Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Apalah Artinya Setangkai Mawar Putih

Apalah Artinya Setangkai Mawar Putih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Shaylah Schmidt)
Ilustrasi. (Shaylah Schmidt)

dakwatuna.com – “Apalah artinya setangkai mawar putih tanpa iman sejati”. Sebuah komentar yang langsung merangsang nalar imajinasi penulis untuk mengambil hikmah dan segera menyampaikan nilai-nilai kebaikan dalam bentuk tulisan. Padahal awalnya ini hanyalah senda gurau dengan salah seorang sahabat penulis yang berasal dari Batam. Mawar putih adalah bunga yang sangat indah dipandang mata, menyejukkan tatapan, memberi kesan romantis apapun yang bersanding dengan mawar putih tersebut. Menimbulkan prasangka pada khalayak ramai bahwa yang memiliki mawar putih tersebut perasaannya tengah berbunga-bunga. Padahal itu hanyalah mawar putih dengan berbagai prasangka dan kesan, dengan keindahan rupa dan tampilannya. Jarang orang-orang ingin mencari tahu apa saja komponen penyusun mawar putih tersebut, apakah komponen-komponen penyusun keindahan mawar putih tersebut juga indah rupa dan tampilannya? Apakah komponen-komponen penyusun keindahan mawar putih tersebut juga memiliki prasangka dan kesan sama seperti mawar putih?

Sepertinya sebagian besar orang-orang hanya ingin menikmati keindahan mawar putih tersebut. Padahal di tangkai mawar putih itu juga tersimpan duri yang bisa membuat jari terluka dan berdarah, duri yang bisa menjadi berbahaya bila di pegang tangkainya, duri yang dengan ketajamannya bisa membuat pemegang mawar putih akan berhati-hati dalam memegangnya. Itulah kecenderungan manusia yang akan melihat tampilan luar saja, karena itulah fitrah manusia yang sesungguhnya sebagaimana firman Allah SWT. :

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta beda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (QS. Ali-‘Imran : 14).”

Tetapi di akhir ayat ini Allah SWT menyampaikan bahwa di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik, untuk mengingatkan kita bahwa segala keindahan di dunia ini termasuk keindahan mawar putih adalah kesenangan dan keindahan yang bersifat sementara saja. Keindahan dan kesenangan yang sesungguhnya adalah di sisi Allah SWT., hanya saja selama di dunia Allah belum memperlihatkan kepada hamba-Nya untuk menguji dan menyeleksi siapa di antara hamba-hamba-Nya yang benar-benar pantas mendapatkan kesenangan dan keindahan tersebut.

Bila berbicara mengenai keindahan, kita bisa tengok sejenak keindahan kacang kastor. Kacang kastor adalah sebuah kacang yang tak kalah indah dari setangkai mawar putih. Kacang yang kecil dan berbentuk bulat lonjong, warna coklat dengan motif bintik-bintik coklat muda. Tetapi tahukah kita di balik keindahan kacang kastor tersebut ternyata kacang kastor tersebut mengandung racun yang dapat menyebabkan kematian. Di balik keindahannya, ternyata kacang kastor tersebut pernah menyebabkan kasus keracunan sampai kematian di dua puluh lima negara bagian di Amerika Serikat.

Bunga belladona dan akar hemlock pun sangat indah dipandang mata. Bunga belladona dengan warna hitam keunguan pada buahnya, seperti anggur. Tetapi bunga belladona ini tak memiliki rasa seperti buah anggur, sebaliknya bunga belladona mengandung racun yang dapat mematikan manusia dalam waktu yang singkat. Begitupun keindahan akar hemlock dengan bunga-bunga putih kecil yang tumbuh di pucuknya, ternyata akar hemlock ini juga dapat menyebabkan kematian yang seketika apabila manusia mengkonsumsinya. Gejala yang dialami apabila mengkonsumsi akar hemlock ini adalah kejang-kejang, mual dan muntah, bahkan yang dapat bertahan hidup dari dahsyatnya racun akar hemlock ini biasanya akan mengalami amnesia atau hilang ingatan. Apalah arti semua keindahan tersebut kalau ternyata ujung-ujungnya adalah menyengsarakan.

Apalah artinya setangkai mawar putih tanpa iman sejati. Kata-kata tersebut sepertinya dapat mewakili analogi tentang keindahan yang di puja-puji oleh manusia tetapi sesungguhnya tidak berarti apa-apa. Apalah gunanya paras yang elok, postur tubuh yang ideal, tetapi tidak dibarengi dengan iman yang kokoh serta perilaku yang baik. Padahal begitu mulia kedudukan dan kemuliaan seseorang bukan dengan tampilan luarnya tetapi dengan keimanan dan ketakwaannya.

