Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Masih Soal Menuju Kampus Madani

Masih Soal Menuju Kampus Madani

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: inet)
Ilustrasi. (Foto: inet)

dakwatuna.com Secarik kertas sederhana kutemukan di tumpukan berkas clearing akademik. Kertas itu hanya berukuran kecil, ujung-ujungnya pun sudah robek sedikit demi sedikit karena lipatan-lipatan kecil. Kuingat kembali di beberapa tahun yang lalu, kertas ini pernah menjadi sangat berguna. Karena kami lupa membuat absen rapat yang rapi. Mungkin karena sebentar lagi kami akan menghadapi musyawarah besar Mahasiswa Pencinta Mushallah (MPM) Al-Iqra’, sibuk mempersiapkan laporan pertanggungjawaban pengurus periode itu. Saat itu, penulis masih menjabat sebagai Ketua Umum MPM Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako Sulawesi Tengah. Kertas itu nampaknya kusut, namun beberapa tulisan di kertas itu masih dapat terbaca. Kertas itu berisikan absen rapat pengurus MPM Al-Iqra’ sebelum periode kami berakhir. Tampak nama-nama pengurus yang sempat hadir di rapat terakhir kami berjumlah sembilan orang.

Jangan lihat dari betapa sederhananya kertas yang kami deskripsikan di awal paragraf tulisan ini. Sebab, banyak hal-hal yang semoga bisa menginspirasi kita semua dari kertas sederhana ini. Hari itu Kamis 15 Desember 2011, beberapa saat setelah Shalat Ashar di Mushallah Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, kami Pengurus MPM Al-Iqra’ Periode 2010-2011 mengadakan Rapat yang sebenarnya mengundang seluruh Pengurus. Harapan besar sebagian besar pengurus MPM Al-Iqra’ dapat hadir di rapat tersebut. Dan ternyata yang hadir pada saat itu hanya sembilan orang. Ada kekecewaan yang sempat terbersit dalam relung hati karena ini adalah rapat koordinasi yang amat penting, namun realitanya adalah kami harus kemudian lebih banyak bersabar akan setiap alasan. Sebagai manusia yang punya hati sudah sewajarnya merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. Namun, jangan sampai kekecewaan ini berlarut-larut apalagi sampai menghadang laju gerak menuju cita-cita mulia kami, menuju kampus yang madani.

Muncul di benak penulis bahwa orang yang berdakwah pasti punya alasan dan tujuan mengapa ia harus berdakwah, begitupun yang tidak berdakwah pasti punya alasan juga mengapa sampai saat ini masih memilih untuk tidak bergabung dalam barisan dakwah ini.
Terkadang ada beberapa alasan yang harus dimaklumi, tetapi pada dasarnya dakwah adalah pergerakan yang ketika kita terlambat sedikit saja maka akan mengurangi kontribusi kita terhadap dakwah. Dari hati yang terdalam ingin berkata, “Duhai para pejuang dakwah, betapa ruginya engkau melewatkan dengan percuma kesempatan menuju surga. Duhai para pewaris Nabi, betapa ruginya engkau tak sepenuh hati mengemban amanah ini. Duhai para agen perubahan, betapa beruntungnya orang-orang yang maksimal dalam beramal.”

Saat itu kami mempunyai begitu banyak masalah, tetapi sekali lagi kami berprasangka baik kepada Allah SWT. Sebagaimana Hadits Qudsi yang sering kita dengar dan baca bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Seharusnya masalah bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi dan diselesaikan dengan segera meskipun pasti akan menyisakan sedikit luka bathin. anggap saja kalau ada organisasi yang tidak mempunyai masalah maka sesungguhnya organisasi tersebut sedang bermasalah. Sering pula tentunya kita mendengarkan tentang bagaimana rumus untuk menghadapi masalah. Rumusnya adalah Hadapi, Hayati, dan Nikmati (HHN). Rumus HHN ini kali pertama penulis dapatkan ketika mengikuti training of mentor saat masih menjadi mahasiswa baru.

Melanjutkan cerita, pada saat itu, dengan sisa-sisa semangat yang ada kami terus bergerak menjalankan program kerja dan terus saling mengingatkan dalam kebaikan. Bahwa di MPM bukan sekedar Program kerja biasa yang akan meluluhlantahkan sum-sum tulang belakangmu, bahwa program kerja di MPM tidak harus di evaluasi dengan idealisme yang begitu tinggi sampai melupakan kemanusiaan. Bukankah agama Islam adalah agama yang paling menghargai nilai-nilai kemanusiaan? Bukankah Dakwah ini mengajarkan kita tentang menjadi teladan sebelum menyampaikan? Bukankah Dakwah ini membimbing kita tentang menyentuh hati sebelum menyampaikan?

Masih melanjutkan kisah tentang menuju kampus madani, pada saat itu tak serius seperti rapat biasanya, kami mencoba berdinamisasi agar suasana rapat menjadi enjoy. Agar beban dakwah yang memang sangat berat ini kami bagi ke pundak-pundak seluruh pengurus MPM, minimal agar ia terasa ringan. Dan agar amanah tersebut terasa menjadi semakin ringan, kami menikmati setiap amanah yang dibebankan kepada kami. Bahkan tak jarang di periode kepengurusan ini kader-kader maupun penguruslah yang kemudian meminta amanah. Mungkin ada kesadaran implisit yang memahami bahwa kami bukan sekedar The Agent Of Change lebih dari itu, kami adalah The Agent Of Allah.

Terkadang kami begitu bingung ketika idealisme kami bertentangan dengan realitas yang ada. Di satu sisi kami ingin mematuhi setiap kesepakatan rapat, serta isi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Tetapi pada akhirnya pun kami semakin menyadari bahwa ada kondisi dimana Dakwah sejatinya memang berlandaskan Syariat Islam di atas segala-galanya. Bahwa Al-Quran dan As-Sunnah adalah pedoman hidup dan tindakan.

Ini hanya sekadar goresan kecil dari tinta nurani penulis yang semoga semakin menginspirasi dan memotivasi kita semua sebagai orang yang sangat dibangga-banggakan oleh Allah dan juga orang yang namanya disebut-sebut oleh para malaikat karena banyak berkumpul dalam rangka mengingat Allah. Berkumpul dalam rangka menuntut ilmu, berhimpun dalam rangka melanjutkan tugas para Nabi dan Rasul yang mana tidak semua orang menyadari bahwa tugas ini adalah kewajiban setiap insan manusia. Maka tugas kami adalah menyadarkan mereka tentang kemuliaan tugas ini.

Beda zaman, beda pula masalah yang di hadapi. Tetapi hal ini jangan sampai menjadi argumen utama kita untuk menolak masukan dari para senior dan para pendahulu.

Karena terkadang kita harus membuka kembali lembar sejarah Rasulullah SAW dan para sahabat, generasi setelah sahabat, orang-orang shalih serta sejarah dari para pendahulu. Agar kita dapat mengambil hikmah dari setiap kisah. Agar kita dapat mengambil ibrah dari sejarah tersebut, sehingga ke depan kita tidak akan terjatuh dalam lubang kesalahan yang sama dan bertindak dengan lebih waspada.

JAS MERAH Kata Bung Karno!! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!!Karena visi tidak dibangun dalam waktu yang singkat, karena dakwah adalah pekerjaan membangun sebuah peradaban, karena dakwah kampus adalah tentang pewarisan visi dan misi, perlahan tapi pasti menuju kejayaan dan kemenangan, Ini masih tentang menuju kampus yang madani.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers