Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menggertak Jiwa

Menggertak Jiwa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com

Adalah Musa,

Seorang buronan di Mesir, pembunuh yang lari dari tanggung jawab.

Suatu siang terjadi perkelahian antara Samiri dari Bani Israil dengan Fa’tun dari Kaum Fir’aun. Merasa kaumnya dianiaya, Musa yang sedang membara jiwa mudanya kemudian segera melontarkan pukulan dan tumbukannya kepada Fa’tun yang seketika itu jatuh rebah. Fa’tun meninggal seketika. Musa gugup, melarikan diri dari Mesir, dari kota kelahirannya menuju Kota Madyan hingga kemudian bertemu Nabi Syu’aib dan menikahi anaknya. Allah mengabadikannya peristiwa tersebut dalam QS. Al-Qashshas: 14 – 21.

Beberapa tahun kemudian, Musa diangkat menjadi nabi dan rasul untuk menyampaikan dakwah kepada Raja Fir’aun di Mesir. Apa… Mesir? Bukankah Musa seorang buronan di sana? Bukankah Kaum Kafir mengenal Musa di Mesir sebagai seorang pembunuh? Bagaimana nanti masyarakat mesir akan menerima dakwah yang Musa bawa? Betapa beratnya Musa menerima amanah dakwah ini. Mantan pembunuh itupun berdakwah di tempat masa jahiliyahnya dulu.

Karena begitulah iman, membatalkan keraguan.

Adalah Nuh,

Pembawa risalah dakwah panjang namun sedikit pengikutnya.

Masa baktinya sebagai nabi dan rasul, berdakwah siang dan malam selama kurang lebih 950 tahun. Mendakwahi masyarakat dengan gigih tak kenal letih. Sedang kepada anak istrinya saja dia tak mampu membuka hatinya untuk menerima ajaran yang ia bawa.

“Wahai Nuh? Bagaimana mungkin engkau mendakwahi kami, sedang keluargamu sendiri saja tidak menerima dakwahmu?”

Menyayat sanubari, melemahkan azzam di hati. Begitukah? TIdak sama sekali. Nabi Nuh tetap melanjutkan dakwahnya.

Karena begitulah iman, meneguhkan perjuangan.

“Wahai manusia,” Seru Al – Imam Hasan Al – Bashri di suatu hari.

Beliau hendak mewasiatkan perkara berat kepada kita semua, setidaknya tentang perkara berikut ini,

“Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari bermaksiat kepada-Nya.”

Sa’id bin Zubair sang ‘alim menasehatkan kepada kita juga,

“Seandainya seseorang tidak boleh memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran sehingga ia menjadi orang yang bersih dari semua dosa, maka tidak ada seorangpun yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

Bahkan, Rasulullah yang agung nan mulia itupun bersabda,

“Perintahkanlah yang ma’ruf meskipun kamu belum mengamalkannya, dan cegahlah kemungkaran meskipun kamu belum meninggalkan seluruhnya.”

Mari menjadi Generasi Rabbani, sebagaimana perintah Allah swt,

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang-orang yang sempurna ilmu dan ketakwaannya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Q.S. Ali – Imran: 79)

Jika kita perhatikan, redaksi kalimat terakhirnya adalah urutan proses mengajarkan yang kemudian diikuti dengan proses mempelajarinya. Jika memakai logika manusia dan ilmuan, maka yang diutamakan adalah proses belajar dulu baru kemudian mengajar. Muncul pertanyaan sederhana,

Mungkinkah Allah salah dalam membuat urutan redaksi kalimatnya? Barangkali seharusnya…

“…karena kamu selalu mempelajari Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mengajarkannya.”

Ataukah kemudian, urutan kalimatnya benar tapi tanpa maksud tertentu? Mungkinkah Allah sembarangan dalam membuat redaksi firman dalam Al – Quran? Tidak!

Perintah Allah untuk menjadi Generasi Rabbani mengajarkan kita bahwa semangat yang harus dibangun adalah semangat mengajarkan, semangat beramal. Lantas bagaimana dengan ilmunya? Bagaimana belajarnya? Bukankah berdakwah butuh ilmu? Bukankah beramal butuh bekal?

Yak, benar sekali! Amal membutuhkan ilmu. Tapi siapa yang bisa jamin kalau berilmu pasti beramal? Akan tetapi, dengan membangun semangat beramal, kita akan mempunyai tuntutan untuk memenuhi segala kualifikasi diri sebagai seorang dai, sebagai seorang penyeru. Dengan membangkitkan semangat beramal, maka dengan sendirinya kita akan terbangkitkan semangatnya untuk belajar dan menuntut ilmu. Karena terkadang, jiwa memang membutuhkan gertakan untuk bangun menyambut seruan Tuhan.

Teringat tausiyah Ust Adian Husaini, bahwa Nabi Ibrahim As tetap sukses sabagai nabi, meskipun kalah oleh raja zalim bernama Namrud. Sedangkan Iblis yang sukses menipu Adam di surga, Al-Quran tidak menyebutnya sebagai pemenang.

Keberhasilan dakwah tergantung pula dari seberapa kuat kita berperang melawan hawa nafsu dalam diri, seberapa mampu kita menggertak jiwa dan sanubari, membangkitkan semangat amal dan kontribusi, dengan keimanan pada Ilahi Rabbi. Yakin! Surga menanti.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.

Lihat Juga

Faedah Positive Thinking Bagi Kesehatan Tubuh dan Jiwa