Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hidup Adalah Pilihan

Hidup Adalah Pilihan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: b-s-m.de)
Ilustrasi. (Foto: b-s-m.de)

dakwatuna.comSaudaraku, hidup adalah pilihan; memilih untuk menentukan pilihan atau memilih untuk tidak memilih. Pilihan itu tergantung pada diri seseorang yang akan memilih. Orang yang memiliki pilihan hidup maka tentu akan ada secercah cahaya dalam hidupnya. Namun bagi yang tidak memiliki pilihan hidup maka hidupnya penuh dengan ketidakpastian. Makanya, kita dituntut untuk dapat memilih pilihan yang tepat untuk masa depan cemerlang di dunia, tentu juga di akhirat sana.

Saudaraku, Allah SWT menciptakan sesuatu berpasang-pasangan, ada laki-laki dan ada perempuan, ada bumi dan juga ada langit, ada siang dan pasti ada malam. Demikianlah seterusnya, Allah Swt jadikan semua itu sebagai romantika hidup. Dalam hal ini, kita hanya dituntut untuk menjalaninya saja sesuai dengan pilihan Allah Swt. Namun demikian, Allah Swt juga menjadikan ragam hidup, yang mana kita diberi kewenangan untuk memilihnya. Seperti, sehat atau sakit, sukses atau gagal dan bahagia atau celaka. Semua itu sangat tergantung pada keinginan dan pilihan kita.

Dalam QS Al Kahfi 29, Allah Swt berfirman. “Sesungguhnya kebenaran itu datang dari Allah, maka siapa yang ingin (beriman) maka hendaklah ia beriman dan siapa yang ingin (kafir) maka biarkan dia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang yang zalim neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka minta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang dapat menghaguskan wajah. Inilah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Saudara, ayat ini menjelaskan bahwa keimanan atau kekafiran seseorang sesuai dengan pilihannya. Seseorang tidak dipaksa untuk beriman pada Allah Swt, atau dilarang untuk kafir pada-Nya. Bagi Allah Swt, beriman atau kafir pada-Nya, tidak akan menambah atau mengurangi qadrat (kekuasaan) dan izzah (kemuliaan)-Nya. Namun pilihannya itu, justru yang akan menentukan nasib seseorang di akhirat sana. Allah Swt akan membalas perbuatan seseorang sesuai dengan pilihannya.Orang yang memilih keimanan maka hidupnya akan tenang di dunia dan senang di akhirat dengan masuk surga-Nya dengan segala kenikmatan plus bidadari yang mempesona. Bagi orang yang memilih kekafiran (tidak taat pada Allah) maka neraka merupakan balasan yang tepat atas kekafiran dan kezhalimannya, renungkanlah wahai saudaraku.

Saudara, ayat di atas mengungkapkan dengan terang benderang betapa pedihnya azab neraka. Mereka dibenamkan dalam kobaran api yang amat dahsyat sehingga menyebabkan mereka keausan yang sangat dan mereka memelas pada Allah agar diberi minuman untuk meringankan sedikit penderitaannya. Namun justru yang diberikan padanya adalah air seperti besi yang mendidih yang akan menghanguskan wajahnya, sangat mengerikan dan menyakitkan, maka renungkanlah wahai saudaraku.

Jujur saudaraku, kita tidak akan sanggup menahan penderitaan ini namun kenapa hati dan diri kita masih terbuai dengan kegerlapan dunia? Kenapa, sulit kaki melangkah menuju Allah dan mudah diri untuk bermaksiat pada-Nya. Ketahuilah di dunia ini, kita menanam dan di akhirat sana kita akan menuainya. Oleh karena itu, marilah kita bertaubat dan memanfaat sisa umur yang ada dengan “berlari” pada-Nya untuk menebus dosa-dosa masa silam kita. Renungkanlah wahai saudaraku, semoga hidayah Allah masih mengalir dalam diri kita selagi kesempatan masih ada.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Pemilihan Ulang Pilgub Maluku Utara (inet)

Karena Memilih Juga Ada Tuntunannya