Home / Berita / Internasional / Afrika / Ada Senyum Kemenangan di Bibir Mahmud dan Badar

Ada Senyum Kemenangan di Bibir Mahmud dan Badar

Badar, Bocah Palestina yang terluka akibat serangan zionis israel.  (ApikoJM/ACTNews)
Badar, Bocah Palestina yang terluka akibat serangan zionis israel. (ApikoJM/ACTNews)

dakwatuna.com – Kairo, Wajah nenek itu nampak menahan letih saat menuntun cucunya menyebut huruf-huruf hijaiyah, alif, ba, ta. Sang cucu, yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit, mengikutinya pelan-pelan. Sebelah kakinya dibungkus gipsum, akibat tertimpa reruntuhan bangunan atau jatuh terkilir saat berlari menyelamatkan jiwanya dari maut.

Bocah itu bernama Mahmud. Baru empat tahun usianya. Dia adalah salah satu dari anak-anak Kota Gaza, yang selamat dari ribuan rudal, roket atau pun jutaan peluru yang dimuntahkan mesin-mesin militer Zionis Israel selama 51 hari, sejak awal bulan suci Ramadhan yang lalu.

Kendati nyawanya selamat, Mahmud terluka. Dia dirawat di Rumah Sakit Nasser Intitute, Kairo. Mahmud harus mendapatkan perawatan intensif. Kendati nyawa selamat. Mahmud harus menyandang status baru, yang jika orang tahu, hati pun pilu.

Ya, kini Mahmud bocah yatim piatu. Kedua orangtuanya harus menemui Sang Khalik saat sebuah rudal menggempur wilayah tempat tinggalnya, hingga tak bisa selamat dari maut.

Adik Mahmud, yang baru berusia 10 bulan, pun harus berada dalam pangkuan kasih sayangnya-Nya lebih dulu. Mahmud juga tak luput dari efek bom rudal. Kakinya terluka parah, sehingga harus dibungkus gips.

Di sebuah rumah sakit lain, RS Quin namanya, juga ada anak Gaza yang dirawat.
Yusnirsyah Sirin, leader Tim Sos Palestine dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendapat informasi tentang anak Gaza ini dari petugas dari Rumah Sakit Palestine.

Sempat terkacaukan oleh info dari petugas rumah sakit yang menginformasikan tidak adanya pasien asal Gaza, Palestina. Kalaulah tak ditakdirkan adanya pertemuan tak sengaja dengan seorang tua berjenggot yang menyapanya dengan logat Arab Palestine yang kental, Yus dan Day, panggilan akrab Yusnirsyah dan Sudayat, niscaya pulang dengan tangan hampa.

“Ahlan wa sahlan! Antum min Indonesia? Ada pasien dari Palestine di sini. Mari ikut saya,” katanya seolah tahu bahwa ACT memang sedang mencari pasien-pasien asal Gaza yang dirawat di Kairo, Mesir.
Si penyapa itu Syaikh Dhiba. Kakek berusia 60 tahun, yang sedang menunggui cucunya, Badar, yang juga seusia dengan Mahmud.

Tak panjang kata, Yusnirsyah Sirin dan Sudayat Kosasih mengikuti sang kakek menuju bangsal dimana Badar dirawat.
Tahu ada tamu dari jauh, Indonesia, Badar menyambut dengan senyum dan mengangkat tangan kanannya, membentuk simbol V, sebagai tanda kemenangan (victory). Tim ACT pun menyalaminya. Percakapan pun berlangsung penuh keakraban.

ACT pun menyampaikan bantuan amanat dari bangsa Indonesia, dan diserahkanterimakan kepada keluarga Mahmud dan Badar untuk meringankan beban biaya pengobatan.
Warga dua bangsa, yang terpisah oleh jarak yang jauh, Indonesia dan Palestina, yang dibedakan oleh asal etnis, bahasa, dan fisik, hari itu seperti sebuah keluarga, yang dipertemukan oleh satu-satunya kesamaan: perikemanusiaan dan keimanan.

“ Tak ada yang lebih indah dari kekuatan yang sulit dirobohkan oleh apapun, kecuali pertemuan hati manusia yang diikat oleh rasa keimanan atau aqidah dan kemanusiaan yang tinggi di antara mereka,” ungkap Senior Vice President ACT Imam Akbari, mengomentari momentum-momentum sejenis itu, kepada ACTNews, Kamis (4/9/2014).

“ Semoga, kunjungan-kunjungan kemanusiaan ke pasien-pasien korban kezhaliman Zionis Israel, yang dilakukan ACT sebagai penunaian amanat kemanusiaan dari bangsa Indonesia, berimbal balik pada kebaikan dan keberkahan bangsa Indonesia yang telah mengekspresikan kepeduliannya melalui donasi dan doa-doa yang mereka tujukan untuk warga Gaza, khususnya, dan warga dunia yang tertimpa musibah pada umumnya. Ammiinn,” pungkas Imam. (ApikoJM/ACTNews/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General