Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mari Sejenak Kita Merenung Tentang Waktu

Mari Sejenak Kita Merenung Tentang Waktu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Abdullah Syarif)
Ilustrasi. (Abdullah Syarif)

dakwatuna.com Waktu merupakan kumpulan dari detik, menit, jam, hari, minggu dan tahun. Perputaran waktu terus bergulir sampai batas yang ditentukan oleh sang pemilik waktu, waktu sangatlah berharga dalam kehidupan ini, bahkan ada ungkapan Arab yang berbunyi “Al-waqtu huwa al-hayah” artinya waktu adalah kehidupan, banyak orang yang terpedaya oleh waktu namun disatu sisi ada orang yang berhasil mengendalikan waktu, kehidupan ini merupakan kumpulan waktu yang berubah menjadi umur.Dalam Islam waktu sangatlah berharga karena Allah SWT sendiri bersumpah dengan waktu seperti demi masa, demi waktu dhuha, demi malam apabila telah gelap gulita dan banyak sekali ayat yang menjelaskan tetang waktu, lantas bagaimanakah kita memanfaatkan waktu?

Kehidupan di dunia ini hanya sementara, hidup ini ibarat perahu yang sedang berlayar menuju sebuah pelabuhan, namun didalam berlayar atau perjalanan banyak sekali ujian dan cobaan yang selalu datang untuk menghadang perjalanan, seperti itulah kehidupan terkadang ada ombak, badai, petir yang menghalangi, dari perumpamaan tersebut manusia itu sebagai perahunya dan pelabuhan itu adalah Allah SWT yaitu tepat tujuan manusia untuk berlabuh.

Hidup tidak akan bermakna jika tidak ada waktu, untuk itu jangan sekali-kali kita menyia-nyiakan waktu, karena menyia-nyiakan waktu sama saja kita menyia-nyiakan umur dan kehidupan kita.

Imam Al-Hasan Al-Basri berkata “Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah kumpulan hari-hari, maka jika hari-hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu”.

Apakah kita akan membiarkan hari-hari kita berlalu tanpa ada hal yang bernilai positif dan bermanfaat? Mari kita renungi bersama, kita berpikir sejenak, sebenarnya tujuan kita hidup di dunia itu untuk apa? Mencari kesenangan dunia kah, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya atau menjadi hamba dunia yang cinta pada kehidupan dunia dan takut mati? Ingat! ingat! Kehidupan dunia itu hanya bersifat sementara, kehidupan dunia itu hanya tipu daya, hanya fatamorgana dalam petikan surat Al-Hadid Allah SWT berfirman : “Wamal hayatuddunyaa illaa mataul ghurur” (dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu).

Jangan sampai kita terpedaya oleh kehidupan dunia, ingat tujuan kita diciptakan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada sang pencipta yaitu Allah SWT dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.

Gunakanlah waktu yang diberikan dengan sebaik-baiknya, optimalkan waktu kita untuk banyak beribadah, buatlah sebuah karya yang akan mengenang nama kita, jika suatu saat maut menjemput dan merenggut secara paksa, setidaknya kita telah melakukan kebaikan dan bekal yang cukup untuk pertemuan kita dengannya, ingat perumpamaan perahu tujuan hidup kita adalah pelabuhan Allah SWT yaitu surga.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdullah Syarif
Lahir di Kabupaten Bekasi, 12 Mei 1993. Pendidikan SD ditempuh 1999-2005, SDN kedung pengawas 04, MTs ditempuh pada tahun 2007-2010 di MTs Az-Ziyadatul Hasanat, selanjutnya SMK ditempuh pada tahun 2011-2013 di SMK Bina Insan Kamil. Sekarang sedang melanjutkan S1 di Fakultas Green Economi And Digital Comunication, jurusan Technopreneurship di Kampus Surya University Serpong Tangerang.

Lihat Juga

Menteri Ini Serukan Rakyat Mesir Utamakan Pekerjaan Daripada Sholat