Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cerminan Jodoh

Cerminan Jodoh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Kawanimut)
Ilustrasi. (Kawanimut)

dakwatuna.com Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, artinya setiap manusia sudah Allah takdirkan jodohnya masing-masing, bahkan 50.000 tahun sebelum manusia diciptakan Allah sudah menuliskan jodoh seseorang dalam kitab-Nya, Lauhul Mahfuz. Kita yang lebih sibuk mencari kriteria pasangan hidup, tanpa sadar membenahi diri sendiri agar menjadi lebih baik. Padahal jodoh adalah cerminan diri seseorang.

Allah berfirman : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…..” (Qs. An-Nur: 2)

Ada seseorang yang takjub dengan dirinya sendiri dan mengharuskan orang yang menjadi pasangan hidupnya sama seperti dirinya, padahal pada hakikatnya ia hanya mencintai bayangan yang ada dalam dirinya sendiri. Atau sebaliknya orang yang menginginkan pasangan hidup yang ideal, tanpa bercermin apakah ia sudah memantaskan diri untuk mendapatkan yang ideal. Islam membolehkan seseorang memilih jodohnya berdasarkan kriteria.

Dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw. Bersabda : “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung.”

Dari hadits di atas sudah jelas, bahwa walaupun seorang laki-laki atau perempuan memandang kedudukan, harta dan fisik, akan tetapi yang paling penting adalah agamanya. Karena pondasi utama untuk membangun sebuah rumah tangga adalah dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Jika seseorang sebelum menikah banyak melakukan hal-hal yang bersifat maksiat dan sulit untuk dinasehati apalagi untuk memperbaiki diri, tidak ada jaminan setelah berumah tangga ia akan menjadi lebih baik. Karena dasar utama dalam membingkai rumah tangga adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Jika agama diberi angka 1, harta 0, kedudukan 0, dan kecantikan/ketampanan 0, maka kriteria pasangan hidup kita tentu akan benilai 1000. Jika dihilangkan harta masih bernilai 100, dan jika dihilangkan kedudukan masih benilai 10, jika dihilangkan kecantikan/ketampanan tetap masih benilai 1. Akan tetapi jika agama yang dihilangkan, maka semuanya tidak bernilai apa-apa.

Karena menikah menyempurnakan separuh agama, pilihlah seseorang berdasarkan agamanya. Untuk seorang ikhwan carilah seorang istri yang shalihah, karena sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah. Sungguh beruntung seorang suami yang mendapatkan perhiasan dunia tersebut, yaitu seorang istri yang shalihah jika dipandang mata menyenangkan, jika diperintah ia mentaatinya, dan menjaga kehormatannya ketika suaminya tidak ada. Rasulullah Saw. bersabda : “Barangsiapa yang Allah beri rejeki wanita shalihah, maka sungguh Allah telah menolongnya menyempurnakan separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah (dalam memenuhi) setengahnya lagi”. Untuk seorang akhwat carilah seorang suami yang shalih, karena seorang laki-laki yang shalih, jika ia mencintaimu maka ia akan memuliakanmu dan jika ia tidak mencintaimu maka ia tidak akan menzhalimimu.

Walaupun seorang laki-laki ingin mencari wanita yang sempurna, dan wanita pun sama menginginkan laki-laki yang sempurna, akan tetapi Allah menciptakan keduanya untuk saling menyempurnakan satu sama lain. Teruslah berupaya memperbaiki diri sendiri, agar Allah memperbaiki pasangan hidup kita. Jika kita sudah berusaha dan memantaskan diri untuk menjadi lebih baik, maka Allah akan memberikan yang terbaik.

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lena Setiastri
Lulusan S1 Pendidikan Agama Islam di STAI Al-Hidayah, Guru di SD Kreativa Bogor.
  • Sri Fatimah

    Aamiin aamiin aamiin ya Robbal’alamin :)
    Sedang berusaha memperbaiki diri dan memantaskan diri.

    Ya Alloh, Ya Robb ku. Berikanlah hamba suami yang terbaik dari sisiMu, suami yang dapat menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan urusan akhirat. Aamiin :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (plus.google.com)

Antara Menanti Jodoh dan Menunggu Bus