Home / Berita / Opini / Ukuran Kemarahan Kita

Ukuran Kemarahan Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Manusia dibekali kehendak dan kemauan, termasuk marah. Ekspresi kemarahan setiap orang bisa berbeda. Ada yang melampiaskannya dengan cara yang berlebihan atau dengan cara sederhana. Orang bisa marah, baik dengan alasan jelas maupun sebab sepele.

Berkaca dari Rasulullah SAW, kita belajar dari beliau tentang cara mengekspresikan kemarahan, dan sebab boleh bahkan harus marah. Ada marah yang tercela dan ada marah yang terpuji. Ada marah yang dilarang, dan diperbolehkan.

Rasulullah sangat marah, ketika mendengar 70 orang sahabatnya dibunuh. Reaksi kemarahan beliau begitu fenomenal. Beliau mendoakan keburukan secara massal kepada suatu kaum. Bahkan sampai satu bulan lamanya doa itu, dengan lafadz

اَللَّهُمَّ اشْدُدُ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيْ يُوْسُفَ

Ya Allah, keraskanlah siksa-Mu atas (kaum) Mudhar, Ya Allah, jadikanlah atas mereka musim kemarau seperti musim kemarau (yang terjadi pada zaman) Yusuf. (HR. Al-Bukhari)

Begitu juga saat pamannya, Hamzah bin Abdul Mutthalib gugur di medan Uhud, Rasulullah SAW nampak berduka. Beliau nyaris tidak mau memandang Wahsyi, yang membunuh pamannya. Tapi rasulullah SAW tidak sampai marah besar dan tidak mendoakan hal-hal yang jelek kepada Wahsyi.

Berbeda dengan ketika Rasulullah SAW ditawari oleh malaikat untuk menghancurkan kota Thaif, saat penduduk Thaif menyambut kedatangan beliau dengan lemparan batu. Rasulullah SAW menolak untuk membalas sakit hati.

Dan Rasulullah SAW lagi-lagi tidak terlihat ekspresi kemarahan beliau saat dilumuri kotoran isi perut unta saat beliau beribadah di Ka’bah. Pun begitu ketika beliau dikatakan tidak waras karena menyampaikan ajaran agama. Padahal beliau punya hak untuk meminta bantuan kepada Allah. Tapi beliau memilih tidak menggunakannya.

Dari beberapa kejadian yang dialami Rasulullah SAW, kita bisa mengambil kesimpulan tentang kemarahan Rasulullah SAW. Bahwa Rasulullah SAW tidak marah ketika dirinya dihina, dicaci, dan diperlakukan tidak baik. Tapi beliau marah ketika Allah, Islam, dan sahabatnya dihina. Jika melihat atau mendengar apa yang dimurkai Allah, maka beliau marah karenanya.

Itu menjadi pelajaran bagi kita. Belakangan, banyak di antara kita mengekspresikan kemarahan, baik secara individu maupun secara kelompok. Masyarakat Jogjakarta ramai-ramai melaporkan Florence Sihombing atas tindakan di sosial media yang dirasa menghina orang Jogja. Atas kemarahan orang Jogja, Florence menuai caci maki, hujatan, kritikan, dan mengantarkannya merasakan jeruji besi. Florence dipidanakan.

Tidak begitu lama setelah kasus Jogja, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil melaporkan akun @kemalsept (Kemal Septiandi) ke kepolisian karena memposting kata-kata berisi penghinanaan terhadap kota Bandung dan penghinaan atas pribadi Ridwan Kamil.

Ada contoh ekspresi yang lain. Dari pejabat di kementerian Pemuda dan Olahraga yang tidak bisa menahan emosinya dan kemudian mengeluarkan kata-kata kasar dan mengumpat di depan ratusan mahasiswa dan peserta sebuah seminar di kampus Politani, Payakumbuh, Sumatera Barat. Sebabnya, acara molor sehingga durasi untuk dia berbicara berkurang. Jengkel kepada panitia, akhirnya dia melampiaskan dengan cara pilihannya. (www.sumbaronline.co.id)

Bandingkan dengan cara-cara kita melampiaskan kemarahan kita. Atau kita melihat dari perilaku orang-orang di sekitar kita. Masalah sepele pun bisa menyulut kemarahan. Kemarahan bisa tersulut akibat penghinaan atas harga diri, nama baik keluarga, lembaga atau organisasi, partai, dan negara. Momen pileg dan pilpres begitu banyak diwarnai hujatan, kecaman, dan saling olok hingga kericuhan antar pendukung.

Terkadang alasan untuk marah itu tidak etis dan tidak masuk akal. Tersenggol sedikit ketika berpapasan di jalan bisa mengakibatkan perkelahian. Sindiran yang dilemparkan bisa berbuah masuk rumah sakit.

Tapi tak jarang ketika penghinaan yang seharusnya memantik kemarahan kita, ternyata kita hanya bisa diam dan bungkam. Entah sudah berapa kali Islam dan Rasulullah dihina, dicaci, dan dilecehkan. Banyak umat Islam yang hanya diam. Dengan dalih kebebasan berekspresi.

Ketika tanah air di mana kita dilahirkan dan dibesarkan diobok-obok oleh negara lain, palingan kita hanya bisa memaki dan kemudian diam. Ini membuat mereka tersenyum-atas kelemahan kita- dan kemudian mengulang kelakuan mereka.

Semoga kita diberikan kekuatan untuk menempatkan kemarahan kita. Agar kita bisa mengekspresikan kemarahan kita ketika itu dibutuhkan, dan menahan diri ketika memang tidak patut untuk marah.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Supadilah, S.Si
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Ilustrasi. (flickr.com/photos/muslimpage)

Grup Whatsapp Absurd dan Sayyidina Umar yang Dimarahi Istrinya