Home / Narasi Islam / Wanita / Lepas Hijab Bukan Solusi Permasalahan

Lepas Hijab Bukan Solusi Permasalahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comHampir sepekan sudah media massa ramai memberitakan perihal masalah keluarga yang tengah dialami seorang artis muda yang juga merupakan motivator. Perceraian, perebutan hak asuh, dan konflik dengan sang ibunda nampaknya menjadi penyebab artis cantik itu memutuskan melepas hijab yang telah hampir empat tahun menutupi auratnya.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi kita semua, khususnya para muslimah berhijab. Bagaimana jika kita didera masalah yang begitu pelik? Atau bagaimana jika kita berada dalam kondisi terpuruk? Apakah kita akan seperti dia yang lantas membuka hijabnya? Astagfirullahaladzim, semoga tidak.

Lepas hijab bukanlah solusi, dan camkan itu dalam hati. Karena lepas hijab takkan menyelesaikan semua permasalahan hidup yang tengah dihadapi. Justru hanya menambah masalah baru yang jauh lebih besar lagi.

Ketika kita memutuskan melepas hijab yang selama ini menutupi aurat kita, pasti keluarga, saudara, tetanga akan mempertanyakannya dan jangan lupa bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban juga. Lantas apa yang harus kita lakukan saat beban hidup seolah tak kuasa lagi dihadapi?

Berkacalah pada wanita Palestina, yang bahkan ketika tidur tak pernah melepas hijabnya. Mereka takut jika sewaktu-waktu bom atau rudal israel mensyahidahkan mereka, lalu menghadap Allah dalam keadaan terlihat auratnya. Wanita palestina yang hidup di tengah kondisi perang, harus merelakan suami dan anak mereka kehilangan nyawa. Mereka bertahan hidup dengan mengungsi di tempat penampungan yang juga kerap kali menjadi sasaran rudal Israel. Bukan tidak mungkin besok atau lusa mereka yang akan menjadi korban berikutnya.

Berkacalah dari muslimah Rohingya, yang tetap memegang teguh hijab sebagai identitas keislamannya walau penindasan, pemerkosaan dan pembunuhan terus dilakukan para ekstrimis budha. Mereka hidup dalam ketakutan. Tak jarang mereka bersembunyi di got atau parit kotor yang penuh dengan air comberan berwarna hitam pekat, yang bau busuknya begitu menusuk hidung, untuk menghindar dari kekejaman orang-orang tak berperikemanusiaan.

Berkacalah dari muslimah Suriah, jangankan mempertahankan hijabnya, menyebut asma Allah saja, penjara dan siksaan yang didapatnya. Mereka yang mempertahankan keislamannya kini hidup di bawah reruntuhan gedung tanpa listrik dan kebutuhan memadai. Tak heran jika ulama di sana menghalalkan kucing dan anjing untuk dimakan, karena tak ada lagi yang bisa mengganjal perut untuk mempertahankan hidup.

Berkacalah dari muslimah Perancis, yang tak rela menukar kemuliaan hijab dan purdahnya dengan kebebasan membayar denda yang telah ditetapkan pemerintahnya. Uang yang mereka bayarkan tentunya tak seberapa bila dibandingkan dengan kenikmatan syurga yang Allah janjikan.

Dan berkacalah pada adik-adik SMP dan SMA di Bali yang harus siap menerima peringatan atau bahkan Drop Out dari sekolahnya dengan alasan membawa atribut keagamaan lewat hijabnya. Sungguh miris, Indonesia yang merupakan negara Islam terbesar di dunia, ternyata memiliki aturan larangan hijab di salah satu provinsinya.

Saat hidup terasa berat untuk dijalani, berkacalah dari mereka yang tak pernah rela menggadaikan kemuliaan hijabnya walau penindasan, kekerasan, pemerkosaan, dan bahkan pembunuhan kerap mengancam hidup mereka.

Adakah masalah kita lebih besar dari masalah mereka? Apakah beban hidup kita lebih berat dari beban hidup mereka? Sungguh tak ada apa-apanya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Novitania
Mahasiswi Unindra, jurusan bahasa dan sastra Indonesia, yang merasa dirinya wanita biasa, namun bercita-cita menjadi luar biasa dengan cara-cara yang tidak biasa, demi menggapai sebuah asa, yaitu meraih indahnya surga. Semoga kan terlaksana.
  • Jazikillah Ukthie…Tulisan yang simple tapi mengena…. good.. sometime kita merasa masalah yg kita hadapi adalah masalah terbesar dan yang terberat yang pernah Allah ujikan kepada manusia… padahal di luar sana dan sebelum kita Allah menguji orang orang beriman dengan ujian yang jauh lebih berat…untuk menguji siapa dia antara mereka yang benar2 beriman…. dan sejarah mencatat dan hari ini pun kita melihat keteguhan saudara kita yang diuji dengan ujian jauh lebih berat itu mampu bukan hanya mempertahankan, tapi meningkatkan kualitas iman dan ketaatannya dalam situasi yang membayangkannya pun kita sudah tidak sanggup…. sedangkan kebanyakan kita, telah dicurahi berbagai kemudahan dan kenyamanan, keamanan… justru terlena dan bukannya bertambah iman dengan syukur, malah malah futur dengan kelapangan…. astaghfirullah… bukan kah syurga yang kita harapkan juga adalah syurga yang sama dengan yang diharapkan saudara kita di daerah konflik atau minoritas yang tertekan, juga sama dengan syurga yang diharapkan oleh para pendahulu kita…. kalau merka ingin dibukan pintu syurga nya dengan kesabaran akan ujian dan tekanan yang sangat berat bahkan membahayan jikwa…. lalu dengan apa kita ingin dibukan syurga? dengan Bersantai, berpangku tangan, tidak perduli, kikir, di uji sedikit kemudian melepas jilbab? …pintu yang manakah yang akan terbuka dengan itu semua? ….tidakkah kita seharusnya dengan banyaknya ujian itu, seharusnya kita intropeksi, istighfar, dan semakin mendekatkan diri kepada Nya yang Maha Mengetahui Solusi terbaik bagi kita..lebih dari sekedar solusi yang kita inginkan….?

  • novitania

    sama sama mba afina, semoga kita semua trus mendapat bimbingan Allah dalam melangkah, tulisan ini saya buat juga sebagai bahan introspeksi diri, saat masalah berat tengah dihadapi, salah satu cara yang paling ampuh adalah dengan berkaca,,, berkaca pada mereka yang jauh lebih menderita dari kita, n_n mohon doanya semoga saya tetap istiqomah

  • Jazakillah Ukht.. masya Allah.. tulisan yang sangat menginspirasi, mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa nikmat Allah yang mana lagi yang kamu dustakan.. Astagfirullah hal’azim.. smoga Allah selalu membimbing kitaa, semoga kita tidak termasuk orang yang merugi dikemudian hari.. Aamiin..

Lihat Juga

Rohani Islam SMA Terpadu Al-Qudwah (Rohis Al-Quds) menyelenggarakan HoTS alias Hijab on The Street pada Minggu (4/9/2016) di Alun-alun Rangkasbitung saat Car Free Day.  (Supadilah/Al-Quds)

Peringati Hijab International Solidarity Days, ROHIS Al-Quds Gelar HoTS

Organization