Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Secercah Keilmuan, Keadilan Mengamanahkan

Secercah Keilmuan, Keadilan Mengamanahkan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (halidayanti.blogspot.com)
Ilustrasi. (halidayanti.blogspot.com)

Ilmu menjadi penyuluh jalan

Dengan ilmu dapat kemuliaan

Ilmu memajukan kehidupan

Ilmu yang baik dapat keberkatan

 

Sabda Rasul junjungan

Carilah ilmu pengetahuan

Dari dalam buaian

Hingga hari kematian

 

Tuntutlah ilmu hai teman

Janganlah kita siakan

Untuk masa hadapan

Agama dan bangsa

 

(Raihan – Bacalah)

 

dakwatuna.com Begitulah alunan lagu nan syahdu, yang mengingatkan umat muslim akan hakikat ilmu. Bahwa ilmu itu didahulukan sebelum amal. Dan ilmu itu secercah cahaya, bagi kematangan kepemimpinan. Dalam kepemimpinan surgawi, semua hal bisa dipelajari. Itulah yang membedakan. Cara seseorang memandang sebuah peristiwa, sangat menentukkan sebuah kebijakan dalam mendistribusikan amanah perorangan. Sehingga dalam kepemimpinan surgawi; amanah itu didistribusikan bukan berdasarkan nasab ataupun kedekatan personal, tapi didistribusikan berdasarkan daya juang, kompetensi,dan kejujuran.

Periode dakwah Rasul, memiliki distribusi amanah pergerakan yang baik. Bagaimana kesuksesan dakwah Mushab bin Umair di Madinah; membuat Madinah memiliki minimal seorang muslim dihampir setiap rumah. Sehingga kedatangannya benar-benar memberikan warna yang membekas terhadap sejarah perkembangan dakwah rasul. Bagaimana jua perjuangan Muadz bin Jabal di Yaman. Membuatnya menjadi orang yang ‘utama’ di kalangan Anshar. Bagaimana jua perjuangan Zaid bin Tsabit, yang mulai tinggal bersama Muhammad ketika ia berhijrah ke Madinah; membuatnya dipercaya untuk membukukan Al-Quran dan menjadi orang yang paling menguasai faraidh.

Semua diamanahkan sesuai kompetensinya masing-masing. Sehingga rasul bersabda, ” Jika urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya (HR. Bukhari)”.

Dari hadits tersebut terlihat jelas bahwa dalam kepemimpinan surgawi; amanah itu tidak asal diberikan, tapi dibagi sesuai kompetensi. Dalam kepemimpinan surgawi pula; amanah maknanya bukanlah pelemparan tugas, tapi bermakna pembagian tugas. Tentunya pembagian yang masih terjalin dalam koordinasi yang baik, dan berjalan sesuai visi ukhrawi. Itulah hakikat dasar secercah keilmuan dalam kepemimpinan, yang berdampak pada keadilan dalam mengamanahkan.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Amanah Yang Harus Ditunaikan