Home / Berita / Opini / Agama Fitrah, Ahok, dan Idul Fitri

Agama Fitrah, Ahok, dan Idul Fitri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Antara)
Ilustrasi. (Antara)

dakwatuna.com Madrasah Ramadhan telah menghampiri kita beberapa bulan lalu. Seharusnya banyak aspek positif dari puasa dan Ramadhan yang membekas dalam kehidupan kita. Seharusnya saat-saat ini kita sedang menikmati buah-buah Ramadhan, merasakan kebaikannya dalam kehidupan, tak hilang begitu saja bersama kepergiannya.

Tetapi benarkah demikian? Secara jujur memang bisa dikatakan belum sesuai harapan. Masjid-masjid yang kembali sepi, makin jauhnya kita dari Al-Quran serta makin malasnya kita melakukan qiyamul lail menyisakan pertanyaan tentang apa kesalahan kita dalam melewati Ramadhan tersebut.

Teringat beberapa tahun silam, dan hal seperti ini sepertinya masih terus terulang. Dalam sebuah acara kesehatan di televisi, pada hari-hari sehabis Lebaran, rata-rata muncul keluhan yang hampir sama. Jika puasa Ramadhan membuat kondisi kesehatan mereka membaik; membaiknya tekanan darah, kolesterol, kadar gula darah, berbagai gangguan pencernaan, rasanya badan menjadi lebih sehat. Tetapi baru beberapa hari Lebaran keadaan malah menjadi berantakan. Bahkan biasanya hari-hari sehabis Lebaran begitu banyak saudara dan teman kita yang jatuh sakit, membuat rumah sakit penuh sesak, kelelahan oleh hiruk pikuk dalam merayakan Idul Fitri.

Bukankah seharusnya puasa itu menyehatkan? Dampak baik puasa, tak hanya pada aspek rohani saja, tetapi juga pada aspek jasmani, dan memang diakui dari sisi medis bahwa keduanya saling terkait. Dan ketika Lebaran memporak-porandakan itu semua, tentunya ada hal-hal yang salah dan perlu kita perbaiki.

Menarik untuk mencermati gagasan Plt. Gubernur DKI Jakarta Ahok tentang penghapusan cuti bersama Lebaran, sekaligus untuk menyikapinya dengan bijak. Agar tak tergesa-gesa memandang dari perspektif negatif, sebagai kebijakan yang tak akomodatif terhadap umat dan tradisi yang telah berlaku, tetapi juga merespon dari perspektif positif, sebuah kritik untuk perbaikan bagi umat.

Melalui akun twitternya, beberapa waktu lalu Ahok mewacanakan menghapus cuti bersama dilihat dari banyaknya ekses negatif akibat mudik Lebaran. Dalam kicauannya Ahok membeberkan fakta, “Perjalanan mudik Lebaran tahun 2014 merenggut 515 Jiwa, Jumlah yang menderita luka 3.616 orang. Korban tewas dan cedera sebanyak itu akumulasi dari 2.003 kasus kecelakaan lalu lintas. Ini adalah tragedi kemanusiaan, tidak boleh dibiarkan berulang-ulang, Setiap merayakan Lebaran selalu saja terjadi kematian konyol. Lebih-lebih mencapai ratusan orang, Mudik Lebaran 2013 menelan korban 686 orang tewas dan 1.120 orang luka parah. Jumlah yang meregang nyawa tahun 2012 sebanyak 757 orang dan 1.222 luka berat. Korban belum termasuk kerugian materi mulai dari akibat pemborosan bahan bakar minyak sampai dengan lenyap akibat disikat penjahat. Hanya karena demi tradisi silaturahmi di kampung halaman, sebagian dari kita kehilangan akal sehat.”

