.

Mungkin kita termasuk orang yang suka ceplas-ceplos. Tidak betah menyimpan sesuatu di dalam hati. Entah itu keinginan, impian, harapan, doa dan atau pikiran yang tengah terbesit sekalipun. Itu tidak masalah. Namun jika kita sadar kadang omongan ceplas-ceplos itu menjadi kenyataan. Menjadi benar adanya. Hadir dalam kehidupan kita. Meski kadang kita sering menyalahkan takdir, padahal kita sendiri yang telah memilihnya. Tanpa kita sadari.

Pernah seseorang yang kakinya patah karena kecelakaan berkata kepada saya, “Dulu aku sering berkata aku ingin berhenti bekerja di pabrik tempatku bekerja. Dan benar adanya bahwa aku berhenti bekerja. Karena kakiku patah. Jika saja aku mau berkata, kenapa harus dengan cara ini aku berhenti bekerja?” Semenjak kecelakaan itu dia total menjadi seorang ibu rumah tangga dan dia benar-benar berhenti bekerja dengan cara yang seperti itu. Bagaimanapun cara dia berhenti itulah yang terbaik dariNya.

Lalu sudah tidak terhitung lagi beberapa macam impian dan keinginan yang saya lontarkan tanpa keseriusan maupun keseriusan dihadirkan Allah dalam kehidupan saya. Seperti keinginan saya untuk berlepas diri dari seseorang, lalu Allah kabulkan hal tersebut.

Lantas saya mentafakuri semua yang telah terjadi. Baik yang terjadi pada diri saya pribadi maupun apa yang terjadi kepada teman saya yang kakinya patah tersebut. Benar adanya, bahwa kata-kata adalah doa. Setiap kata yang kita ucapkan, mengandung doa. Seperti ibu Malin Kundang yang mengutuk anaknya menjadi batu, kemudian benar adanya tak lama dari itu Malin Kundang sang anak durhaka itu pun menjadi batu. Itulah salah satu bukti konkret bahwa kata-kata adalah doa. Termasuk apa yang dialami teman saya yang ingin berhenti bekerja itu yang kemudian Allah benar memberhentikannya. Walau cara yang dia peroleh agak lama diterimanya dengan lapang dada.

Dalam istilah, shalat juga diartikan sebagai doa. Karena shalat terdiri dari ucapan-ucapan yang mengandung harapan. Dari mulai takbir sampai salam.Tak ayal bila ucapan kita juga adalah doa.

Seorang ibu hamil tentunya harus berpantang mengucapkan kata-kata yang buruk, agar janin di dalam perutnya selamat sentosa. Lalu harus bagaimana? Apakah kita ingin terus menerus menjadi korban atas kata-kata kita?

Allah memiliki 99 nama-nama yang baik. Salah satunya adalah Maha Mendengar. Bisikan hati saja Allah bisa mendengar-Nya. Apalagi yang keluar dari mulut kita. Pendengaran-Nya tidak terbatas ruang dan waktu. Alam dunia atau ghaib. Bisikan maupun perkataan macam apapun, Allah jelas mendengarnya. Juga setiap kata dan huruf yang kita keluarkan dari mulut kita Allah tahu dengan jelas.

Berkata dengan memilih diksi yang tepat bisa menyelamatkan kita dari perkataan kita sendiri. Diksi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sebagai pemilihan kata yang tepat dan selaras.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau (kalau tidak bisa) maka hendaknya ia diam.” (HR. Muslim)

Rasulullah mencanangkan pilihan kepada umatnya, berkata baik atau diam. Berkata baik tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga berlaku untuk diri sendiri. Ya. Berkata baik untuk diri sendiri sama halnya juga dengan mendoakan diri sendiri.

Ucapan sehari-hari kita yang keluar dari mulut kita, sejatinya kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Allah berfirman, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18).

Berdiksi tidak hanya berlaku dalam hal tulis menulis bagi seorang muslim. Tapi juga dengan apa yang dia katakan dan ucapkan. Karena kata-kata kita adalah doa. Dan karena kata-kata kita akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.

Adapun ketika kita tengah asyik mengobrol dengan teman, menginginkan satu hal, atau berharap ini dan itu, lakukanlah dengan pemilihan diksi yang baik. Agar kelak ketika ucapan itu hadir dalam kehidupan kita, kita bisa dengan bahagia dan lapang dada serta penuh dengan rasa syukur menerimanya.

Begitu pun dengan apa yang selalu saya lakukan. Saya menginginkan sekali ganti kacamata, dan saya selalu berharap dan meminta kepada Allah bahwa saya ingin sekali ganti kacamata, tapi dengan cara yang baik, keadaan yang baik, dan dengan niat yang baik. Segalanya ingin dalam kebaikan. Kini saya selalu menyematkan “yang baik” di akhir kalimat keinginan dan doa saya kepada Allah. Benar adanya Allah pasti akan mengantarkan kita kepada apa yang kita harapkan dengan cara yang baik dan dalam keadaan yang baik. Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Melin Al-Asira
Mahasiswi tingkat akhir di salah satu univeritas di Bandung. Sebagai jurusan pendidikan bahasa saya sangat senang sekali dalam dunia tulis menulis. Ikut dalam salah satu organisasi kepenulisan Islami di kampus, yakni Al-Qolam KI untuk itu saya menggunakan media tulisan sebagai salah satu media dakwah yang semoga lebih menarik.

Lihat Juga

Jurai Kata