Sebuah kisah inspiratif tentang jangan meremehkan penampilan luar, coba saya kutip dari negeri sakura, Jepang. Di suatu daerah di Jepang ada sebuah toko kuliner yang menjual kuliner khusus kalangan menengah ke atas atau orang-orang yang berduit. Suatu ketika, tidak seperti biasanya, toko kuliner yang sering didatangi oleh kalangan menengah ke atas itu, kedatangan seorang pembeli yang penampilannya biasa saja, tampak sekali dari tampilannya kalau orang ini tergolong kurang mampu. Karena melihat itu, karyawan toko kuliner tersebut berniat untuk melayani pembeli yang satu ini tidak dengan pelayanan terbaik. Melihat kejadian itu, sang pemilik toko kuliner langsung turun tangan untuk melayani pembeli yang berasal dari kalangan kurang mampu tersebut. Ia siapkan packing terbaik untuk produknya, kemudian sang pemilik toko kuliner memberikan langsung produk makanannya kepada pembeli tersebut. Dengan pelayanan terbaik, sang pemilik toko kuliner tersebut memberikan pelayanan terbaiknya, lalu diakhiri dengan salam penghormatan khas Jepang, yaitu membungkukkan badan. Hanya saja kali ini berbeda, sang pemilik toko melakukan salam hormat kepada pembeli yang kurang mampu tadi membungkukkan badan dengan derajat yang berbeda seakan-akan pembeli tadi adalah orang yang paling istimewa. Karyawan toko kuliner keheranan kemudian bertanya kepada pemilik toko kuliner tadi tentang mengapa ia sangat mengistimewakan konsumen yang sepertinya kurang mampu tadi. Dengan jawaban yang lugas, sang pemilik toko kuliner menjawab bahwa yang datang tadi adalah konsumen yang sangat istimewa. Kalaulah pelanggan mereka dari kalangan menengah ke atas membeli produk dengan pengorbanan yang sedikit, maka konsumen yang kurang mampu tadi tentunya melakukan pengorbanan yang begitu besar agar dapat membeli produk yang biasanya hanya di konsumsi kalangan menengah ke atas. Maka konsumen yang kurang mampu itu adalah konsumen yang sangat istimewa yang harus dilayani dengan sangat baik dan diberi penghormatan. Sungguh kisah yang sangat inspiratif tentang jangan meremehkan penampilan luar seseorang.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin keindahan itu ada dua macam, yaitu keindahan lahir dan keindahan batin. Keindahan batin adalah kekasih yang dicintai karena dzatnya seperti ilmu, akal, kemurahan hati, keberanian dan sebagainya. Keindahan batin inilah yang menjadi fokus pandangan Allah SWT dalam mencintai hambanya. Sebagaimana di sebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah SAW. Bersabda :

“Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat pada rupa dan harta kalian, tetapi Allah SWT. memandang hati dan amal kalian.” (H.R. Muslim dan Ibnu Majah).

Keindahan batin ini, lanjut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, akan menghiasi penampilan lahir, meskipun lahirnya tidaklah cantik. Orang yang indah batinnya sama dengan mengenakan pakaian keindahan, kemuliaan sekaligus kewibawaan, dan itu tergantung pada seberapa kuat sifat-sifat itu tertanam di dalam ruhnya. Orang mukmin memperoleh kemuliaan dan kewibawaannya berbanding lurus dengan tingkat keimanannya. Orang yang melihatnya akan merasa segan, dan orang yang berinteraksi dengannya, maka ia akan mencintainya.

Keindahan batin yang ada pada manusia hendaknya menjadi fokus perhatian dalam pembenahan diri kita (diri penulis juga), bukan hanya memperhatikan keindahan lahir saja. Karena yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah persoalan ketakwaannya. Keimanan sejati lah yang harus kita kejar, seberapa percaya kita betapa tidak berartinya keindahan lahir semata. Betapa mulianya seseorang di hadapan Allah SWT dengan hati dan amalnya yang merupakan keindahan batin.

Apalah artinya setangkai mawar putih tanpa iman sejati. Teruntuk para pecinta sejati, muliakanlah dirimu di hadapan Allah dengan keindahan batin. Teruntuk para pejuang dakwah, angkatlah derajatmu dengan membenahi hati dan amalmu. Semoga kelak Allah SWT mengumpulkan kita semua di akhirat dalam keadaan wajah yang berseri-seri karena keimanan kita. Semoga kelak Allah SWT memberikan hidayah kepada insan yang belum menyadari keutamaan keindahan batin dari pada keindahan lahir. Semoga kelak Allah SWT berkenan dengan rahmat-Nya memberikan kepada kita nikmat yang bisa membuat nikmat di surga tak ada artinya lagi, nikmat keindahan sejati, memandang Sang Pencipta langit, bumi, alam semesta, serta keindahan itu sendiri, memandang wajah Allah SWT tanpa terhalang suatu tabir apapun. Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Mata Dakwah, Mata Kaderisasi