Dari hal tersebut ia menilai, “Menurut hemat kita, tragedi harus distop, Khusus bagi warga Ibukota Jakarta agar memilih langkah cerdas. Rindu untuk bermaaf-maafan dengan orang-tua atau famili di kampung halaman nun jauh disana tetap bisa dilakukan. Banyak pilihan yang dapat ditempuh, kecanggihan teknologi telepon genggam dan layanan internet adalah solusi yang murah-meriah. Belum juga puas? Pulang kampung menunggu sampai pelayanan kereta api, Bus antarkota-antarprovinsi atau kapal laut normal. Tarifnya murah, tidak rebutan kursi, keamanan-kenyamanan perjalanan terjamin baik, masa depan pun masih tetap milik kita. Peran ulama sebagai agen perubahan sangat diharapkan guna mengikis perilaku mudik yang banyak mudharat. Umat butuh bimbingan spiritual agar terhindar dari pemborosan dan kecelakaan yang mematikan.”

Sebagai solusinya, Ahok menilai pemerintah wajib menghapus sistem cuti bersama bagi PNS. Libur hanya berlaku pada hari Lebaran pertama dan kedua, karena mudik bukanlah bagiannya.

Islam selaras dengan fitrah manusia, meski sering berhadapan dengan realitas ketidaksempurnaan kita-kita umatnya untuk mengaplikasikan nilai-nilainya dalam kehidupan. Sebaliknya, orang-orang yang belum mengenal Islam sepenuhnya, dengan akal pikiran yang dimilikinya sebagai seorang manusia, mampu mengenali bagian-bagian tertentu dari ketidaksempurnaan tersebut, yang bagi kita bisa menjadi koreksi untuk terwujudnya kesempurnaan Islam.

Cara kita menyikapi Idul Fitri yang berlebihan, terjebak dalam hal-hal yang konsumtif dan hura-hura, tentunya bukan ajaran Islam yang sebenarnya. Islam yang sesungguhnya tentunya tidak menghendaki hal-hal demikian. Sebelum orang lain merasakan ketidakbaikan dari Islam, semestinya kita terlebih dahulu bisa merasakan dan memperbaikinya.

Ketika orang lain terganggu oleh berisiknya pengeras suara masjid yang berbunyi hingga larut malam, atau suara berisik membangunkan orang sahur sejak jauh sebelum fajar, sehingga memunculkan wacana pembatasan penggunaan pengeras suara masjid, bukankah sebenarnya kita juga menyadari jika bukan hal-hal semacam itu yang dikehendaki oleh Islam. Cara kita beribadah, berzikir dan mengaji semestinya tidak seperti itu. Banyak di antara kita sendiri yang sebenarnya juga terganggu.

Ketika di antara kita melakukan takbir keliling dengan menggelar arak-arakan di jalan raya, bahkan kebanyakan tidak melantunkan lafaz takbir, malah teriak-teriak dan membunyikan petasan, bersikap ugal-ugalan, kemudian orang lain terganggu dan mewacanakan larangan takbir keliling, semestinya kita lebih dulu mengetahui jika hal-hal demikian bukan ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan kita sendiri juga merasa tidak nyaman oleh tindakan demikian.

Sebelum kita mampu mengaplikasikan Al-Quran dalam kehidupan, kita baru mampu menyetel kaset muratal Al-Quran melalui pengeras suara di masjid. Ketika kita belum mampu menampakkan syiar-syiar Islam yang sesungguhnya, dengan keterbatasannya kita baru bisa menampilkan simbol-simbol yang tak bisa mewakili substansi dari Islam yang sesungguhnya.

Ketika Islam baru bisa muncul dalam wajah ketidaksempurnaannya, tapi dengan ketidaksempurnaan itu Islam menjadi tampak dalam kehidupan. Daripada tidak tampak sama sekali, ketika kita belum bisa menampakkan kesempurnaannya, agar tidak sepenuhnya nihil dalam kehidupan ini. Tetapi upaya menuju kesempurnaan tetap menjadi keniscayaan, bagaimanapun kekurangan tersebut akan menjadi beban bagi agama ini, dan kemudharatannya akan kembali kepada kita juga.

Kritik yang datang dari luar, terlepas dari apapun motifnya, seharusnya kita respon secara positif sebagai upaya perbaikan bagi umat ini. Merupakan sebuah tantangan bagi kita untuk menampilkan Islam dalam wajahnya yang terbaik.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ustadz M Arifin Ilham dan Habib Rizieq Shihab. (Facebook)

Ahok Jadi Tersangka, Ustadz Arifin Ilham: Ini Awal Musibah Bagi Penista Alquran